Ma’rifatullah atau mengenal Allah Subhanahu wa Ta’ala merupakan kewajiban paling asasi bagi setiap mukallaf. Para ulama tauhid, khususnya dari kalangan Asy’ariyah dan Maturidiyah, telah merumuskan sistematika pemahaman sifat-sifat Allah ke dalam kategori sifat wajib, mustahil, dan jaiz. Sifat wajib di sini bermakna sifat yang secara akal (aqli) dan wahyu (naqli) pasti ada pada Zat Allah yang Maha Suci. Mempelajari sifat-sifat ini bukan sekadar aktivitas kognitif, melainkan sebuah perjalanan spiritual untuk menyucikan tauhid dari noda tasybih (penyerupaan) dan ta’thil (peniadaan). Tanpa pemahaman yang benar mengenai sifat-sifat-Nya, keimanan seseorang rentan goyah oleh syubhat pemikiran yang menyimpang. Oleh karena itu, mari kita bedah satu per satu landasan teologis yang membangun pemahaman kita terhadap Zat yang Maha Sempurna.

Penjelasan Blok Kesatu: Sifat Nafsiyyah dan Fondasi Eksistensi Ketuhanan

Dalam Artikel

Sifat pertama yang wajib diketahui adalah Wujud. Secara epistemologis, wujud Allah adalah wujud yang hakiki dan mandiri (Wajib al-Wujud), berbeda dengan wujud makhluk yang bersifat mungkin (Mumkin al-Wujud) dan bergantung pada pencipta. Keberadaan alam semesta dengan segala keteraturannya adalah dalil aqli yang paling nyata bagi keberadaan Sang Pencipta. Dalam Al-Quran, Allah menegaskan jati diri-Nya sebagai Rabb yang menciptakan segala sesuatu tanpa ada sekutu bagi-Nya.

ذٰلِكُمُ اللّٰهُ رَبُّكُمْۚ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَۚ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ فَاعْبُدُوْهُ ۚ وَهُوَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ وَّكِيْلٌ لَا تُدْرِكُهُ الْاَبْصَارُ وَهُوَ يُدْرِكُ الْاَبْصَارَۚ وَهُوَ اللَّطِيْفُ الْخَبِيْرُ

Terjemahan dan Syarah Mendalam: Itulah Allah, Tuhan kamu; tidak ada tuhan selain Dia; pencipta segala sesuatu, maka sembahlah Dia; dan Dia adalah pemelihara segala sesuatu. Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala penglihatan itu dan Dialah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui (QS. Al-An'am: 102-103). Dalam perspektif tafsir, ayat ini menggabungkan antara penetapan sifat Wujud dan sifat Tanzih (penyucian). Kalimat Khaliqu kulli shay-in menegaskan bahwa Allah adalah sebab pertama (al-Illah al-Ula) yang mewujudkan ketiadaan menjadi ada. Sifat Latif dan Khabir menunjukkan bahwa keberadaan-Nya tidak terjangkau oleh indra lahiriah, namun jejak kekuasaan-Nya meliputi segala partikel di alam semesta.

Penjelasan Blok Kedua: Sifat Salbiyyah dan Prinsip Transendensi (Tanzih)

Setelah menetapkan wujud-Nya, kita harus memahami sifat-sifat Salbiyyah, yaitu sifat yang meniadakan hal-hal yang tidak layak bagi keagungan Allah. Di antaranya adalah Qidam (Terdahulu tanpa permulaan), Baqa (Kekal tanpa akhir), dan Mukhalafatu lil-hawadits (Berbeda dengan makhluk). Allah tidak terikat oleh ruang dan waktu, karena ruang dan waktu adalah makhluk yang Dia ciptakan. Allah tidak memiliki jisim (tubuh), tidak menempati arah, dan tidak mengalami perubahan sebagaimana dialami oleh makhluk.

هُوَ الْاَوَّلُ وَالْاٰخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُۚ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ هُوَ الَّذِيْ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ فِيْ سِتَّةِ اَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوٰى عَلَى الْعَرْشِۗ يَعْلَمُ مَا يَلِجُ فِي الْاَرْضِ وَمَا يَخْرُجُ مِنْهَا وَمَا يَنْزِلُ مِنَ السَّمَاۤءِ وَمَا يَعْرُجُ فِيْهَاۗ وَهُوَ مَعَكُمْ اَيْنَ مَا كُنْتُمْۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ بَصِيْرٌ

Terjemahan dan Syarah Mendalam: Dialah Yang Awal, Yang Akhir, Yang Zahir dan Yang Batin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa; kemudian Dia bersemayam di atas Arsy. Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar darinya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepadanya. Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan (QS. Al-Hadid: 3-4). Syarah dari para mufassir menjelaskan bahwa Al-Awwal adalah dalil bagi sifat Qidam, di mana tidak ada sesuatu pun sebelum-Nya. Al-Akhir adalah dalil bagi Baqa, di mana tidak ada sesuatu pun setelah-Nya. Sifat Zahir dan Batin menunjukkan bahwa Allah nyata melalui tanda-tanda kekuasaan-Nya namun tersembunyi dari jangkauan akal makhluk yang terbatas. Kebersamaan Allah (Ma'iyyah) dalam ayat ini dipahami sebagai kebersamaan ilmu dan pengawasan, bukan kebersamaan secara fisik atau tempat.