Ilmu tauhid merupakan fondasi utama dalam bangunan syariat Islam yang mengarahkan seorang hamba untuk mengenal Penciptanya dengan pengenalan yang benar (Ma’rifatullah). Secara epistemologis, para ulama Ahlussunnah wal Jamaah, khususnya dalam tradisi Asy’ariyyah dan Maturidiyyah, telah merumuskan sistematika pemahaman terhadap hakikat ketuhanan melalui klasifikasi sifat-sifat wajib bagi Allah. Sifat wajib ini bukanlah tambahan atas dzat-Nya dalam makna yang terpisah, melainkan atribut yang secara niscaya melekat pada kesempurnaan Dzat Allah Swt yang tidak mungkin terpisahkan. Memahami sifat-sifat ini menuntut ketajaman akal dalam memadukan dalil naqli (teks wahyu) dan dalil aqli (rasionalitas) guna menghindari pemahaman yang keliru seperti tasybih (penyerupaan) maupun ta’thil (peniadaan sifat). Berikut adalah bedah materi mendalam mengenai sifat-sifat tersebut dalam bingkai teks otoritatif.

BLOK KAJIAN PERTAMA: HAKIKAT WUJUD DAN KENISCAYAAN EKSISTENSI SANG KHALIQ

Dalam Artikel

Dalam diskursus akidah, sifat Wujud (Ada) merupakan sifat Nafsiyyah, yaitu sifat yang berhubungan dengan Dzat Allah itu sendiri. Keberadaan Allah adalah Wajibul Wujud (Wajib adanya), yang berarti akal tidak dapat menerima ketiadaan-Nya. Berbeda dengan makhluk yang bersifat Mumkinul Wujud (Mungkin adanya), keberadaan Allah adalah mutlak dan menjadi sebab bagi adanya seluruh alam semesta. Hal ini ditegaskan dalam landasan wahyu sebagai berikut:

هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ ۖ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ . ذٰلِكَ بِأَنَّ اللّٰهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ هُوَ الْبَاطِلُ وَأَنَّ اللّٰهَ هُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ . قَالَتْ رُسُلُهُمْ أَفِي اللّٰهِ شَكٌّ فَاطِرِ السَّمٰوٰتِ وَالْأَرْضِ ۖ يَدْعُوكُمْ لِيَغْفِرَ لَكُمْ مِنْ ذُنُوبِكُمْ وَيُؤَخِّرَكُمْ إِلَىٰ أَجَلٍ مُسَمًّى

Terjemahan dan Syarah Mendalam: Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Zhahir dan Yang Bathin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. Demikianlah, karena sesungguhnya Allah, Dialah Al-Haq (Tuhan Yang Hak) dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain dari Allah adalah batil. Berkata rasul-rasul mereka: Apakah ada keragu-raguan terhadap Allah, Pencipta langit dan bumi? (QS. Al-Hadid: 3, Al-Hajj: 62, Ibrahim: 10). Syarah: Ayat-ayat ini menegaskan bahwa eksistensi Allah adalah sebuah kebenaran aksiomatik yang tidak memerlukan bukti luar biasa bagi akal yang sehat. Sifat Wujud Allah tidak didahului oleh tiada dan tidak akan diakhiri oleh tiada. Secara teologis, pengakuan terhadap Wujud Allah mengharuskan penolakan terhadap pemikiran ateisme dan materialisme yang menganggap alam semesta terjadi secara kebetulan tanpa penggerak utama (Muharrik al-Awwal).

BLOK KAJIAN KEDUA: TRANSENDENSI WAKTU MELALUI SIFAT QIDAM DAN BAQA

Allah Swt bersifat Qidam (Terdahulu tanpa permulaan) dan Baqa (Kekal tanpa akhir). Kedua sifat ini disebut sebagai Sifat Salbiyyah, yaitu sifat yang meniadakan hal-hal yang tidak layak bagi Allah. Qidam meniadakan adanya permulaan bagi Allah, sementara Baqa meniadakan adanya kesirnaan. Allah berada di luar dimensi waktu karena Dialah yang menciptakan waktu itu sendiri.

كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ . وَيَبْقَىٰ وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ . كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلَّا وَجْهَهُ ۚ لَهُ الْحُكْمُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ . سُبْحَانَ الَّذِي بِيَدِهِ مَلَكُوتُ كُلِّ شَيْءٍ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

Terjemahan dan Syarah Mendalam: Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan. Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Dzat-Nya. Bagi-Nya-lah segala penentuan, dan hanya kepada-Nya-lah kamu dikembalikan (QS. Ar-Rahman: 26-27, Al-Qashash: 88). Syarah: Penggunaan kata Wajh (Wajah) dalam ayat ini oleh para mufassir diartikan sebagai Dzat Allah. Sifat Baqa menunjukkan bahwa Allah tidak terpengaruh oleh perubahan zaman atau kerusakan biologis/fisik. Secara filosofis, jika Allah memiliki permulaan, maka Dia membutuhkan pencipta lain, dan ini akan menyebabkan tasalsul (rantai pencipta tanpa ujung) yang mustahil secara logika. Oleh karena itu, Qidam dan Baqa adalah keniscayaan bagi Tuhan yang absolut.