Ibadah puasa atau Ash-Shiyam secara terminologi syariat bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan sebuah manifestasi ketundukan totalitas hamba kepada Sang Khaliq. Dalam diskursus fiqih klasik, para ulama dari kalangan Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali telah merumuskan kodifikasi hukum yang sangat rigid terkait legalitas ibadah ini. Pemahaman yang parsial terhadap syarat dan rukun puasa dapat berimplikasi pada tidak terpenuhinya kriteria keabsahan ibadah di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Oleh karena itu, membedah teks-teks otoritatif dari kitab-kitab induk menjadi sebuah keniscayaan bagi setiap penuntut ilmu untuk mencapai kesempurnaan ibadah.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ . أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ
Terjemahan & Tafsir Mendalam:
Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. (Yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu) memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. (QS. Al-Baqarah: 183-184). Tafsir Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat ini merupakan landasan ontologis kewajiban puasa yang menitikberatkan pada transformasi spiritual menuju derajat Taqwa. Penggunaan redaksi Kutiba mengindikasikan ketetapan hukum yang bersifat imperatif dan tidak dapat diganggu gugat.
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ . وَفِي مَذْهَبِ الشَّافِعِيِّ وَالْمَالِكِيِّ وَالْحَنَابِلَةِ النِّيَّةُ رُكْنٌ مِنْ أَرْكَانِ الصَّوْمِ لَا يَصِحُّ إِلَّا بِهَا وَمَحَلُّهَا الْقَلْبُ وَيُشْتَرَطُ فِيهَا التَّبْيِيتُ فِي صَوْمِ الْفَرْضِ
Terjemahan & Syarah Mendalam:
Sesungguhnya setiap amal perbuatan tergantung pada niatnya, dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) sesuai dengan apa yang diniatkannya. (Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim). Dalam tinjauan Madzhab Syafi’i, Maliki, dan Hanbali, niat diposisikan sebagai Rukun (pilar) utama dalam puasa. Tanpa niat, sebuah penahanan diri dari makan dan minum hanyalah aktivitas biologis biasa yang hampa nilai ukhrawi. Syarat mendasar dalam niat puasa wajib adalah Tabyit, yakni menanamkan niat di dalam hati sejak malam hari sebelum terbit fajar Shadiq. Madzhab Syafi’i secara spesifik mensyaratkan Tajdidun Niyyah (memperbaharui niat) pada setiap malam, sementara Madzhab Maliki memberikan rukhshah (keringanan) untuk menjamak niat di awal bulan Ramadhan untuk satu bulan penuh.
وَأَمَّا رُكْنُ الصَّوْمِ الثَّانِي فَهُوَ الْإِمْسَاكُ عَنِ الْمُفَطِّرَاتِ مِنْ طُلُوعِ الْفَجْرِ الصَّادِقِ إِلَى غُرُوبِ الشَّمْسِ مَعَ ذِكْرِ النِّيَّةِ . وَالْمُفَطِّرَاتُ هِيَ الْأَكْلُ وَالشُّرْبُ وَالْجِمَاعُ وَالْقَيْءُ عَمْدًا وَكُلُّ مَا دَخَلَ إِلَى الْجَوْفِ مِنْ مَنْفَذٍ مَفْتُوحٍ . قَالَ اللَّهُ تَعَالَى : وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ
Terjemahan & Syarah Mendalam:

