Pernah gak sih kamu lagi asyik scrolling TikTok atau Instagram, terus tiba-tiba dada terasa sesak? Di sebelah sana ada teman seangkatan yang baru aja keterima kerja di perusahaan multinasional, di sebelah sini ada yang posting foto nikahan estetik, dan di story lain ada yang lagi liburan ke luar negeri. Seketika, pikiran kita langsung traveling ke mana-mana, membandingkan hidup sendiri yang rasanya jalan di tempat. Fenomena FOMO atau Fear of Missing Out dan quarter-life crisis ini emang jadi makanan sehari-hari buat generasi Gen Z dan Millennial. Rasa cemas akan masa depan, takut gak sukses, dan kesepian sering banget bikin mental health kita drop. Tapi tenang, sebagai Muslim muda yang cerdas, kita punya cara healing terbaik yang langsung diresepkan oleh Sang Pencipta.
Langkah pertama untuk mengatasi kecemasan ini adalah dengan meredefinisi standar sukses kita. Dunia sering kali mendikte bahwa sukses itu harus punya karier mapan di usia 25, mobil mewah, atau feeds media sosial yang serba estetik. Padahal, Allah sudah mendesain porsi ujian dan rezeki setiap hamba-Nya dengan sangat presisi, tidak akan tertukar dan tidak akan terlambat. Ketika beban ekspektasi sosial ini mulai terasa menghimpit dada, ingatlah janji Allah yang sangat menenangkan ini:
لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا
Artinya: Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. (QS. Al-Baqarah: 286)
Ayat ini adalah self-healing terbaik. Allah tahu kapasitas mental dan fisik kita. Kalau saat ini kamu merasa sedang diuji dengan ketidakpastian masa depan atau patah hati karena ekspektasi, itu tanda bahwa kamu dinilai mampu oleh Allah untuk melewati fase ini. Kamu gak sedang tertinggal, kamu cuma sedang berjalan di timeline yang sudah Allah rancang seindah mungkin untukmu.
Langkah praktis kedua adalah dengan membatasi screen time dan menggantinya dengan heart connection bersama Allah. Saat kita terlalu banyak mengonsumsi kehidupan orang lain, kita lupa bersyukur atas apa yang ada di genggaman kita. Coba deh, kurangi scrolling yang bikin insecure, lalu ambil wudhu, duduk tenang, dan mulailah berzikir. Ketika hati kita terhubung kembali dengan pemilik semesta, semua kebisingan dunia itu akan meredup dengan sendirinya. Allah berfirman:
أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
Artinya: Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram. (QS. Ar-Ra'd: 28)
Zikir bukan cuma sekadar ucapan di bibir, tapi sebuah afirmasi positif bahwa ada kekuatan yang maha besar yang sedang menjaga hidup kita. Jadi, saat overthinking mulai menyerang di malam hari, alihkan pikiran negatif itu dengan memperbanyak istighfar dan selawat.

