Memahami ketuhanan merupakan puncak dari segala disiplin ilmu dalam Islam. Secara epistemologis, mengenal Allah Swt atau Marifatullah adalah kewajiban pertama bagi setiap mukalaf sebelum melangkah pada ranah syariat lainnya. Para ulama mutakallimin, khususnya dalam madzhab Asy’ariyah dan Maturidiyah, telah merumuskan sistematika sifat-sifat wajib bagi Allah Swt guna memagari akidah umat dari pemahaman antropomorfisme (tasybih) maupun ateisme (ta’thil). Pendekatan ini bukan sekadar hafalan dogmatis, melainkan sebuah konstruksi logika yang dibangun di atas fondasi wahyu dan akal sehat yang jernih. Kajian ini akan membedah bagaimana sifat-sifat tersebut diklasifikasikan menjadi Nafsiyah, Salbiyah, Ma’ani, dan Ma’nawiyah secara komprehensif.
Kewajiban pertama bagi setiap individu yang telah mencapai usia baligh dan berakal adalah mengetahui sifat-sifat yang wajib, mustahil, dan jaiz bagi Allah Swt. Hal ini ditegaskan oleh Imam Ibrahim al-Laqqani dalam kitab monumental beliau, Jawharat al-Tawhid, sebagai landasan utama dalam beragama. Tanpa pengenalan yang benar terhadap Sang Pencipta, maka seluruh amal ibadah kehilangan orientasi teologisnya.
فَكُلُّ مَنْ كُلِّفَ شَرْعًا وَجَبَا ۞ عَلَيْهِ أَنْ يَعْرِفَ مَا قَدْ وَجَبَا
لِلَّهِ وَالْجَائِزَ وَالْمُمْتَنِعَا ۞ وَمِثْلُ ذَا لِرُسُلِهِ فَاسْتَمِعَا
إِذْ كُلُّ مَنْ قَلَّدَ فِي التَّوْحِيدِ ۞ إِيمَانُهُ لَمْ يَخْلُ مِنْ تَرْدِيدِ
Terjemahan dan Syarah: Maka setiap orang yang dibebani syariat (mukalaf) secara hukum agama, wajib baginya untuk mengetahui apa yang wajib bagi Allah, apa yang boleh (jaiz), dan apa yang mustahil. Demikian pula halnya bagi para rasul-Nya, maka dengarkanlah dengan seksama. Karena sesungguhnya setiap orang yang hanya bertaklid (ikut-ikutan tanpa dalil) dalam urusan tauhid, maka imannya tidak akan lepas dari keragu-raguan. Penjelasan ini menunjukkan bahwa iman yang kokoh harus didasarkan pada makrifat, yaitu keyakinan yang sesuai dengan realitas berdasarkan dalil, baik dalil ijmali (global) maupun dalil tafshili (rinci). Sifat wajib bagi Allah yang berjumlah dua puluh merupakan batas minimal yang harus dipahami untuk mencapai derajat keyakinan yang sahih.
Sifat pertama yang dibahas adalah sifat Nafsiyah, yaitu Wujud (Ada). Keberadaan Allah Swt adalah keberadaan yang bersifat dhati, bukan karena diciptakan atau diadakan oleh entitas lain. Secara logika aqli, adanya alam semesta yang teratur ini merupakan bukti konklusif atas adanya Sang Penggerak Pertama yang tidak terikat oleh ruang dan waktu. Allah Swt berfirman dalam Al-Quran untuk menegaskan hakikat eksistensi-Nya yang mutlak.
أَفِي اللَّهِ شَكٌّ فَاطِرِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ يَدْعُوكُمْ لِيَغْفِرَ لَكُمْ مِنْ ذُنُوبِكُمْ وَيُؤَخِّرَكُمْ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى قَالُوا إِنْ أَنْتُمْ إِلَّا بَشَرٌ مِثْلُنَا تُرِيدُونَ أَنْ تَصُدُّونَا عَمَّا كَانَ يَعْبُدُ آبَاؤُنَا فَأْتُونَا بِسُلْطَانٍ مُبِينٍ
Terjemahan dan Tafsir: Apakah ada keragu-raguan terhadap Allah, Pencipta langit dan bumi? Dia menyeru kamu untuk mengampuni sebagian dosa-dosamu dan menangguhkan kamu sampai waktu yang ditentukan. (QS. Ibrahim: 10). Tafsir mendalam dari ayat ini mengisyaratkan bahwa eksistensi Allah adalah sesuatu yang bersifat badihi (aksiomatis) bagi fitrah manusia yang sehat. Kata Fathir menunjukkan bahwa Allah adalah Dzat yang membelah ketiadaan menjadi keberadaan. Sifat Wujud bagi Allah disebut Nafsiyah karena ia merupakan hal yang tidak mungkin dipisahkan dari Dzat-Nya; menyebut Dzat Allah tanpa sifat Wujud adalah sebuah kemustahilan logis. Berbeda dengan makhluk, yang keberadaannya bersifat mungkin (mumkinul wujud), keberadaan Allah adalah wajib (wajibul wujud).

