Ilmu Tauhid merupakan fondasi utama dalam bangunan syariat Islam yang menuntut setiap mukalaf untuk mengenal Tuhannya dengan keyakinan yang pasti (jazm) yang bersumber dari dalil-dalil yang kuat. Para ulama teolog (mutakallimin) dari kalangan Asy'ariyah dan Maturidiyah telah merumuskan metodologi sistematis dalam memahami hakikat ketuhanan melalui klasifikasi sifat-sifat wajib bagi Allah Swt. Sifat wajib di sini bermakna sifat yang secara akal tidak dapat diterima ketiadaannya pada zat Allah Swt. Pendekatan ini bukan sekadar hafalan dogmatis, melainkan sebuah proses dialektika intelektual yang menyatukan antara wahyu (naqli) dan rasio (aqli) guna membentengi akidah umat dari syubhat atheisme maupun antropomorfisme (tasybih).
فَيَجِبُ عَلَى كُلِّ مُكَلَّفٍ شَرْعًا أَنْ يَعْرِفَ مَا يَجِبُ فِي حَقِّ مَوْلَانَا جَلَّ وَعَزَّ وَمَا يَسْتَحِيلُ وَمَا يَجُوزُ، فَالْوَاجِبُ هُوَ مَا لَا يُتَصَوَّرُ فِي الْعَقْلِ عَدَمُهُ، وَالْمُسْتَحِيلُ هُوَ مَا لَا يُتَصَوَّرُ فِي الْعَقْلِ وُجُودُهُ، وَالْجَائِزُ هُوَ مَا صَحَّ فِي الْعَقْلِ وُجُودُهُ وَعَدَمُهُ. وَأُمَّهَاتُ الصِّفَاتِ الْوَاجِبَةِ لِلَّهِ تَعَالَى عِشْرُونَ صِفَةً تَنْقَسِمُ إِلَى نَفْسِيَّةٍ وَسَلْبِيَّةٍ وَمَعَانٍ وَمَعْنَوِيَّةٍ.
Terjemahan & Tafsir Mendalam:
Maka wajib bagi setiap mukalaf secara syariat untuk mengetahui apa yang wajib bagi Allah Swt, apa yang mustahil, dan apa yang jaiz (mungkin). Wajib secara aqli adalah segala sesuatu yang tidak dapat diterima oleh akal jika ia tidak ada. Mustahil adalah sesuatu yang tidak dapat diterima oleh akal kehadirannya. Sedangkan jaiz adalah sesuatu yang secara akal boleh ada maupun tidak ada. Induk dari sifat-sifat wajib bagi Allah berjumlah dua puluh sifat yang terbagi ke dalam empat kategori: Nafsiyyah, Salbiyyah, Ma'ani, dan Ma'nawiyyah. Penjelasan ini merujuk pada teks fundamental dalam kitab Umm al-Barahin karya Imam as-Sanusi, yang menekankan bahwa ma'rifatullah (mengenal Allah) adalah kewajiban pertama sebelum ibadah lainnya, karena ibadah tanpa mengenal zat yang disembah akan kehilangan esensi teologisnya.
فَأَمَّا النَّفْسِيَّةُ فَهِيَ الْوُجُودُ، وَأَمَّا السَّلْبِيَّةُ فَخَمْسَةٌ وَهِيَ الْقِدَمُ وَالْبَقَاءُ وَمُخَالَفَتُهُ لِلْحَوَادِثِ وَقِيَامُهُ بِالنَّفْسِ وَالْوَحْدَانِيَّةُ، وَمَعْنَى السَّلْبِيَّةِ أَنَّهَا تَسْلِبُ وَتَنْفِي عَنِ اللَّهِ تَعَالَى مَا لَا يَلِيقُ بِهِ، فَالْقِدَمُ يَسْلِبُ الْعَدَمَ السَّابِقَ عَلَى الْوُجُودِ، وَالْبَقَاءُ يَسْلِبُ الْعَدَمَ اللَّاحِقَ لِلْوُجُودِ، وَالْمُخَالَفَةُ لِلْحَوَادِثِ تَنْفِي مُمَاثَلَةَ الْمَخْلُوقَاتِ.
Terjemahan & Tafsir Mendalam:
Adapun sifat Nafsiyyah adalah Wujud (Ada). Sedangkan sifat Salbiyyah ada lima, yaitu Qidam (Terdahulu tanpa awal), Baqa (Kekal tanpa akhir), Mukhalafatu lil Hawaditsi (Berbeda dengan makhluk), Qiyamuhu Binafsihi (Berdiri sendiri), dan Wahdaniyyah (Esa). Makna dari sifat Salbiyyah adalah sifat-sifat yang berfungsi untuk meniadakan atau menafikan hal-hal yang tidak layak bagi keagungan Allah Swt. Sebagai contoh, sifat Qidam menafikan adanya ketiadaan yang mendahului keberadaan Allah. Sifat Baqa menafikan adanya ketiadaan yang akan datang setelah keberadaan-Nya. Sifat Mukhalafatu lil Hawaditsi secara tegas memutus segala bentuk penyerupaan Allah dengan materi, ruang, waktu, maupun substansi jasmani, sehingga Allah suci dari sifat-sifat baru (huduts) seperti berubah, berpindah, atau bertempat.
ثُمَّ صِفَاتُ الْمَعَانِي وَهِيَ سَبْعَةٌ: الْقُدْرَةُ وَالْإِرَادَةُ وَالْعِلْمُ وَالْحَيَاةُ وَالسَّمْعُ وَالْبَصَرُ وَالْكَلَامُ، وَهِيَ صِفَاتٌ وُجُودِيَّةٌ قَائِمَةٌ بِذَاتِ اللَّهِ تَعَالَى مُوجِبَةٌ لِأَحْكَامٍ تُسَمَّى صِفَاتٍ مَعْنَوِيَّةً. فَالْقُدْرَةُ صِفَةٌ أَزَلِيَّةٌ يَتَأَتَّى بِهَا إِيجَادُ كُلِّ مُمْكِنٍ وَإِعْدَامُهُ عَلَى وَفْقِ الْإِرَادَةِ، وَالْعِلْمُ صِفَةٌ تَنْكَشِفُ بِهَا الْمَعْلُومَاتُ عَلَى مَا هِيَ عَلَيْهِ انْكِشَافًا لَا يَحْتَمِلُ النَّقِيضَ.
Terjemahan & Tafsir Mendalam:

