Ilmu akidah merupakan pondasi utama dalam struktur keislaman seorang hamba. Tanpa pemahaman yang mapan mengenai siapa Tuhan yang disembah, maka ibadah akan kehilangan ruh dan orientasinya. Para ulama mutakallimin, khususnya dari madzhab Asy’ariyah dan Maturidiyah, telah merumuskan konsep sifat dua puluh sebagai metodologi sistematis untuk mengenal Allah Swt (ma’rifatullah). Sifat-sifat ini bukan sekadar hafalan, melainkan representasi dari kesempurnaan mutlak yang wajib ada pada Zat Yang Maha Pencipta. Secara epistemologis, sifat-sifat ini dibagi menjadi empat kategori: Nafsiyah, Salbiyah, Ma’ani, dan Ma’nawiyah. Analisis ini akan membedah bagaimana dalil naqli (teks suci) dan dalil aqli (rasionalitas) bertemu untuk menetapkan keagungan-Nya.

Pembahasan pertama dimulai dengan sifat Nafsiyah, yaitu Wujud. Keberadaan Allah adalah sebuah keniscayaan yang tidak didahului oleh tiada dan tidak akan diakhiri oleh tiada. Alam semesta yang begitu presisi ini merupakan saksi bisu atas eksistensi Sang Pencipta yang bersifat Wajib al-Wujud.

Dalam Artikel

هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ ۖ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

Terjemahan: Dialah Yang Awal, Yang Akhir, Yang Zahir, dan Yang Batin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS. Al-Hadid: 3).

Syarah Mendalam: Ayat ini merupakan landasan fundamental bagi sifat Wujud, Qidam, dan Baqa. Al-Awwal bermakna bahwa Allah ada sebelum segala sesuatu diciptakan tanpa ada permulaan bagi keberadaan-Nya. Al-Akhir menunjukkan bahwa Allah tetap ada setelah seluruh makhluk binasa tanpa ada batas akhir. Sifat Wujud Allah berbeda dengan wujud makhluk; jika wujud makhluk bersifat mungkin (mumkinul wujud) dan bergantung pada sebab lain, maka wujud Allah bersifat esensial (dzati) dan menjadi sebab bagi segala yang ada. Secara rasional, mustahil bagi sebuah sistem (alam) yang teratur muncul dari ketiadaan atau menciptakan dirinya sendiri.

Selanjutnya, kita memasuki ranah sifat Salbiyah, yaitu sifat-sifat yang meniadakan segala atribut yang tidak layak bagi Allah Swt. Di antaranya adalah Qidam (Terdahulu), Baqa (Kekal), dan Mukhalafatu lil Hawaditsi (Berbeda dengan makhluk). Sifat ini menegaskan tanzih atau kesucian Allah dari segala bentuk penyerupaan dengan materi.

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

Terjemahan: Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar dan Maha Melihat. (QS. Ash-Shura: 11).

Syarah Mendalam: Ayat ini mengandung dua pilar tauhid yang sangat penting. Kalimat Laisa kamitslihi syaiun merupakan penegasan mutlak atas sifat Mukhalafatu lil Hawaditsi. Allah tidak menyerupai makhluk-Nya dalam zat, sifat, maupun perbuatan. Dia tidak berarah, tidak bertempat, tidak berdimensi, dan tidak terikat oleh waktu, karena waktu dan tempat adalah makhluk, sedangkan Sang Pencipta tidak mungkin butuh kepada ciptaan-Nya. Kemudian, potongan ayat wa huwas-sami’ul bashir berfungsi untuk menolak pemahaman ta’thil (meniadakan sifat). Meskipun Allah memiliki sifat mendengar dan melihat, hakikat mendengar-Nya tidak menggunakan alat (telinga) dan melihat-Nya tidak menggunakan organ (mata), melainkan sebuah kesempurnaan yang sesuai dengan keagungan-Nya.