Ilmu Tauhid merupakan fondasi utama dalam bangunan syariat Islam. Sebelum seorang hamba menjalankan beban taklif atau kewajiban agama, ia terlebih dahulu diwajibkan untuk mengenal Tuhannya (Ma’rifatullah) dengan pengenalan yang benar dan kokoh. Para ulama mutakallimin, khususnya dari kalangan Asy’ariyah dan Maturidiyah, telah merumuskan sistematika pengenalan sifat-sifat Allah melalui klasifikasi Sifat Duapuluh. Sistematika ini bukan bermaksud membatasi kesempurnaan Allah yang tidak terbatas, melainkan sebagai metodologi (manhaj) bagi akal manusia yang terbatas untuk memahami kemahabesaran Sang Pencipta. Sifat-sifat ini terbagi menjadi empat kategori utama: Nafsiyah, Salbiyah, Ma’ani, dan Ma’nawiyah. Penjelasan berikut akan membedah secara mendalam bagaimana setiap sifat tersebut berakar pada dalil naqli (Al-Quran dan Hadis) serta dalil aqli (logika rasional).
Dalam diskursus akidah, sifat pertama yang harus dipahami adalah Wujud. Keberadaan Allah bukanlah sesuatu yang baru atau didahului oleh ketiadaan, melainkan keberadaan yang bersifat mutlak dan menjadi sumber bagi segala eksistensi lainnya. Hal ini secara tegas dinyatakan dalam berbagai nas yang menunjukkan bahwa alam semesta ini adalah bukti nyata dari keberadaan Sang Pencipta yang Maha Bijaksana.
هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ . هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلَامُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُ سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يُشْرِكُونَ . هُوَ اللَّهُ الْخَالِقُ الْبَارِئُ الْمُصَورُ لَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى يُسَبِّحُ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
Terjemahan & Tafsir Mendalam: Dialah Allah, tidak ada Tuhan selain Dia. Mengetahui yang gaib dan yang nyata, Dialah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dialah Allah, tidak ada Tuhan selain Dia. Maharaja, Yang Mahasuci, Yang Mahasejahtera, Yang Menjaga Keamanan, Pemelihara Keselamatan, Yang Mahaperkasa, Yang Mahakuasa, Yang Memiliki Segala Keagungan. Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan. Dialah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Dia memiliki nama-nama yang paling baik. Apa yang ada di langit dan di bumi bertasbih kepada-Nya. Dan Dialah Yang Mahaperkasa lagi Maha Bijaksana (QS. Al-Hasyr: 22-24). Ayat-ayat ini merupakan deklarasi ontologis mengenai eksistensi Allah yang meliputi segala aspek kesempurnaan. Kata Al-Khaliq (Yang Menciptakan) meniscayakan adanya sifat Wujud, sebab mustahil sesuatu yang tidak ada dapat menciptakan sesuatu yang lain. Ulama mufassir menjelaskan bahwa penyebutan rentetan asmaul husna ini adalah untuk menegaskan bahwa Allah adalah satu-satunya entitas yang memiliki eksistensi hakiki, sementara alam semesta hanyalah eksistensi bayangan yang bergantung sepenuhnya kepada-Nya.
Setelah menetapkan keberadaan Allah, para ulama beralih pada Sifat Salbiyah, yaitu sifat-sifat yang berfungsi untuk meniadakan segala sesuatu yang tidak layak bagi keagungan Allah. Di antaranya adalah Qidam (Terdahulu tanpa awal), Baqa (Kekal tanpa akhir), dan Mukhalafatu lil Hawaditsi (Berbeda dengan makhluk). Konsep tanzih atau penyucian Allah dari keserupaan dengan makhluk adalah pilar utama dalam menjaga kemurnian tauhid dari paham antropomorfisme (tajsim).
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ . فَاطِرُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ جَعَلَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا وَمِنَ الْأَنْعَامِ أَزْوَاجًا يَذْرَؤُكُمْ فِيهِ لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ . لَهُ مَقَالِيدُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَقْدِرُ إِنَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
Terjemahan & Tafsir Mendalam: Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (Dia) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan dan dari jenis binatang ternak pasangan-pasangan (pula), dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat (QS. Ash-Shura: 11). Kalimat Laisa Kamitslihi Syaiun adalah kaidah emas dalam ilmu akidah. Para pakar teologi menjelaskan bahwa huruf kaf dalam ayat tersebut berfungsi sebagai taukid (penguat) untuk menegaskan kemustahilan adanya kemiripan antara Khalik dan makhluk, baik dalam zat, sifat, maupun perbuatan. Meskipun Allah disifati dengan Mendengar dan Melihat, namun pendengaran dan penglihatan Allah tidaklah menggunakan alat (indra) sebagaimana makhluk, melainkan sifat azali yang sesuai dengan keagungan-Nya yang tidak terbatas oleh ruang dan waktu.
Kategori selanjutnya adalah Sifat Ma’ani, yaitu sifat-sifat abstrak yang berdiri pada zat Allah yang memberikan pengaruh pada perbuatan-Nya. Sifat-sifat ini meliputi Qudrah (Kuasa), Iradah (Kehendak), Ilmu (Mengetahui), Hayat (Hidup), Sama’ (Mendengar), Bashar (Melihat), dan Kalam (Berfirman). Sifat-sifat ini menjelaskan bagaimana Allah berinteraksi dengan makhluk-Nya dan bagaimana pengaturan alam semesta ini berjalan di bawah otoritas mutlak Sang Pencipta.
اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ

