Ilmu tauhid merupakan fondasi utama dalam bangunan keislaman yang menuntut setiap mukallaf untuk mengenal Allah Swt dengan pengenalan yang benar (ma'rifat). Dalam tradisi keilmuan Ahlussunnah wal Jamaah, khususnya madzhab Asy-ariyah dan Maturidiyah, pengenalan ini dirumuskan melalui kategorisasi sifat-sifat wajib bagi Allah yang berjumlah dua puluh. Sifat-sifat ini bukanlah tambahan atas dzat-Nya dalam artian yang terpisah, melainkan atribut kesempurnaan yang melekat pada Dzat Yang Maha Suci. Secara epistemologis, pemahaman terhadap sifat-sifat ini dibagi menjadi empat kategori utama, yaitu Sifat Nafsiyah, Salbiyah, Ma'ani, dan Ma'nawiyah. Penelaahan ini bertujuan untuk membersihkan akal manusia dari tasybih (penyerupaan) dan ta'thil (peniadaan sifat) sehingga mencapai derajat tauhid yang murni.
اللَّهُ وَاجِبُ الْوُجُودِ لِذَاتِهِ، فَلَا يَفْتَقِرُ إِلَى مُوجِدٍ يُوجِدُهُ، وَوُجُودُهُ لَيْسَ مَسْبُوقًا بِعَدَمٍ وَلَا يَلْحَقُهُ فَنَاءٌ. قَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِ: هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ. فَالْأَوَّلُ هُوَ الْقَدِيمُ الَّذِي لَا ابْتِدَاءَ لِوُجُودِهِ، وَالْآخِرُ هُوَ الْبَاقِي الَّذِي لَا انْتِهَاءَ لِوُجُودِهِ، وَهَذَا هُوَ الْفَرْقُ بَيْنَ وُجُودِ الْخَالِقِ وَوُجُودِ الْمَخْلُوقِ الْحَادِثِ.
Terjemahan & Tafsir Mendalam:
Allah adalah Dzat yang Wajibul Wujud (Wajib adanya) dengan Dzat-Nya sendiri, maka Dia tidak membutuhkan pencipta yang mewujudkan-Nya. Keberadaan-Nya tidak didahului oleh ketiadaan dan tidak akan diakhiri oleh kepunahan. Allah Swt berfirman dalam kitab-Nya yang mulia: Dialah Yang Awal, Yang Akhir, Yang Zhahir, dan Yang Batin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. Sifat Al-Awwal bermakna Al-Qadim, yaitu Dzat yang tidak memiliki permulaan bagi keberadaan-Nya. Sifat Al-Akhir bermakna Al-Baqi, yaitu Dzat yang tidak memiliki akhir bagi keberadaan-Nya. Secara filosofis dan teologis, ini menegaskan bahwa Allah adalah penyebab pertama (First Cause) yang tidak membutuhkan penyebab lain, berbeda dengan makhluk yang bersifat hadits (baru) yang keberadaannya bergantung pada kehendak Sang Pencipta.
وَمِنْ صِفَاتِهِ الْعَلِيَّةِ مُخَالَفَتُهُ لِلْحَوَادِثِ، فَلَا يُشْبِهُهُ شَيْءٌ مِنْ مَخْلُوقَاتِهِ لَا فِي الذَّاتِ وَلَا فِي الصِّفَاتِ وَلَا فِي الْأَفْعَالِ. قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ. فَاللَّهُ سُبْحَانَهُ لَيْسَ بِجِسْمٍ مُتَحَيِّزٍ، وَلَا عَرَضٍ يَقُومُ بِالْجِسْمِ، وَلَا يَجْرِي عَلَيْهِ زَمَانٌ، وَلَا يَحْوِيهِ مَكَانٌ، لِأَنَّ الزَّمَانَ وَالْمَكَانَ مِنْ جُمْلَةِ مَخْلُوقَاتِهِ، وَالْخَالِقُ لَا يَفْتَقِرُ إِلَى مَا خَلَقَ.
Terjemahan & Tafsir Mendalam:
Di antara sifat-sifat-Nya yang luhur adalah Mukhalafatuhu lil Hawadith (Berbeda dengan makhluk), maka tidak ada sesuatupun dari makhluk-Nya yang menyerupai-Nya, baik dalam Dzat, Sifat, maupun Perbuatan. Allah Swt berfirman: Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat. Syarah atas prinsip ini menetapkan bahwa Allah bukanlah materi (jisim) yang mengambil ruang, bukan pula aksiden (aradh) yang menempel pada materi. Allah tidak dibatasi oleh waktu dan tidak diliputi oleh tempat, karena waktu dan tempat adalah bagian dari ciptaan-Nya. Seorang mufassir menekankan bahwa ayat ini merupakan fondasi tanzih (penyucian Allah) yang paling kuat untuk menolak segala bentuk antropomorfisme atau penggambaran Allah dengan sifat-sifat kemanusiaan.
تَحَقُّقُ الْوَحْدَانِيَّةِ فِي حَقِّهِ تَعَالَى يَعْنِي أَنَّهُ وَاحِدٌ فِي ذَاتِهِ لَا قَسِيمَ لَهُ، وَوَاحِدٌ فِي صِفَاتِهِ لَا شَبِيهَ لَهُ، وَوَاحِدٌ فِي أَفْعَالِهِ لَا شَرِيكَ لَهُ. وَالدَّلِيلُ الْعَقْلِيُّ عَلَى ذَلِكَ هُوَ بُرْهَانُ التَّمَانُعِ، كَمَا أَشَارَ إِلَيْهِ الْقُرْآنُ: لَوْ كَانَ فِيهِمَا آلِهَةٌ إِلَّا اللَّهُ لَفَسَدَتَا. فَإِنَّ وُجُودَ إِلَهَيْنِ يَقْتَضِي التَّعَارُضَ فِي الْإِرَادَةِ، وَذَلِكَ يُؤَدِّي إِلَى الْعَجْزِ، وَالْعَجْزُ مُحَالٌ عَلَى الْإِلَهِ الْحَقِّ.
Terjemahan & Tafsir Mendalam:

