Kajian mengenai ketuhanan merupakan fondasi paling fundamental dalam bangunan keislaman. Para ulama mutakallimin, khususnya dari madrasah Asy'ariyah dan Maturidiyah, telah merumuskan sistematika pengenalan terhadap Allah Swt melalui klasifikasi sifat-sifat wajib. Sifat wajib di sini bermakna sifat yang secara akal tidak mungkin tidak ada pada Dzat Allah Swt. Memahami sifat-sifat ini bukan sekadar aktivitas kognitif, melainkan sebuah perjalanan spiritual untuk mencapai derajat Ma'rifatullah yang hakiki. Tanpa pemahaman yang benar mengenai sifat-sifat ini, seorang hamba berisiko terjatuh ke dalam jurang tasybih (menyerupakan Allah dengan makhluk) atau ta'thil (meniadakan sifat-sifat Allah). Oleh karena itu, para ulama menekankan bahwa awal mula kewajiban seorang mukallaf adalah mengenal Allah dengan keyakinan yang bersumber dari dalil-dalil yang qath'i.

TEKS ARAB BLOK 1

Dalam Artikel

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مُتَقَلَّبَكُمْ وَمَثْوَاكُمْ. وَيَجِبُ فِي حَقِّهِ تَعَالَى الْوُجُودُ وَهُوَ صِفَةٌ نَفْسِيَّةٌ لَا يَتَصَوَّرُ الْعَقْلُ عَدَمَهَا. وَالدَّلِيلُ عَلَى ذَلِكَ حُدُوثُ الْعَالَمِ فَإِنَّ كُلَّ حَادِثٍ لَا بُدَّ لَهُ مِنْ مُحْدِثٍ وَهُوَ اللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى

Terjemahan & Tafsir Mendalam Blok 1:

Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan yang haq) melainkan Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat kamu tinggal (QS. Muhammad: 19). Dalam tinjauan akidah, sifat pertama yang wajib bagi Allah adalah Al-Wujud (Ada). Sifat ini dikategorikan sebagai Sifat Nafsiyyah, yaitu sifat yang menunjukkan pada Dzat itu sendiri tanpa ada tambahan makna lain. Secara epistemologis, keberadaan alam semesta yang bersifat hadits (baru/diciptakan) menjadi bukti aksiomatik akan adanya Al-Muujid (Pencipta). Secara logika formal, mustahil sebuah akibat ada tanpa adanya sebab primer (Causa Prima). Keberadaan Allah adalah Wajib al-Wujud, yakni keberadaan yang bersifat niscaya dan mandiri, berbeda dengan keberadaan makhluk yang bersifat Mumkin al-Wujud (mungkin ada dan mungkin tidak ada).

TEKS ARAB BLOK 2

هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ. وَيَجِبُ لَهُ تَعَالَى الْقِدَمُ وَالْبَقَاءُ وَالْمُخَالَفَةُ لِلْحَوَادِثِ. فَمَعْنَى الْقِدَمِ عَدَمُ افْتِتَاحِ وُجُودِهِ وَمَعْنَى الْبَقَاءِ عَدَمُ اخْتِتَامِ وُجُودِهِ سُبْحَانَهُ. وَكُلُّ مَا خَطَرَ بِبَالِكَ فَاللَّهُ بِخِلَافِ ذَلِكَ لِأَنَّهُ لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

Terjemahan & Tafsir Mendalam Blok 2:

Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Zhahir dan Yang Bathin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu (QS. Al-Hadid: 3). Ayat ini menjadi landasan bagi sifat Qidam (Dahulu tanpa permulaan) dan Baqa (Kekal tanpa akhir). Sifat-sifat ini masuk dalam kategori Sifat Salbiyyah, yaitu sifat yang berfungsi meniadakan hal-hal yang tidak layak bagi Allah. Qidam meniadakan adanya permulaan bagi wujud Allah, sedangkan Baqa meniadakan adanya kepunahan atau kebinasaan. Lebih lanjut, Allah wajib memiliki sifat Mukhalafatuhu lil Hawaditsi (Berbeda dengan makhluk). Prinsip tanzih (penyucian) ini ditegaskan dalam kaidah teologis: Apa pun yang terlintas dalam benakmu mengenai bentuk atau rupa, maka Allah tidaklah demikian. Hal ini karena Allah bukanlah jism (materi), bukan aradh (sifat materi), dan tidak terikat oleh dimensi ruang maupun waktu.