Dalam diskursus teologi Islam atau yang akrab disebut dengan Ilmu Kalam, pemahaman mengenai eksistensi dan esensi Allah Subhanahu wa Ta'ala merupakan fondasi utama yang menentukan validitas keimanan seorang mukallaf. Para ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah, khususnya dari madzhab Asy-Sya'irah dan Al-Maturidiyyah, telah merumuskan metodologi yang sangat sistematis dalam mengklasifikasikan sifat-sifat yang wajib bagi Allah. Sifat-sifat ini bukanlah batasan terhadap keagungan-Nya, melainkan sebuah perangkat epistemologis bagi akal manusia untuk mengenal Sang Pencipta (Ma'rifatullah) secara benar, terhindar dari jurang penyerupaan (tashbih) maupun penafian sifat (ta'til). Melalui pendekatan dalil aqli (rasional) yang bersendikan dalil naqli (Al-Quran dan Al-Hadits), kajian ini akan membedah secara mendalam lima sifat wajib utama yang merepresentasikan keagungan mutlak Allah Subhanahu wa Ta'ala.

[TEKS ARAB BLOK 1]

Dalam Artikel

ذَٰلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمْ ۖ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ فَاعْبُدُوهُ ۚ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ وَكِيلٌ

[Terjemahan & Tafsir Mendalam Blok 1]

Terjemahan: Itulah Allah, Tuhan kamu; tidak ada tuhan selain Dia; Pencipta segala sesuatu, maka sembahlah Dia; dan Dia adalah Pemelihara segala sesuatu. (Surah Al-An'am, Ayat 102)

Syarah dan Tafsir:

Ayat ini merupakan landasan ontologis bagi sifat wajib yang pertama, yaitu Wujud (Ada). Dalam sistematika teologi Islam, Wujud dikategorikan sebagai Sifat Nafsiyyah, yaitu sifat yang menunjuk pada esensi (Dzat) Allah itu sendiri tanpa adanya tambahan maknawi pada Dzat tersebut. Secara epistemologis, para mufassir dan teolog menjelaskan bahwa eksistensi Allah adalah Wajib al-Wujud (Eksistensi yang Niscaya), berbeda dengan alam semesta yang berstatus Mumkin al-Wujud (Eksistensi yang Mungkin).

Ketika Allah menyatakan diri-Nya sebagai Khaliqu kulli shay'in (Pencipta segala sesuatu), akal manusia dituntun untuk memahami dalil huduth (kebaharuan alam). Setiap yang baru (hadith) pasti membutuhkan