Ibadah puasa merupakan salah satu pilar fundamental dalam struktur Islam yang menuntut pemahaman mendalam melampaui sekadar menahan lapar dan dahaga. Secara epistemologis, puasa atau ash-shiyam mencakup dimensi syariat yang sangat ketat, di mana validitasnya bergantung sepenuhnya pada pemenuhan syarat-syarat tertentu dan penegakan rukun-rukun yang telah digariskan oleh para mujtahid. Dalam diskursus fiqih perbandingan (al-fiqh al-muqaran), kita menemukan kekayaan ijtihad dari empat madzhab besar yang memberikan batasan rigid mengenai apa yang menjadikan puasa seseorang dianggap sah di hadapan Allah Subhanahu wa Ta'ala. Pemahaman ini penting agar ibadah yang dijalankan tidak terjebak dalam formalitas tanpa makna, melainkan berpijak pada landasan hukum yang kokoh.
Penjelasan pertama mengenai kewajiban puasa berakar pada nash Al-Quran yang menjadi fondasi utama bagi seluruh bangunan hukum puasa. Para ulama sepakat bahwa sebelum memasuki pembahasan rukun, seseorang harus memahami khitab atau seruan Allah yang mendasari ibadah ini.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ . أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ
Terjemahan & Tafsir Mendalam: Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. (Yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu) memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. Ayat ini secara eksplisit menggunakan diksi Kutiba yang bermakna difardhukan. Para mufassir menekankan bahwa tujuan akhir (ghayah) dari puasa adalah takwa, yang hanya bisa dicapai jika syarat dan rukunnya terpenuhi secara sempurna sesuai tuntunan syara.
Setelah memahami landasan kewajibannya, kita masuk pada pembahasan rukun puasa yang paling mendasar, yaitu niat. Terdapat perbedaan halus namun signifikan di antara madzhab mengenai kedudukan niat, apakah ia termasuk rukun (bagian internal ibadah) atau syarat (prasyarat eksternal ibadah). Madzhab Syafi'i dan Maliki memposisikan niat sebagai rukun, sementara Madzhab Hanafi cenderung melihatnya sebagai syarat sah.
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ
Terjemahan & Syarah Mendalam: Sesungguhnya setiap perbuatan tergantung pada niatnya, dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) berdasarkan apa yang ia niatkan. Barangsiapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan barangsiapa yang hijrahnya karena dunia yang ia cari atau wanita yang ia nikahi, maka hijrahnya kepada apa yang ia tuju tersebut. Hadits ini menjadi poros hukum dalam ibadah puasa. Bagi Madzhab Syafi'i, niat harus dilakukan pada malam hari (tabyit) untuk puasa wajib dan harus ditentukan (ta'yin) jenis puasanya, misalnya puasa Ramadhan. Tanpa niat yang spesifik dan dilakukan di waktu yang tepat, puasa dianggap batal secara hukum meskipun seseorang menahan diri dari makan dan minum sepanjang hari.
Selanjutnya, rukun kedua yang disepakati oleh mayoritas ulama adalah al-imsak, yaitu menahan diri dari segala hal yang membatalkan puasa mulai dari terbit fajar shadiq hingga terbenamnya matahari. Hal ini mencakup pengendalian diri dari syahwat perut dan syahwat kemaluan. Definisi imsak ini menjadi pembeda antara puasa syar'i dengan sekadar diet medis atau mogok makan.
وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ وَلَا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ فَلَا تَقْرَبُوهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ آيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ

