Keimanan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala merupakan fondasi utama dalam bangunan Islam. Untuk mencapai tingkat makrifat atau pengenalan yang hakiki terhadap Sang Pencipta, para ulama mutakallimin (ahli kalam) dari mazhab Asy'ariyah dan Maturidiyah telah merumuskan metodologi sistematis dalam memahami sifat-sifat Allah. Kajian ini bukan sekadar dogmatika kering, melainkan sebuah ikhtiar intelektual untuk menjaga kemurnian tauhid dari dua ekstremitas: tasybih (menyerupakan Allah dengan makhluk) dan ta'til (menafikan sifat-sifat Allah). Melalui pendekatan integratif antara dalil naqli (Al-Quran dan Sunnah) serta dalil aqli (rasionalitas murni), para ulama membagi sifat-sifat wajib bagi Allah ke dalam empat kategori utama, yaitu sifat Nafsiyah, Salbiyah, Ma'ani, dan Ma'nawiyah. Pemahaman mendalam mengenai sifat-sifat ini sangat penting untuk membangun kesadaran spiritual yang kokoh dan rasional di tengah arus pemikiran modern yang materialistik.

Kategori pertama dalam diskursus sifat wajib adalah sifat Nafsiyah, yaitu sifat yang berhubungan dengan zat Allah itu sendiri, yang dengannya zat tersebut ada. Sifat Nafsiyah hanya berjumlah satu, yaitu Wujud (Ada). Keberadaan Allah adalah sebuah keniscayaan mutlak (Wajib al-Wujud), yang tidak membutuhkan pencipta atau sebab eksternal apa pun untuk mengaktualisasikannya. Secara epistemologis, keberadaan alam semesta yang bersifat baru (hadits) dan penuh dengan keteraturan merupakan bukti rasional yang tidak terbantahkan atas eksistensi Sang Pencipta yang Maha Esa.

Dalam Artikel

أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِالْحَقِّ إِنْ يَشَأْ يُذْهِبْكُمْ وَيَأْتِ بِخَلْقٍ جَدِيدٍ وَمَا ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ بِعَزِيزٍ

Terjemahan: Tidakkah kamu memperhatikan, bahwa sesungguhnya Allah telah menciptakan langit dan bumi dengan hak? Jika Dia menghendaki, niscaya Dia membinasakan kamu dan mengganti(mu) dengan makhluk yang baru, dan yang demikian itu sekali-kali tidak sukar bagi Allah. (QS. Ibrahim: 19-20)

Syarah dan Tafsir:

Dalam ayat ini, Allah Swt menantang nalar manusia untuk mengobservasi penciptaan langit dan bumi. Penggunaan frasa bil-haqq (dengan hak/kebenaran) menunjukkan bahwa penciptaan alam semesta ini didasarkan pada hikmah dan tujuan yang nyata, bukan sebuah kebetulan kosmis. Secara teologis, keteraturan makrokosmos ini menjadi dalil huduth (kebaruan alam), di mana setiap sesuatu yang baru pasti membutuhkan pencipta (muhdits). Keberadaan pencipta tersebut haruslah bersifat wajib adanya (Wajib al-Wujud). Jika pencipta itu tidak ada (عدم), maka mustahil alam semesta yang kompleks ini bisa terwujud dari ketiadaan. Oleh karena itu, sifat Wujud bagi Allah adalah fondasi dari seluruh sifat-sifat kesempurnaan lainnya.

Setelah menetapkan sifat Nafsiyah, para ulama menjelaskan sifat Salbiyah. Sifat Salbiyah adalah sifat-sifat yang berfungsi untuk menafikan atau menolak segala hal yang tidak layak bagi keagungan Allah Swt. Sifat ini terdiri dari Qidam (Terdahulu tanpa permulaan) dan Baqa (Kekal tanpa akhir). Kedua sifat ini menegaskan bahwa Allah berada di luar dimensi waktu yang mengikat makhluk. Allah tidak diawali oleh ketiadaan dan tidak akan diakhiri oleh kepunahan.

هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

Terjemahan: Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Zhahir dan Yang Bathin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS. Al-Hadid: 3)