Shalat merupakan tiang agama yang menjadi pembeda antara seorang mukmin dengan kekufuran. Namun, esensi dari shalat bukan sekadar pengguguran kewajiban melalui gerakan lahiriah yang mekanistis. Shalat adalah sebuah mi’raj bagi orang beriman, sebuah sarana komunikasi vertikal yang membutuhkan kehadiran hati secara total. Tanpa khusyu, shalat ibarat jasad yang tidak bernyawa. Para ulama salaf terdahulu sangat memperhatikan kualitas khusyu ini, karena ia merupakan ilmu pertama yang akan diangkat dari muka bumi. Dalam artikel ilmiah ini, kita akan membedah secara ontologis dan praktis mengenai tata cara mencapai kekhusyukan yang hakiki melalui tinjauan teks-teks suci.
قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ وَالَّذِينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ وَالَّذِينَ هُمْ لِلزَّكَاةِ فَاعِلُونَ
Terjemahan & Tafsir Mendalam:
Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu dalam sembahyangnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna, dan orang-orang yang menunaikan zakat. (QS. Al-Mu'minun: 1-4). Dalam tinjauan tafsir, kata aflaha berasal dari akar kata falah yang berarti keberuntungan yang abadi dan kesuksesan yang sempurna. Allah SWT menyandingkan keberuntungan ini secara spesifik dengan sifat khasyi'un. Secara etimologis, khusyu berarti ketundukan (al-khudhu), ketenangan (as-sukun), dan kerendahan hati (at-tadzallul). Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa khusyu dalam shalat hanya dapat dicapai oleh mereka yang mengosongkan hatinya dari kesibukan duniawi dan memfokuskan seluruh perhatiannya hanya kepada Allah SWT. Khusyu bukan hanya gerakan menunduk, melainkan sebuah kondisi psikis di mana rasa takut kepada Allah (khasyyah) telah menyelimuti seluruh relung jiwa.
الْخُشُوعُ هُوَ قِيَامُ الْقَلْبِ بَيْنَ يَدَيِ الرَّبِّ بِالْخُضُوعِ وَالذُّلِّ وَجَمْعِيَّةِ الْقَلْبِ عَلَيْهِ وَالْإِعْرَاضِ عَمَّا سِوَاهُ فَإِذَا اسْتَقَرَّ الْخُشُوعُ فِي الْقَلْبِ تَبِعَتْهُ الْجَوَارِحُ
Terjemahan & Syarah Mendalam:
Khusyu adalah berdirinya hati di hadapan Rabb dengan penuh ketundukan, kehinaan diri, pemusatan konsentrasi hati kepada-Nya, serta berpaling dari segala sesuatu selain-Nya. Jika khusyu telah menetap di dalam hati, maka niscaya anggota tubuh yang lain akan mengikutinya. Penjelasan ini merupakan kristalisasi pemikiran Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah mengenai hakikat khusyu. Beliau menekankan bahwa khusyu berpusat pada hati (qalb), namun manifestasinya tampak pada anggota badan (jawarih). Secara fisiologis-spiritual, ketika hati merasakan keagungan Allah, maka saraf-saraf motorik manusia akan merespons dengan ketenangan fisik (tuma'ninah). Oleh karena itu, gerakan yang berlebihan dalam shalat merupakan indikasi kuat atas lemahnya kekhusyukan di dalam hati, sebagaimana perkataan Said bin Musayyib ketika melihat orang yang mempermainkan jenggotnya saat shalat: Seandainya hati orang ini khusyu, niscaya anggota badannya pun akan ikut khusyu.
أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ وَهَذَا هُوَ مَقَامُ الْإِحْسَانِ الَّذِي يُورِثُ الْخُشُوعَ وَالْمُرَاقَبَةَ فِي الصَّلَاةِ
Terjemahan & Syarah Mendalam:

