Shalat merupakan tiang agama yang menjadi pembeda utama antara seorang mukmin dengan kekufuran. Namun, shalat yang sekadar menggugurkan kewajiban tanpa adanya ruh di dalamnya tidak akan mampu memberikan dampak transformatif bagi pelakunya. Ruh dari shalat tersebut adalah khusyu. Secara epistemologis, khusyu berasal dari ketundukan hati yang termanifestasikan dalam ketenangan anggota badan. Para ulama salaf menegaskan bahwa shalat tanpa khusyu bagaikan bangkai yang tidak bernyawa. Untuk mencapai derajat khusyu yang hakiki, seorang hamba harus memahami landasan syariat baik dari sisi tekstual Al-Quran maupun bimbingan praktis melalui Sunnah Nabawiyah. Artikel ini akan membedah secara komprehensif bagaimana mekanisme khusyu dibangun sejak awal takbir hingga salam penutup.
TEKS ARAB BLOK 1
قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ وَالَّذِينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ وَالَّذِينَ هُمْ لِلزَّكَاةِ فَاعِلُونَ
Terjemahan & Tafsir Mendalam Blok 1:
Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, yaitu orang-orang yang khusyu dalam shalatnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari perbuatan dan perkataan yang tiada berguna, dan orang-orang yang menunaikan zakat. (QS. Al-Mu'minun: 1-4).
Dalam Tafsir Al-Munir karya Syekh Wahbah Az-Zuhaili, kata aflaha bermakna pencapaian kemenangan yang abadi dan terbebas dari segala hal yang menakutkan. Allah Subhanahu wa Ta'ala menempatkan sifat khusyu sebagai karakteristik pertama orang beriman yang meraih keberuntungan. Ayat ini memberikan isyarat kuat bahwa keberuntungan seorang mukmin sangat bergantung pada kualitas shalatnya. Khusyu di sini mencakup dua dimensi: dimensi batin berupa rasa takut (khauf) dan pengagungan kepada Allah, serta dimensi lahiriah berupa ketenangan anggota tubuh dan menundukkan pandangan ke tempat sujud. Para mufassir menjelaskan bahwa hubungan antara ayat pertama dan kedua menunjukkan bahwa untuk meraih khusyu, seseorang harus terlebih dahulu meninggalkan hal-hal yang sia-sia (al-laghwu) dalam kehidupan sehari-harinya, karena hati yang dipenuhi kesia-siaan akan sulit untuk fokus saat menghadap Sang Pencipta.
TEKS ARAB BLOK 2
عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ بَيْنَمَا نَحْنُ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ إِذْ طَلَعَ عَلَيْنَا رَجُلٌ شَدِيدُ بَيَاضِ الثِّيَابِ شَدِيدُ سَوَادِ الشَّعَرِ قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنِ الْإِحْسَانِ قَالَ أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاك
Terjemahan & Tafsir Mendalam Blok 2:

