Ibadah shalat merupakan tiang penyangga agama sekaligus sarana komunikasi spiritual tertinggi antara seorang hamba dengan Penciptanya. Namun, esensi shalat tidak sekadar terletak pada gerakan lahiriah yang memenuhi rukun-rukun fiqih, melainkan pada kehadiran hati secara utuh yang diistilahkan sebagai khusyu. Khusyu adalah ruh dari shalat; tanpanya, shalat bagaikan jasad yang mati tanpa nyawa. Para ulama salaf terdahulu sangat memperhatikan dimensi batiniah ini, sebab khusyu bukan sekadar pelengkap, melainkan parameter utama diterima dan berfungsinya suatu ibadah di sisi Allah Subhanahu wa Ta'ala. Untuk memahami bagaimana khusyu dapat dicapai secara metodologis, kita perlu membedah nash-nash syar'i, baik dari ayat Al-Quran maupun hadits-hadits nabawi, guna merumuskan panduan praktis yang berlandaskan khazanah keilmuan Islam klasik.

[TEKS ARAB BLOK 1]

Dalam Artikel

Landasan utama mengenai urgensi khusyu dalam shalat dapat kita temukan dalam pembukaan Surah Al-Mu'minun. Di sini, Allah Subhanahu wa Ta'ala mengaitkan keberuntungan mutlak bagi orang-orang beriman dengan sifat khusyu di dalam shalat mereka. Hal ini menunjukkan bahwa khusyu bukanlah perkara sunnah yang remeh, melainkan sifat utama yang membedakan mukmin sejati dari yang lainnya.

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ

Terjemahan: Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, yaitu orang-orang yang khusyu dalam shalatnya. (QS. Al-Mu'minun: 1-2)

Syarah dan Tafsir