Fenomena perbedaan pendapat dalam kehidupan sosial kita dewasa ini sering kali berakhir pada perpecahan yang tajam, terutama di ruang digital. Perbedaan yang sejatinya merupakan sunnatullah dan rahmat, kini justru berubah menjadi ladang caci maki dan saling merendahkan. Sebagai umat yang dibekali dengan tuntunan wahyu, kita perlu merenungkan kembali apakah cara kita berselisih sudah mencerminkan kemuliaan akhlak atau justru hanya pemuasan ego yang dibungkus dengan narasi kebenaran. Islam tidak pernah melarang perbedaan pemikiran, namun Islam sangat melarang hilangnya adab dalam proses interaksi tersebut.

Realitas saat ini menunjukkan bahwa banyak orang lebih mementingkan kemenangan argumen daripada keutuhan persaudaraan. Padahal, iman seseorang tidak akan mencapai kesempurnaan jika ia tidak mampu mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri. Dalam sebuah hadis yang sangat masyhur, Rasulullah SAW mengingatkan kita tentang landasan empati dalam berinteraksi:

Dalam Artikel

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

Artinya: Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian hingga ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri. Hadis ini seharusnya menjadi kompas bagi kita dalam berpendapat; jika kita tidak suka dihina atau direndahkan saat salah, maka janganlah kita melakukan hal yang sama kepada orang lain yang berbeda pandangan dengan kita.

Kekritisan dalam berpikir adalah tanda kecerdasan, namun kekritisan tanpa akhlak adalah tanda kesombongan. Para ulama salaf terdahulu telah memberikan teladan luar biasa tentang bagaimana mengelola ikhtilaf atau perbedaan pendapat. Imam Syafii pernah berujar bahwa pendapatnya benar namun mengandung kemungkinan salah, dan pendapat orang lain salah namun mengandung kemungkinan benar. Sikap rendah hati inilah yang hilang dari perdebatan publik kita hari ini, di mana setiap kelompok merasa memegang kunci tunggal kebenaran dan menutup pintu dialog dengan rapat.

Al-Quran telah memberikan peringatan keras agar kita tidak terjebak dalam perilaku merendahkan kelompok lain hanya karena merasa lebih unggul. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Hujurat ayat 11:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّن قَوْمٍ عَسَىٰ أَن يَكُونُوا خَيْرًا مِّنْهُمْ

Artinya: Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, boleh jadi mereka yang diperolok-olokkan itu lebih baik dari mereka yang mengolok-olok. Ayat ini merupakan tamparan keras bagi siapa saja yang menggunakan lisan atau jemarinya untuk meruntuhkan kehormatan sesama Muslim hanya karena perbedaan ijtihad politik, mazhab, atau pandangan sosial.

Lebih jauh lagi, perbedaan pendapat sering kali menjadi pintu masuk bagi setan untuk menanamkan kebencian yang mendalam. Akhlakul karimah menuntut kita untuk tetap berkata baik meskipun dalam posisi menyanggah sebuah pemikiran. Perintah untuk berbicara santun bukan hanya berlaku kepada sesama mukmin, bahkan diperintahkan pula saat menghadapi penguasa yang zalim sekalipun. Jika kepada mereka yang dianggap salah saja kita wajib berkata santun, apalagi kepada saudara seiman yang hanya berbeda sudut pandang dalam urusan cabang atau masalah ijtihadi.