Memahami hakikat ketuhanan merupakan fondasi paling fundamental dalam bangunan keislaman seorang hamba. Dalam tradisi keilmuan ushuluddin, mengenal Allah Swt (ma’rifatullah) bukan sekadar pengakuan lisan, melainkan sebuah proses dialektika akal dan hati yang berpijak pada dalil-dalil qath’i. Para ulama mutakallimin, khususnya dari madrasah Al-Asy’ariyah dan Al-Maturidiyah, telah merumuskan sistematika sifat-sifat wajib bagi Allah guna menjaga kemurnian tauhid dari syubhat tasybih (penyerupaan) dan ta’thil (peniadaan). Sifat-sifat ini diklasifikasikan menjadi empat bagian utama: Nafsiyah, Salbiyah, Ma’ani, dan Ma’nawiyah. Pengetahuan ini menjadi perisai bagi akidah mukmin di tengah arus pemikiran materialisme dan agnostisisme modern yang kian mengaburkan makna eksistensi Sang Pencipta.

فَالْوُجُودُ صِفَةٌ نَفْسِيَّةٌ وَهُوَ لُغَةً الثُّبُوتُ وَاصْطِلَاحًا هُوَ الْحَالُ الْوَاجِبَةُ لِلذَّاتِ مَا دَامَتِ الذَّاتُ غَيْرَ مُعَلَّلَةٍ بِعِلَّةٍ. وَالدَّلِيلُ عَلَى وُجُودِهِ تَعَالَى هُوَ وُجُودُ هَذِهِ الْمَخْلُوقَاتِ وَتَغَيُّرُهَا، فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثٍ لَا بُدَّ لَهُ مِنْ مُحْدِثٍ وَهُوَ اللَّهُ تَعَالَى. قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: أَمْ خُلِقُوا مِنْ غَيْرِ شَيْءٍ أَمْ هُمُ الْخَالِقُونَ. فَالْعَقْلُ يَجْزِمُ بِأَنَّ الْعَدَمَ لَا يَنْقَلِبُ وُجُودًا بِنَفْسِهِ، فَلَا بُدَّ مِنْ مُوجِدٍ قَدِيمٍ وَاجِبِ الْوُجُودِ لِذَاتِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى.

Dalam Artikel

Terjemahan & Tafsir Mendalam Blok 1:

Wujud adalah sifat Nafsiyah, yang secara bahasa berarti ketetapan, dan secara terminologi akidah adalah keadaan yang wajib ada pada dzat selama dzat tersebut ada, tanpa disebabkan oleh suatu sebab apa pun. Dalil aqli (logika) yang mendasari sifat ini adalah eksistensi alam semesta beserta segala perubahannya. Secara epistemologis, setiap sesuatu yang baru (hadits) mustahil ada tanpa adanya pencipta (muhdits). Allah Swt berfirman dalam Surah At-Thur ayat 35: Apakah mereka diciptakan tanpa ada sesuatu pun ataukah mereka yang menciptakan diri mereka sendiri? Ayat ini merupakan tantangan logika bagi mereka yang mengingkari eksistensi Tuhan. Wujud Allah bersifat Dzati, artinya keberadaan-Nya tidak membutuhkan sandaran kepada entitas lain, berbeda dengan makhluk yang wujudnya bersifat idhafi (bersandar pada kehendak Sang Khaliq).

ثُمَّ الصِّفَاتُ السَّلْبِيَّةُ وَهِيَ خَمْسٌ: الْقِدَمُ، وَالْبَقَاءُ، وَمُخَالَفَتُهُ تَعَالَى لِلْحَوَادِثِ، وَقِيَامُهُ بِنَفْسِهِ، وَالْوَحْدَانِيَّةُ. وَمَعْنَى السَّلْبِيَّةِ أَنَّهَا تَسْلِبُ وَتَنْفِي عَنِ اللَّهِ تَعَالَى مَا لَا يَلِيقُ بِجَلَالِهِ. فَالْقِدَمُ يَنْفِي عَدَمَ الِافْتِتَاحِ، وَالْبَقَاءُ يَنْفِي عَدَمَ الِاخْتِتَامِ، وَمُخَالَفَتُهُ لِلْحَوَادِثِ تَنْفِي الْمُمَاثَلَةَ لِلْمَخْلُوقَاتِ فِي الذَّاتِ وَالصِّفَاتِ وَالْأَفْعَالِ، كَمَا قَالَ تَعَالَى: لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ. فَاللَّهُ تَعَالَى لَيْسَ بِجِسْمٍ وَلَا عَرَضٍ وَلَا يَحُلُّ فِي مَكَانٍ وَلَا يَجْرِي عَلَيْهِ زَمَانٌ.

Terjemahan & Tafsir Mendalam Blok 2:

Selanjutnya adalah Sifat Salbiyah yang berjumlah lima: Qidam (Terdahulu tanpa awal), Baqa (Kekal tanpa akhir), Mukhalafatu lil Hawaditsi (Berbeda dengan makhluk), Qiyamuhu Binafsihi (Berdiri sendiri), dan Wahdaniyah (Esa). Disebut Salbiyah karena sifat-sifat ini berfungsi untuk meniadakan atau menafikan hal-hal yang tidak layak bagi keagungan Allah Swt. Qidam menafikan adanya permulaan pada keberadaan-Nya, sedangkan Baqa menafikan adanya kepunahan. Sifat Mukhalafatu lil Hawaditsi secara tegas memutus segala bentuk antropomorfisme (penyerupaan Tuhan dengan manusia). Allah Swt bukanlah materi (jism) yang menempati ruang, bukan pula sifat baru (aradh) yang bergantung pada materi. Dia tidak dibatasi oleh dimensi ruang dan tidak terikat oleh perputaran waktu, karena ruang dan waktu adalah makhluk ciptaan-Nya. Hal ini selaras dengan firman-Nya: Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya (QS. Asy-Syura: 11).

وَأَمَّا صِفَاتُ الْمَعَانِي فَهِيَ صِفَاتٌ وُجُودِيَّةٌ قَائِمَةٌ بِذَاتِ اللَّهِ تَعَالَى، وَهِيَ سَبْعٌ: الْقُدْرَةُ، وَالْإِرَادَةُ، وَالْعِلْمُ، وَالْحَيَاةُ، وَالسَّمْعُ، وَالْبَصَرُ، وَالْكَلَامُ. فَالْقُدْرَةُ صِفَةٌ أَزَلِيَّةٌ يَتَأَتَّى بِهَا إِيجَادُ الْمُمْكِنِ وَإِعْدَامُهُ عَلَى وَفْقِ الْإِرَادَةِ. وَالْعِلْمُ صِفَةٌ تَنْكَشِفُ بِهَا الْمَعْلُومَاتُ عَلَى مَا هِيَ عَلَيْهِ انْكِشَافًا لَا يَحْتَمِلُ النَّقِيضَ. وَالْكَلَامُ صِفَةٌ أَزَلِيَّةٌ لَيْسَتْ بِحَرْفٍ وَلَا صَوْتٍ، مُنَزَّهَةٌ عَنِ التَّقَدُّمِ وَالتَّأَخُّرِ وَالتَّأْلِيفِ، وَالْقُرْآنُ الْكَرِيمُ دَالٌّ عَلَيْهَا وَهُوَ كَلَامُ اللَّهِ غَيْرُ مَخْلُوقٍ.

Terjemahan & Tafsir Mendalam Blok 3: