Dalam khazanah keilmuan Al-Qur'an dan Ulumul Qur'an, Ayat Kursi yang terletak pada Surah Al-Baqarah ayat 255 menempati kedudukan yang sangat agung. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam secara eksplisit menyebutnya sebagai ayat yang paling agung dalam Kitabullah. Keagungan ini tidak terlepas dari kandungan struktur teologi (Akidah) yang sangat padat, mencakup tauhid uluhiyyah, rububiyyah, serta penegasan nama-nama dan sifat-sifat Allah (Asma wa Sifat) yang maha sempurna. Para mufassir seperti Imam Ibn Kathir, Imam Al-Qurtubi, dan Imam Fakhruddin Ar-Razi sepakat bahwa ayat ini memuat sepuluh kalimat independen yang semuanya berporos pada pemurnian tauhid dan penyucian Allah dari segala bentuk kekurangan makhluk.

اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ

Dalam Artikel

Terjemahan dan Syarah Akidah Blok 1:

Allah, tidak ada tuhan yang berhak disembah melainkan Dia, Yang Maha Hidup, yang terus-menerus mengurus makhluk-Nya.

Secara metodologis-linguistik, klausa pertama ini dibuka dengan isim 'alam (nama tertinggi) yaitu Allah, diikuti dengan kalimat nafyu (penegasan ketadaan) dan ithbat (penetapan): Laa Ilaha Illa Huwa. Pola ini merupakan kaidah tertinggi dalam mengekspresikan tauhid hakiki. Kata Al-Hayyu menunjukkan sifat kehidupan Allah yang mutlak, tidak diawali oleh ketiadaan dan tidak diakhiri oleh kebinasaan, berbeda dengan kehidupan makhluk yang bersifat kontingen (mukinul wujud). Adapun sifat Al-Qayyum merupakan bentuk mubalaghah (hiperbolik substantif) dari kata Al-Qa'im, yang bermakna bahwa Allah berdiri sendiri tanpa membutuhkan bantuan apa pun dari alam semesta, sekaligus menjadi penopang eksistensi seluruh jagat raya. Imam At-Tabari menegaskan bahwa gabungan nama Al-Hayyu dan Al-Qayyum adalah Ismul A'zham (nama Allah yang paling agung), yang apabila seseorang berdoa dengannya, niscaya doanya diperkenankan.

لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ ۚ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ

Terjemahan dan Syarah Akidah Blok 2:

Tidak mengantuk dan tidak tidur. Milik-Nya apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi.

Klausa kedua ini memberikan penafsiran bernuansa penyucian (Tanzih). Kata As-Sinah dalam terminologi bahasa Arab merujuk pada rasa kantuk yang menyerang indra penglihatan di bagian kepala sebelum rasa tidur masuk ke dalam hati. Penyebuan As-Sinah sebelum An-Nawm menunjukkan susunan sistematis (tartib al-itqan) dalam membatalkan sifat kekurangan dari Allah. Apabila kantuk yang merupakan gejala awal tidur saja tidak mampu menyentuh-Nya, maka tidur yang merupakan bentuk tidak sadarkan diri secara total tentu jauh lebih mustahil bagi Allah. Penegasan ini membantah pandangan teologi anthropomorfisme yang menyerupakan Tuhan dengan sifat fisik manusia. Selanjutnya, frasa Lahu maa fis-samaawaati wa maa fil-ardh menegaskan konsep Mulkiyyah Mutlaqah (kepemilikan mutlak), di mana seluruh entitas kosmologis di langit dan bumi berstatus sebagai hamba dan milik-Nya secara substansial.