Ibadah puasa atau Ash-Shiyam secara terminologi syariat bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan sebuah manifestasi ketundukan totalitas hamba kepada Sang Khalik. Dalam diskursus fiqih klasik, para fuqaha telah merumuskan batasan-batasan yang rigid namun dinamis mengenai apa yang membangun keabsahan ibadah ini. Pemahaman terhadap syarat dan rukun merupakan keniscayaan bagi setiap mukallaf agar ibadah yang dijalankan tidak terjebak dalam formalitas tanpa makna, melainkan berdiri tegak di atas fondasi syariat yang kokoh. Para ulama dari madzhab Hanafi, Maliki, Syafi'i, dan Hanbali memiliki titik temu dan titik tenggang dalam merumuskan anatomi ibadah puasa ini, yang bersumber dari penggalian mendalam terhadap nushush al-kitab dan as-sunnah.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ. وَالصَّوْمُ فِي اللُّغَةِ الْإِمْسَاكُ وَفِي الشَّرْعِ إِمْسَاكٌ عَنْ مُفْطِرٍ مَخْصُوصٍ فِي زَمَنٍ مَخْصُوصٍ مِنْ شَخْصٍ مَخْصُوصٍ مَعَ النِّيَّةِ. وَقَدْ أَجْمَعَتِ الْأُمَّةُ عَلَى وُجُوبِ صِيَامِ رَمَضَانَ وَأَنَّهُ أَحَدُ أَرْكَانِ الْإِسْلَامِ الَّتِي عُلِمَتْ مِنَ الدِّينِ بِالضَّرُورَةِ.
Terjemahan & Tafsir Mendalam: Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. Secara linguistik, puasa bermakna al-imsak atau menahan diri secara mutlak. Namun secara terminologi syar'i, ia adalah menahan diri dari segala hal yang membatalkan (mufthirat) yang bersifat khusus, pada waktu yang khusus (dari terbit fajar hingga terbenam matahari), oleh subjek hukum yang khusus (muslim, berakal, suci), disertai dengan niat. Ayat ini menjadi basis ontologis kewajiban puasa. Para ulama menekankan bahwa tujuan akhir dari syariat puasa adalah pencapaian derajat taqwa, sebuah kondisi spiritual di mana seorang hamba memiliki proteksi batin dari kemaksiatan melalui latihan pengendalian syahwat perut dan kemaluan.
عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى. وَاخْتَلَفَ الْفُقَهَاءُ فِي كَوْنِ النِّيَّةِ رُكْنًا أَوْ شَرْطًا؛ فَذَهَبَ الشَّافِعِيَّةُ وَالْمَالِكِيَّةُ إِلَى أَنَّهَا رُكْنٌ مِنْ أَرْكَانِ الصَّوْمِ لَا يَصِحُّ إِلَّا بِهَا، بَيْنَمَا اعْتَبَرَهَا الْحَنَفِيَّةُ شَرْطًا لِصِحَّةِ الْعِبَادَةِ. وَيَجِبُ تَبْيِيتُ النِّيَّةِ فِي صَوْمِ الْفَرْضِ عِنْدَ جُمْهُورِ الْعُلَمَاءِ لِقَوْلِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ لَمْ يُبَيِّتِ الصِّيَامَ قَبْلَ الْفَجْرِ فَلَا صِيَامَ لَهُ.
Terjemahan & Tafsir Mendalam: Dari Umar bin Khattab radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda bahwa sesungguhnya setiap amal bergantung pada niatnya. Di sinilah letak perbedaan metodologis yang menarik; madzhab Syafi'i dan Maliki memosisikan niat sebagai Rukun (bagian internal dari ibadah), sedangkan madzhab Hanafi memandangnya sebagai Syarat (sesuatu yang harus ada sebelum ibadah dimulai). Konsekuensi praktisnya, mayoritas ulama (Jumhur) mewajibkan tabyit atau menetapkan niat di malam hari sebelum fajar untuk puasa fardu. Tanpa niat yang spesifik (tayin), sebuah tindakan menahan lapar hanyalah rutinitas biologis biasa. Madzhab Syafi'i mewajibkan niat setiap malam karena setiap hari dalam Ramadhan dianggap sebagai ibadah yang independen, sementara madzhab Maliki membolehkan satu niat di awal bulan untuk sebulan penuh selama puasanya berurutan.
وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ۖ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ. وَالرُّكْنُ الثَّانِي هُوَ الْإِمْسَاكُ عَنِ الْمُفْطِرَاتِ مِنْ طَعَامٍ وَشَرَابٍ وَجِمَاعٍ وَمَا فِي مَعْنَاهَا. وَيَشْتَرِطُ لِصِحَّةِ الصَّوْمِ أَنْ يَكُونَ الصَّائِمُ مُسْلِمًا عَاقِلًا طَاهِرًا مِنَ الْحَيْضِ وَالنِّفَاسِ، فَلَا يَصِحُّ صَوْمُ الْكَافِرِ وَلَا الْمَجْنُونِ وَلَا الْحَائِضِ بِإِجْمَاعِ الْأَئِمَّةِ الْأَرْبَعَةِ.
Terjemahan & Tafsir Mendalam: Makan dan minumlah hingga jelas bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar, kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai malam. Rukun kedua yang disepakati adalah al-imsak atau menahan diri dari segala pembatal. Secara teknis, ini mencakup segala sesuatu yang masuk ke dalam lubang tubuh yang terbuka (manfadz maftuh) menurut Syafi'iyah, atau segala sesuatu yang masuk ke dalam rongga perut menurut Hanafiyah. Selain rukun, terdapat syarat sah (shihhah) yang meliputi Islam, berakal, dan suci dari haid serta nifas. Seorang wanita yang sedang haid tidak sah puasanya dan haram melakukannya, namun ia wajib mengqadhanya di hari lain. Ini menunjukkan bahwa ketaatan dalam puasa bukan hanya tentang menahan diri, tetapi juga tentang mengikuti regulasi waktu yang telah ditetapkan oleh Syari (Allah).
رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ ثَلَاثَةٍ عَنِ النَّائِمِ حَتَّى يَسْتَيْقِظَ وَعَنِ الصَّبِيِّ حَتَّى يَحْتَلِمَ وَعَنِ الْمَجْنُونِ حَتَّى يَعْقِلَ. وَشُرُوطُ الْوُجُوبِ هِيَ الْأَوْصَافُ الَّتِي إِذَا تَوَفَّرَتْ فِي الشَّخْصِ وَجَبَ عَلَيْهِ الصَّوْمُ، وَهِيَ: الْإِسْلَامُ، وَالْبُلُوغُ، وَالْعَقْلُ، وَالْقُدْرَةُ عَلَى الصَّيَامِ، وَالْإِقَامَةُ (أَيْ عَدَمُ السَّفَرِ). فَالْمَرِيضُ وَالْمُسَافِرُ لَا يَجِبُ عَلَيْهِمَا أَدَاءُ الصَّوْمِ فِي الْحَالِ بَلْ يَجِبُ عَلَيْهِمَا الْقَضَاءُ.
Terjemahan & Tafsir Mendalam: Pena catatan amal diangkat dari tiga golongan: orang yang tidur hingga bangun, anak kecil hingga bermimpi basah (baligh), dan orang gila hingga berakal. Teks hadits ini menjadi landasan syarat wajib (wujub) puasa. Syarat wajib adalah kriteria yang menyebabkan seseorang terkena beban taklif untuk berpuasa. Jika seseorang sudah baligh dan berakal, maka ia wajib berpuasa. Namun, Islam memberikan rukhshah (keringanan) bagi mereka yang memiliki halangan syar'i seperti sakit yang memberatkan atau sedang dalam perjalanan (safar) yang memenuhi jarak qashar. Dalam pandangan empat madzhab, meski mereka tidak wajib berpuasa saat itu, kewajiban tersebut tidak gugur melainkan berpindah menjadi kewajiban qadha pada hari yang lain, sebagai bentuk keadilan Ilahi yang tidak membebani hamba melampaui batas kemampuannya.

