Mengenal Allah Swt. merupakan kewajiban pertama bagi setiap mukallaf sebelum ia menjalankan syariat-Nya. Dalam tradisi keilmuan Ahlussunnah wal Jama’ah, khususnya madzhab Asy’ariyah dan Maturidiyah, pengenalan terhadap Sang Pencipta dirumuskan melalui pemahaman terhadap sifat-sifat wajib, mustahil, dan jaiz. Sifat-sifat ini bukanlah sekadar hafalan dogmatis, melainkan sebuah konstruksi berpikir logis yang dibangun di atas fondasi wahyu untuk membedakan antara Al-Khaliq dan al-makhluq. Para ulama telah mengklasifikasikan sifat-sifat ini ke dalam empat kategori utama, yaitu nafsiyah, salbiyah, ma’ani, dan ma’nawiyah, guna mempermudah akal manusia dalam menggapai derajat ma’rifatullah yang hakiki.
Sifat pertama yang menjadi landasan utama adalah Wujud. Secara ontologis, keberadaan Allah adalah mutlak dan tidak didahului oleh tiada. Alam semesta yang bersifat baru (hadits) ini secara logika mustahil ada dengan sendirinya tanpa adanya Pencipta yang bersifat Qadim. Berikut adalah landasan mengenai sifat Wujud dan keagungan penciptaan-Nya:
إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ يُغْشِي اللَّيْلَ النَّهَارَ يَطْلُبُهُ حَثِيثًا وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ وَالنُّجُومَ مُسَخَّرَاتٍ بِأَمْرِهِ ۗ أَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْأَمْرُ ۗ تَبَارَكَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ
Terjemahan dan Syarah Mendalam: Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas 'Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam. Ayat ini menegaskan bahwa eksistensi Allah dibuktikan melalui af’al atau perbuatan-Nya yang nyata di alam semesta. Secara aqli, keberadaan sebuah bangunan menunjukkan adanya pembangun, maka keberadaan alam semesta yang teratur ini adalah dalil qath’i atas wujudnya Allah Swt. Sifat Wujud ini disebut sebagai sifat nafsiyah, karena ia berkaitan dengan dzat itu sendiri tanpa adanya tambahan makna lain.
Setelah menetapkan Wujud, kita beralih pada sifat-sifat Salbiyah yang berfungsi untuk meniadakan segala sifat kekurangan yang tidak layak bagi Allah Swt. Sifat-sifat tersebut meliputi Qidam (Dahulu tanpa awal), Baqa (Kekal tanpa akhir), Mukhalafatu lil Hawaditsi (Berbeda dengan makhluk), Qiyamuhu Binafsihi (Berdiri sendiri), dan Wahdaniyah (Esa). Fokus utama dalam kategori ini adalah penegasan bahwa Allah tidak menyerupai apapun dalam dimensi ruang, waktu, maupun substansi:
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ . فَاطِرُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ جَعَلَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا وَمِنَ الْأَنْعَامِ أَزْوَاجًا ۖ يَذْرَؤُكُمْ فِيهِ ۚ لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
Terjemahan dan Syarah Mendalam: Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar dan Maha Melihat. Penggalan ayat Laisa Kamitslihi Syai-un merupakan kaidah pamungkas dalam ilmu tauhid untuk menolak faham tasybih (penyerupaan) dan tajsim (pemberhalaan/fisik). Allah mustahil memiliki jisim (tubuh), aradh (sifat benda), atau bertempat di suatu arah. Sifat Mukhalafatu lil Hawaditsi mengharuskan kita meyakini bahwa segala gambaran yang terlintas dalam benak manusia mengenai bentuk Allah, maka Allah tidaklah seperti itu. Ini adalah puncak dari penyucian (tanzih) terhadap Dzat Yang Maha Suci.
Kategori ketiga adalah Sifat Ma’ani, yaitu sifat-sifat yang ada pada Dzat Allah yang memberikan pengaruh pada makhluq. Sifat-sifat ini terdiri dari Qudrah (Kuasa), Iradah (Berkehendak), Ilmu (Mengetahui), Hayat (Hidup), Sama’ (Mendengar), Bashar (Melihat), dan Kalam (Berfirman). Sifat-sifat ini menunjukkan kesempurnaan mutlak Allah dalam mengatur dan mengelola alam semesta tanpa ada kelemahan sedikitpun:
قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ ۖ بِيَدِكَ الْخَيْرُ ۖ إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ . تُولِجُ اللَّيْلَ فِي النَّهَارِ وَتُولِجُ النَّهَارَ فِي اللَّيْلِ ۖ وَتُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَتُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ ۖ وَتَرْزُقُ مَنْ تَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ

