Dalam diskursus teologi Islam, doa bukan sekadar permohonan hamba kepada Pencipta, melainkan sebuah manifestasi tertinggi dari penghambaan (al-ubudiyyah). Secara epistemologis, doa adalah jembatan antara keterbatasan makhluk dan kemahakuasaan Khaliq. Para ulama mufassir dan muhaddits telah bersepakat bahwa meskipun Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Mendengar setiap saat, Beliau secara hikmah menetapkan dimensi waktu dan keadaan tertentu yang memiliki nilai akselerasi lebih tinggi dalam pengabulan doa. Hal ini bukan berarti Allah terikat oleh waktu, melainkan sebuah bentuk pemuliaan terhadap momentum-momentum spiritual yang telah Dia tetapkan sendiri. Memahami waktu-waktu mustajab memerlukan kedalaman pemahaman terhadap teks-teks wahyu agar seorang mukmin dapat menempatkan permohonannya pada gerbang-gerbang langit yang sedang terbuka lebar.

يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ يَقُولُ مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ

Dalam Artikel

Terjemahan & Tafsir Mendalam Blok 1:

Teks di atas merupakan hadits muttafaq alaih yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengabarkan bahwa Rabb kita Tabaraka wa Ta’ala turun ke langit dunia pada setiap malam ketika tersisa sepertiga malam terakhir. Allah kemudian berfirman: Barangsiapa yang berdoa kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan; barangsiapa yang meminta kepada-Ku, niscaya Aku beri; dan barangsiapa yang memohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku ampuni. Secara analisis syarah hadits, para ulama menekankan bahwa istilah nuzul (turun) di sini wajib diimani tanpa melakukan tasybih (penyerupaan dengan makhluk) atau takyif (menanyakan bagaimananya). Sepertiga malam terakhir adalah waktu di mana hiruk-pikuk dunia mereda, menyisakan keikhlasan murni antara hamba dan Tuhannya. Pada saat inilah konsentrasi spiritual mencapai puncaknya, dan Allah membuka pintu kedermawanan-Nya secara khusus bagi mereka yang rela meninggalkan tempat tidur demi bersimpuh di hadapan-Nya.

فِيهِ سَاعَةٌ لاَ يُوَافِقُهَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ وَهُوَ قَائِمٌ يُصَلِّي يَسْأَلُ اللَّهَ تَعَالَى شَيْئًا إِلاَّ أَعْطَاهُ إِيَّاهُ وَأَشَارَ بِيَدِهِ يُقَلِّلُهَا

Terjemahan & Tafsir Mendalam Blok 2:

Hadits ini merujuk pada keistimewaan hari Jumat, yang dikenal sebagai Sayyidul Ayyam (pemimpin hari-hari). Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menyebutkan bahwa pada hari Jumat terdapat satu waktu yang tidaklah seorang hamba muslim mendapatinya dalam keadaan shalat dan memohon sesuatu kepada Allah, melainkan Allah akan mengabulkan permintaannya. Beliau memberikan isyarat dengan tangannya bahwa waktu tersebut sangatlah singkat. Dalam analisis fiqih hadits, terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama mengenai kapan tepatnya waktu singkat tersebut. Imam Ahmad bin Hanbal dan mayoritas ulama berpendapat bahwa waktu itu berada setelah ashar hingga terbenamnya matahari. Namun, ada pula yang berpendapat saat imam duduk di antara dua khutbah. Kedalaman makna dari penyembunyian waktu spesifik ini adalah agar umat Islam senantiasa menjaga seluruh waktu di hari Jumat dengan zikir dan doa, sebagaimana hikmah disembunyikannya Lailatul Qadar di sepuluh malam terakhir Ramadhan.

الدُّعَاءُ بَيْنَ الأَذَانِ وَالإِقَامَةِ لاَ يُرَدُّ فَقَالُوا فَمَاذَا نَقُولُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ سَلُوا اللَّهَ الْعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ

Terjemahan & Tafsir Mendalam Blok 3: