Zaman sekarang, siapa sih yang nggak akrab sama istilah FOMO alias Fear of Missing Out? Tiap kali buka handphone, bawaannya pengen scrolling media sosial terus. Tapi ujung-ujungnya, malah bikin kita overthinking. Lihat pencapaian orang lain yang seumuran, rasanya kok hidup kita gini-gini aja ya? Belum lagi urusan relasi dan masa depan yang sering bikin cemas setengah mati. Fenomena ini relate banget sama kesehatan mental generasi kita yang gampang rapuh karena terus-menerus membandingkan diri dengan standar dunia maya.

Poin 1: Menemukan Ketenangan di Tengah Badai Informasi

Dalam Artikel

Kita sering lupa kalau obat terbaik buat hati yang lagi cemas itu bukan liburan mahal atau belanja barang branded, melainkan jeda sejenak untuk mengingat Sang Pencipta. Ketika timeline sosmed udah mulai toxic dan bikin dada sesak, saatnya kita melakukan digital detox dan beralih ke sajadah. Allah Subhanahu wa Ta'ala sudah memberikan resep paling ampuh untuk menenangkan jiwa kita dalam Al-Qur'an:

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

Artinya: Yaitu orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram. (QS. Ar-Ra'd: 28).

Mengingat Allah di sini bisa lewat dzikir sederhana setelah sholat, atau sekadar menyadari bahwa semua skenario hidup kita sudah diatur dengan sangat rapi oleh-Nya. Jadi, nggak perlu lagi deh insecure sama pencapaian estetik orang lain di feeds mereka.

Poin 2: Melepaskan Beban Kecemasan Lewat Doa Terbaik

Selain berusaha membatasi screen time, self-healing terbaik bagi seorang Muslim adalah dengan menumpahkan segala keluh kesah langsung kepada pemilik semesta. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengajarkan kita sebuah doa yang sangat powerful untuk mengatasi rasa cemas dan sedih akibat overthinking. Yuk, coba rutinkan doa ini setiap pagi dan petang:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ