Ilmu Tauhid merupakan fondasi utama dalam bangunan keislaman seorang hamba, di mana pengenalan terhadap Sang Khaliq (Ma’rifatullah) menjadi titik tolak segala bentuk peribadatan. Dalam tradisi keilmuan Ahlussunnah wal Jamaah, khususnya melalui madrasah Asy’ariyah dan Maturidiyah, para ulama telah merumuskan sifat-sifat yang wajib bagi Allah Swt sebagai sarana untuk memahami keagungan-Nya secara sistematis. Sifat-sifat ini bukanlah tambahan atas zat-Nya dalam arti yang terpisah, melainkan atribut kesempurnaan yang niscaya ada pada Zat yang Maha Qadim. Memahami sifat-sifat ini menuntut ketajaman akal yang dibimbing oleh wahyu, guna menghindari pemahaman yang menyerupakan Allah dengan makhluk (tasybih) atau meniadakan sifat-sifat-Nya (ta’thil).
Pondasi pertama dalam memahami ketuhanan adalah mengakui eksistensi Allah sebagai Wujud yang hakiki. Sifat Nafsiyah ini menegaskan bahwa Allah itu ada tanpa didahului oleh tiada. Keberadaan-Nya adalah keniscayaan logis dan teologis yang menjadi sumber bagi segala yang ada di alam semesta ini.
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ . فَاطِرُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ جَعَلَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا وَمِنَ الْأَنْعَامِ أَزْوَاجًا يَذْرَؤُكُمْ فِيهِ لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ . هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
Terjemahan dan Tafsir Mendalam:
Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (QS. Asy-Syura: 11). Ayat ini merupakan kaidah fundamental dalam ilmu akidah yang menetapkan sifat Mukhalafatu lil Hawaditsi (Berbeda dengan makhluk). Para mufassir menjelaskan bahwa kata Laisa kamislihi syaiun meniadakan segala bentuk keserupaan, baik dari segi zat, sifat, maupun perbuatan. Allah adalah Al-Awwal (Yang Maha Awal tanpa permulaan) yang merujuk pada sifat Qidam, dan Al-Akhir (Yang Maha Akhir tanpa penghabisan) yang merujuk pada sifat Baqa. Eksistensi Allah bersifat mandiri (Qiyamuhu Binafsihi), tidak membutuhkan ruang, waktu, maupun pencipta, karena Dialah pencipta ruang dan waktu itu sendiri.
Setelah menetapkan kesucian Zat Allah dari segala kekurangan, pembahasan beralih pada Sifat Ma’ani, yaitu sifat-sifat yang berdiri pada Zat Allah yang memberikan pengaruh pada ciptaan-Nya. Di antaranya adalah Qudrat (Kuasa) dan Iradat (Kehendak). Segala sesuatu yang terjadi di jagat raya ini, mulai dari pergerakan atom hingga orbit galaksi, berada di bawah kendali mutlak kekuasaan dan kehendak-Nya.
إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ . فَمَنْ يُرِدِ اللَّهُ أَنْ يَهْدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ وَمَنْ يُرِدْ أَنْ يُضِلَّهُ يَجْعَلْ صَدْرَهُ ضَيِّقًا حَرَجًا كَأَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِي السَّمَاءِ . وَاللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
Terjemahan dan Tafsir Mendalam:
Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: Jadilah! Maka terjadilah ia. (QS. Yasin: 82). Ayat ini menegaskan kedaulatan Iradat Allah yang bersifat Tanfizi (eksekutif). Dalam diskursus teologis, Iradat Allah bersifat Azali, menentukan segala kemungkinan (mumkinat) untuk menjadi ada atau tetap tiada. Kekuasaan Allah (Qudrat) kemudian merealisasikan apa yang telah ditetapkan oleh Iradat tersebut. Tidak ada paksaan bagi Allah dalam bertindak, dan tidak ada satu pun dzarrah di alam semesta ini yang keluar dari cakupan kekuasaan-Nya. Hal ini mematahkan argumen kaum filosof yang menganggap alam terjadi secara otomatis (thabi'iyyah) tanpa campur tangan kehendak Sang Pencipta.

