Ilmu Tauhid merupakan fondasi utama dalam bangunan keislaman seorang hamba. Tanpa pemahaman yang lurus mengenai siapa Tuhan yang disembahnya, seluruh amal ibadah akan kehilangan poros spiritualnya. Para ulama mutakallimin, khususnya dari madzhab Al-Asy'ariyah dan Al-Maturidiyah, telah merumuskan sistematika pengenalan terhadap Allah Swt melalui klasifikasi Sifat Duapuluh. Pendekatan ini bukan sekadar dogmatis, melainkan sebuah metodologi epistemologis untuk membedakan antara Sang Pencipta (Khaliq) dan yang diciptakan (makhluq). Mengenal sifat-sifat wajib bagi Allah berarti mengakui kesempurnaan mutlak yang layak bagi keagungan-Nya, sekaligus menafikan segala bentuk kekurangan yang mustahil ada pada Zat-Nya. Kajian ini akan menelusuri dimensi Nafsiyah, Salbiyah, Ma'ani, hingga Ma'nawiyah dengan sandaran teks otoritatif.

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ . الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ . وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، الْمُتَّصِفُ بِكُلِّ كَمَالٍ، وَالْمُنَزَّهُ عَنْ كُلِّ نُقْصَانٍ . وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، الصَّادِقُ الْوَعْدِ الْأَمِينُ . أَمَّا بَعْدُ: فَإِنَّ أَوَّلَ وَاجِبٍ عَلَى الْمُكَلَّفِ مَعْرِفَةُ اللَّهِ تَعَالَى بِصِفَاتِهِ الْوَاجِبَةِ، لِيَسْتَقِيمَ إِيمَانُهُ وَيَصِحَّ تَوْحِيدُهُ . قَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْعَزِيزِ: فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ . فَالْعِلْمُ بِتَوْحِيدِ اللَّهِ هُوَ أَصْلُ الدِّينِ وَأَسَاسُ الْيَقِينِ

Dalam Artikel

Terjemahan & Tafsir Mendalam:

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya, yang bersifat dengan segala kesempurnaan dan suci dari segala kekurangan. Aku bersaksi bahwa junjungan kita Nabi Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya yang benar janjinya lagi terpercaya. Adapun setelah itu, sesungguhnya kewajiban pertama bagi setiap mukallaf adalah mengenal Allah Ta'ala melalui sifat-sifat-Nya yang wajib, agar imannya menjadi lurus dan tauhidnya menjadi sah. Allah Ta'ala berfirman dalam kitab-Nya yang mulia: Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Allah (QS. Muhammad: 19). Ayat ini menunjukkan bahwa ilmu tentang tauhid merupakan pokok agama dan landasan keyakinan. Pengetahuan ini mencakup penetapan sifat Wujud (Ada) sebagai Sifat Nafsiyah, yang merupakan hal yang tidak mungkin dipisahkan dari Zat Allah.

الْقِسْمُ الْأَوَّلُ هِيَ الصِّفَاتُ السَّلْبِيَّةُ، وَهِيَ خَمْسُ صِفَاتٍ: الْقِدَمُ، وَالْبَقَاءُ، وَمُخَالَفَتُهُ لِلْحَوَادِثِ، وَقِيَامُهُ بِنَفْسِهِ، وَالْوَحْدَانِيَّةُ . وَمَعْنَى الصِّفَاتِ السَّلْبِيَّةِ هِيَ الَّتِي تَسْلُبُ وَتَنْفِي عَنِ اللَّهِ تَعَالَى مَا لَا يَلِيقُ بِهِ . فَاللَّهُ تَعَالَى قَدِيمٌ لَا ابْتِدَاءَ لِوُجُودِهِ، وَبَاقٍ لَا انْتِهَاءَ لِوُجُودِهِ . قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ ۖ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ . وَقَالَ تَعَالَى: لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ . فَهَذِهِ الْآيَةُ الْكَرِيمَةُ تَنْفِي عَنِ اللَّهِ جَمِيعَ صِفَاتِ الْمَخْلُوقَاتِ مِنَ الْجِسْمِيَّةِ وَالْعَرَضِيَّةِ وَالْجِهَةِ وَالْمَكَانِ

Terjemahan & Tafsir Mendalam:

Bagian pertama adalah Sifat-sifat Salbiyah, yaitu ada lima sifat: Qidam (Dahulu), Baqa (Kekal), Mukhalafatu lil Hawaditsi (Berbeda dengan makhluk), Qiyamuhu Binafsihi (Berdiri sendiri), dan Wahdaniyah (Esa). Makna Sifat Salbiyah adalah sifat-sifat yang menafikan atau meniadakan hal-hal yang tidak layak bagi Allah Ta'ala. Maka Allah Ta'ala adalah Qadim, tidak ada permulaan bagi keberadaan-Nya, dan Baqi, tidak ada akhir bagi keberadaan-Nya. Allah Ta'ala berfirman: Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Zhahir dan Yang Batin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu (QS. Al-Hadid: 3). Dan Dia berfirman: Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat (QS. Ash-Shura: 11). Ayat yang mulia ini menafikan dari Allah segala sifat makhluk, baik itu berupa kebendaan (jism), sifat baru ('aradh), arah, maupun tempat. Inilah puncak dari tanzih (penyucian Tuhan) yang menghindarkan hamba dari paham antropomorfisme (tasybih).

ثُمَّ الصِّفَاتُ الَّتِي تُسَمَّى بِصِفَاتِ الْمَعَانِي، وَهِيَ سَبْعُ صِفَاتٍ وُجُودِيَّةٍ قَائِمَةٍ بِذَاتِ اللَّهِ تَعَالَى، وَهِيَ: الْقُدْرَةُ، وَالْإِرَادَةُ، وَالْعِلْمُ، وَالْحَيَاةُ، وَالسَّمْعُ، وَالْبَصَرُ، وَالْكَلَامُ . فَاللَّهُ تَعَالَى قَادِرٌ عَلَى كُلِّ مُمْكِنٍ، وَمُرِيدٌ لِكُلِّ مَا يَجْرِي فِي الْكَوْنِ . قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: إِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ . وَقَالَ عَزَّ وَجَلَّ: فَعَّالٌ لِمَا يُرِيدُ . فَلَا يَقَعُ فِي مُلْكِهِ إِلَّا مَا أَرَادَهُ، وَلَا يَعْزُبُ عَنْ عِلْمِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ فِي السَّمَاوَاتِ وَلَا فِي الْأَرْضِ . وَكَلَامُهُ تَعَالَى قَدِيمٌ لَيْسَ بِحَرْفٍ وَلَا صَوْتٍ، مُنَزَّهٌ عَنِ التَّقَدُّمِ وَالتَّأَخُّرِ وَالتَّرْتِيبِ

Terjemahan & Tafsir Mendalam: