Dalam tradisi keilmuan Usuluddin, pemahaman terhadap akidah Islam tidak sekadar disandarkan pada doktrin taklid, melainkan dibangun di atas pilar rasionalitas yang selaras dengan tatanan wahyu. Para ulama mazhab Ahlus Sunnah wal Jama'ah, khususnya dalam peradaban pemikiran Asy'ariyah dan Maturidiyah, merumuskan metode kodifikasi sifat-sifat Allah Swt untuk menjaga kesucian tauhid dari ancaman paham tajsim (antropomorfisme) dan ta'thil (negasi sifat). Fondasi ini mewajibkan setiap mukalaf untuk mengenali apa yang wajib, mustahil, dan ja'iz bagi Allah Swt melalui sintesis antara dalil 'aqli (argumentasi rasional) dan dalil naqli (teks otoritatif wahyu). Sifat-sifat wajib ini dikelompokkan ke dalam empat kategori utama: Nafsiyah, Salbiyah, Ma'ani, dan Ma'nawiyah.
Pemahaman mendalam mengenai sifat Wujud sebagai sifat Nafsiyah menjadi gerbang awal epistemologis. Wujud-Nya Allah Swt bukanlah wujud yang didahului oleh ketiadaan, melainkan wujud yang bersifat hakiki, mutlak, dan berdiri sendiri tanpa membutuhkan ruang, waktu, maupun pencipta. Hal ini ditegaskan secara eksplisit dalam teks wahyu dan eksplorasi saintifik para ulama kalam.
إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي. وَقَالَ الإِمَامُ الْغَزَالِيُّ فِي إِحْيَاءِ عُلُومِ الدِّينِ: أَنَّ الْوُجُودَ لِلَّهِ تَعَالَى هُوَ وُجُودٌ ذَاتِيٌّ أَزَلِيٌّ أَبَدِيٌّ لَا يَتَطَرَّقُ إِلَيْهِ الْعَدَمُ سَابِقًا وَلَا لَاحِقًا، وَكُلُّ مَا سِوَاهُ فَهُوَ حَادِثٌ مَوْجُودٌ بِإِيجَادِهِ.
Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah salat untuk mengingat-Ku. Dan Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali menyatakan dalam kitab Ihya 'Ulumiddin: Bahwasanya keberadaan (Wujud) bagi Allah Ta'ala adalah keberadaan yang hakiki pada Zat-Nya, azali (tanpa permulaan), abadi (tanpa akhir), yang tidak mungkin tersentuh oleh ketiadaan, baik sebelum adanya maupun sesudahnya. Adapun segala sesuatu selain Dia adalah hal baru (hadits) yang wujudnya bergantung pada ciptaan-Nya.
Selanjutnya, pilar kedua dalam sistematika akidah adalah Sifat Salbiyah, yaitu sifat-sifat yang berfungsi meniadakan segala prasangka atau atribut kekekurangan yang tidak layak bagi keagungan Zat Allah Swt. Sifat Salbiyah mencakup Qidam (kemurnian tanpa permulaan), Baqa' (keketalan tanpa akhir), Mukhalafatu lil-Hawaditsi (perbedaan mutlak dengan makhluk), Qiyamuhu Binafsihi (kemandirian tanpa membutuhkan tempat atau penolong), dan Wahdaniyah (eesaan mutlak pada Zat, Sifat, dan Af'al). Prinsip Mukhalafatu lil-Hawaditsi menjadi benteng terkuat yang memisahkan antara Sang Pencipta dan ciptaan.
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ. وَقَالَ الإِمَامُ مُحَمَّدُ بْنُ يُوسُفَ السَّنُوسِيُّ فِي مَتْنِ أُمِّ الْبَرَاهِينِ: فَمِمَّا يَجِبُ لِمَوْلَانَا جَلَّ وَعَزَّ عِشْرُونَ صِفَةً، الأُولَى الْوُجُودُ، ثُمَّ الْقِدَمُ، وَالْبَقَاءُ، وَالْمُخَالَفَةُ لِلْحَوَادِثِ، وَالْقِيَامُ بِالنَّفْسِ، وَالْوَحْدَانِيَّةُ فِي الذَّاتِ وَالصِّفَاتِ وَالأَفْعَالِ، وَهَذِهِ السِّتَّةُ الأُولَى تسمى النَّفْسِيَّةَ وَالسَّلْبِيَّةَ.
Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha

