Disiplin ilmu akidah atau yang sering disebut sebagai Ilm Al-Kalam merupakan fondasi utama dalam bangunan keislaman seorang hamba. Tanpa pemahaman yang mapan mengenai siapa Tuhan yang disembahnya, maka peribadatan seseorang akan kehilangan ruh dan arah. Para ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah, khususnya dari madrasah Asy’ariyah dan Maturidiyah, telah merumuskan metodologi sistematis untuk mengenal Allah melalui kategori Sifat 20. Sifat-sifat ini bukanlah pembatasan terhadap kesempurnaan Allah yang tidak terbatas, melainkan sebuah perangkat epistemologis agar akal manusia yang terbatas mampu menangkap hakikat ketuhanan secara benar dan terhindar dari tasybih (penyerupaan) maupun ta’thil (peniadaan). Pemahaman ini dimulai dari pengakuan atas eksistensi Allah yang bersifat mutlak dan mandiri.

اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ

Dalam Artikel

Terjemahan & Tafsir Mendalam: Allah, tidak ada Tuhan melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa'at di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar. (QS. Al-Baqarah: 255). Ayat ini merupakan basis utama dari sifat Wujud, Hayat, Qayyumiyah (Qiyamuhu Binafsihi), dan Ilmu. Secara ontologis, Allah adalah Al-Hayyu, yang berarti hidup-Nya adalah sumber bagi segala kehidupan, bersifat azali dan abadi tanpa didahului oleh ketiadaan. Sifat Qayyumiyah menegaskan bahwa Allah berdiri sendiri tanpa membutuhkan ruang, waktu, maupun bantuan dari makhluk-Nya, yang dalam teologi Islam disebut sebagai Sifat Salbiyah karena menafikan segala bentuk ketergantungan.

Langkah berikutnya dalam mengenal Allah adalah memahami bahwa keberadaan-Nya mendahului segala sesuatu yang diciptakan. Dalam logika ketuhanan, mustahil bagi pencipta memiliki titik awal, karena jika Ia memiliki awal, maka Ia membutuhkan pencipta lain, dan hal ini akan menyebabkan tasalsul (mata rantai tanpa ujung) yang mustahil secara akal. Oleh karena itu, sifat Qidam (Dahulu) dan Baqa’ (Kekal) menjadi keniscayaan bagi Dzat yang Maha Tinggi. Allah tidak terikat oleh dimensi waktu yang merupakan makhluk ciptaan-Nya sendiri.

هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

Terjemahan & Tafsir Mendalam: Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Zhahir dan Yang Bathin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS. Al-Hadid: 3). Ulama mufassir menjelaskan bahwa Al-Awwal berarti keberadaan Allah tidak didahului oleh ketiadaan (Qidam), sedangkan Al-Akhir berarti keberadaan-Nya tidak diakhiri oleh kepunahan (Baqa’). Sifat ini membedakan secara tegas antara Khaliq (Pencipta) dan Makhluk (Ciptaan). Makhluk bersifat Hadits (baru), yang berarti pernah tidak ada lalu menjadi ada. Sementara Allah bersifat Qadim, yang berarti eksistensi-Nya adalah sebuah keniscayaan dzatiyah yang tidak terpengaruh oleh hukum perubahan. Pengetahuan Allah (Al-Ilm) dalam ayat ini juga mencakup segala sesuatu secara menyeluruh (Kulli) maupun mendetail (Juz’i), melampaui batasan ruang dan waktu yang kita fahami.

Ketidaksamaan Allah dengan makhluk-Nya merupakan prinsip utama dalam menjaga kemurnian tauhid. Sifat Mukhalafatu lil Hawaditsi menegaskan bahwa Allah tidak menyerupai apapun dalam Dzat, Sifat, maupun Perbuatan-Nya. Jika manusia memiliki tangan dalam arti fisik, maka Allah tidak demikian. Segala atribut yang secara tekstual tampak menyerupai makhluk dalam Al-Quran harus dipahami melalui pendekatan Tanzih (mensucikan Allah dari sifat kekurangan) atau melalui Takwil yang sesuai dengan keagungan-Nya. Inilah benteng utama dari paham antropomorfisme yang membayangkan Tuhan dalam bentuk materi.

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

Terjemahan & Tafsir Mendalam: Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar dan Maha Melihat. (QS. Ash-Shura: 11). Ayat ini mengandung dua bagian krusial. Bagian pertama, Laisa Kamitslihi Syai’un, adalah negasi total terhadap segala bentuk penyerupaan. Huruf Kaf dalam ayat ini berfungsi sebagai penekanan (Lid-Taukid) bahwa kemiripan dalam bentuk apapun adalah mustahil. Bagian kedua, Wa Huwas Sami’ul Bashir, menetapkan bahwa Allah memiliki sifat Sama’ (Mendengar) dan Bashar (Melihat). Namun, pendengaran dan penglihatan Allah tidak menggunakan organ biologis seperti telinga atau mata, melainkan merupakan sifat Ma’ani yang melekat pada Dzat-Nya yang suci. Pendengaran-Nya menjangkau segala suara dan bisikan, sementara penglihatan-Nya menembus segala kegelapan dan kegaiban.