Memahami hakikat ketuhanan merupakan puncak dari segala disiplin ilmu dalam Islam. Para ulama mutakallimin, khususnya dari madrasah Asy'ariyah dan Maturidiyah, telah merumuskan sistematika pemahaman terhadap sifat-sifat Allah guna memagari keyakinan umat dari paham tasybih (penyerupaan) dan ta'thil (peniadaan). Sifat-sifat wajib bagi Allah bukan sekadar hafalan teologis, melainkan sebuah kerangka berpikir logis yang membuktikan keagungan Sang Pencipta melalui dalil naqli yang bersumber dari wahyu dan dalil aqli yang bersumber dari nalar sehat. Kajian ini akan membedah secara komprehensif pembagian sifat-sifat tersebut yang meliputi sifat nafsiyah, salbiyah, ma'ani, hingga ma'nawiyah dengan pendekatan teks klasik dan analisis maknawi yang mendalam.

Langkah pertama dalam mengenal Allah adalah mengakui eksistensi-Nya yang mutlak. Sifat Wujud merupakan sifat nafsiyah, yakni sifat yang berhubungan dengan zat Allah itu sendiri tanpa adanya tambahan makna lain. Keberadaan Allah bersifat wajib al-wujud, yang artinya secara rasio kehadiran-Nya adalah sebuah keharusan demi adanya alam semesta ini. Tanpa adanya wujud yang azali, maka rangkaian sebab-akibat di alam semesta akan mengalami tasalsul atau daur yang secara logika mustahil terjadi.

Dalam Artikel

هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ ۖ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

Terjemahan: Dialah Yang Awal, Yang Akhir, Yang Zahir, dan Yang Batin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS. Al-Hadid: 3).

Syarah: Dalam ayat ini, Allah menegaskan sifat-sifat-Nya yang melampaui dimensi waktu dan ruang. Al-Awwal menunjukkan sifat Qidam (terdahulu tanpa permulaan), sedangkan Al-Akhir menunjukkan sifat Baqa (kekal tanpa akhir). Secara ontologis, Allah adalah causa prima yang tidak didahului oleh ketiadaan. Penjelasan ini meruntuhkan argumentasi kaum materialis yang menganggap alam semesta terjadi dengan sendirinya. Kebatilan pandangan tersebut dipatahkan oleh keniscayaan adanya wujud yang bersifat qadim, karena segala sesuatu yang baru (hadist) pasti membutuhkan pencipta yang tidak baru.

Setelah menetapkan keberadaan-Nya, kita harus memahami sifat Salbiyah, yaitu sifat-sifat yang berfungsi untuk meniadakan segala atribut yang tidak layak bagi keagungan Allah. Di antaranya adalah Mukhalafatu lil Hawaditsi, yang berarti Allah sama sekali tidak menyerupai makhluk-Nya dalam hal apa pun, baik dari segi zat, sifat, maupun perbuatan. Allah bukan merupakan materi (jirm), bukan pula bagian dari materi (aradh), dan tidak terikat oleh arah atau tempat.

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

Terjemahan: Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (QS. Ash-Shura: 11).

Syarah: Ayat ini merupakan kaidah emas dalam ilmu tauhid (ummul adillah). Bagian pertama ayat, Laisa Kamitslihi Syaiun, berfungsi sebagai tanzih (penyucian) total dari segala bentuk penyerupaan. Sedangkan bagian kedua, Wa Huwas Sami'ul Bashir, menetapkan sifat bagi Allah namun dengan penegasan bahwa pendengaran dan penglihatan Allah tidaklah sama dengan alat indra makhluk. Para mufassir menjelaskan bahwa kesamaan nama tidak berarti kesamaan hakikat. Inilah esensi dari tauhid yang benar, yakni menetapkan sifat tanpa melakukan tasybih (menyamakan) dan tanpa melakukan ta'thil (meniadakan).