Ma’rifatullah atau mengenal Allah merupakan pilar utama dalam bangunan keislaman seorang hamba. Tanpa pengenalan yang benar terhadap Sang Khalik, ibadah seseorang berisiko terjebak dalam tasybih (menyerupakan Allah dengan makhluk) atau ta’thil (meniadakan sifat-sifat Allah). Dalam tradisi keilmuan Islam, khususnya yang dirumuskan oleh Imam Abu al-Hasan al-Asy’ari dan Imam Abu Mansyur al-Maturidi, para ulama telah mengklasifikasikan sifat-sifat Allah ke dalam kategori yang sistematis guna memudahkan umat dalam memahami keagungan-Nya. Sifat-sifat ini bukanlah tambahan atas zat-Nya, melainkan sifat yang niscaya dan qadim yang melekat pada Zat Yang Maha Suci. Pembahasan ini akan membedah secara filosofis dan teologis mengenai klasifikasi sifat Nafsiyah, Salbiyah, Ma’ani, dan Ma’nawiyah.

الْوُجُودُ هُوَ صِفَةٌ نَفْسِيَّةٌ لَا يُعْقَلُ الذَّاتُ بِدُونِهَا، وَهُوَ أَوَّلُ الْوَاجِبَاتِ فِي حَقِّ اللهِ تَعَالَى، إِذْ لَا يَتَصَوَّرُ عَقْلٌ سَلِيمٌ وُجُودَ أَثَرٍ بِدُونِ مُؤَثِّرٍ، وَلَا خَلْقٍ بِدُونِ خَالِقٍ، فَاللهُ تَعَالَى هُوَ الْوَاجِبُ الْوُجُودِ لِذَاتِهِ، وَوُجُودُهُ لَيْسَ لَهُ عِلَّةٌ وَلَا سَبَبٌ، بَلْ هُوَ الْأَوَّلُ قَبْلَ كُلِّ شَيْءٍ وَالْآخِرُ بَعْدَ كُلِّ شَيْءٍ.

Dalam Artikel

Terjemahan & Tafsir Mendalam: Sifat Wujud (Ada) dikategorikan sebagai Sifat Nafsiyah, yaitu sifat yang berhubungan dengan zat Allah itu sendiri tanpa adanya penambahan makna lain. Secara logika aqliyah, keberadaan alam semesta yang bersifat mungkin (mungkinul wujud) meniscayakan adanya Pencipta yang bersifat wajib (wajibul wujud). Allah ada bukan karena diciptakan, dan keberadaan-Nya mendahului segala sesuatu yang bersifat temporal. Dalam kacamata mufassir, ayat-ayat kauniyah di semesta ini adalah burhan atau bukti nyata bahwa ketiadaan Tuhan adalah sebuah kemustahilan akal yang nyata.

الْقِدَمُ وَالْبَقَاءُ وَالْمُخَالَفَةُ لِلْحَوَادِثِ وَالْقِيَامُ بِالنَّفْسِ وَالْوَحْدَانِيَّةُ، هِيَ صِفَاتٌ سَلْبِيَّةٌ تَسْلُبُ عَنِ اللهِ تَعَالَى مَا لَا يَلِيقُ بِجَلَالِهِ، فَلَيْسَ لَهُ ابْتِدَاءٌ وَلَا انْتِهَاءٌ، وَلَا يُشْبِهُ خَلْقَهُ فِي ذَاتِهِ أَوْ صِفَاتِهِ أَوْ أَفْعَالِهِ، فَهُوَ الْغَنِيُّ عَنِ الْعَالَمِينَ، وَالْوَاحِدُ الَّذِي لَا شَرِيكَ لَهُ فِي مُلْكِهِ وَلَا مُعِينَ لَهُ فِي صُنْعِهِ.

Terjemahan & Tafsir Mendalam: Lima sifat ini disebut Sifat Salbiyah, yang berfungsi meniadakan atau menafikan segala kekurangan yang tidak layak bagi keagungan Allah. Qidam berarti tidak ada permulaan bagi keberadaan-Nya, sedangkan Baqa berarti tidak ada kesudahan bagi-Nya. Mukhalafatu lil Hawaditsi menegaskan bahwa Allah mutlak berbeda dengan makhluk dalam segala aspek; jika manusia membutuhkan ruang dan waktu, maka Allah adalah pencipta ruang dan waktu tersebut. Qiyamuhu Binafsihi menunjukkan kemandirian mutlak-Nya, dan Wahdaniyah mengukuhkan keesaan-Nya yang tidak terbagi-bagi, baik dalam zat, sifat, maupun perbuatan-Nya.

الْقُدْرَةُ وَالْإِرَادَةُ هُمَا صِفَتَانِ قَدِيمَتَانِ قَائِمَتَانِ بِذَاتِهِ تَعَالَى، تُخَصِّصُ الْإِرَادَةُ الْمُمْكِنَ بِبَعْضِ مَا يَجُوزُ عَلَيْهِ مِنَ الصِّفَاتِ وَالْأَزْمَانِ، وَتُوجِدُ الْقُدْرَةُ الْمُمْكِنَاتِ عَلَى وَفْقِ الْعِلْمِ وَالْإِرَادَةِ، فَلَا يَقَعُ فِي مُلْكِهِ إِلَّا مَا أَرَادَ وَشَاءَ، وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ.

Terjemahan & Tafsir Mendalam: Qudrah (Kuasa) dan Iradah (Kehendak) termasuk dalam Sifat Ma’ani, yaitu sifat-sifat abstrak yang ada pada zat Allah yang memberikan dampak pada makhluk. Iradah berfungsi sebagai penentu (takhshish) atas segala kemungkinan, misalnya menentukan seseorang lahir di waktu dan tempat tertentu. Setelah Iradah menetapkan, maka Qudrah-lah yang mewujudkannya (ijad). Analisis teologis menunjukkan bahwa tidak ada satu zarah pun yang bergerak di alam semesta ini tanpa sinkronisasi antara kehendak azali Allah dengan kekuasaan-Nya yang tak terbatas.

الْعِلْمُ وَالْحَيَاةُ صِفَتَانِ تَلَازَمَانِ الْكَمَالَ الْإِلَهِيَّ، فَاللهُ تَعَالَى عَالِمٌ بِكُلِّ شَيْءٍ، لَا يَعْزُبُ عَنْهُ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ فِي السَّمَاوَاتِ وَلَا فِي الْأَرْضِ، يَعْلَمُ السِّرَّ وَأَخْفَى، وَهُوَ الْحَيُّ الَّذِي لَا يَمُوتُ، وَحَيَاتُهُ مُنَزَّهَةٌ عَنِ الرُّوحِ وَالْجَسَدِ وَالْأَغْرَاضِ، بَلْ هِيَ صِفَةٌ تُصَحِّحُ لِمَنْ قَامَتْ بِهِ أَنْ يَتَّصِفَ بِالْعِلْمِ وَالْقُدْرَةِ.

Terjemahan & Tafsir Mendalam: Sifat Ilmu menunjukkan bahwa pengetahuan Allah meliputi segala hal, baik yang nyata maupun yang gaib, yang sudah terjadi maupun yang akan terjadi. Berbeda dengan ilmu makhluk yang didapat melalui proses belajar atau panca indera, ilmu Allah adalah qadim dan syamil (menyeluruh). Sementara itu, Hayat (Hidup) adalah sifat yang menjadi syarat bagi tegaknya sifat-sifat kesempurnaan lainnya. Allah Maha Hidup dengan kehidupan yang hakiki, tidak diawali dengan kelahiran dan tidak diakhiri dengan kematian, serta tidak membutuhkan oksigen maupun nutrisi sebagaimana makhluk hidup.