Ibadah puasa atau ash-shiyam secara ontologis merupakan manifestasi penghambaan totalitas seorang hamba kepada Khalik melalui penahanan diri dari segala syahwat badaniyah. Dalam diskursus fiqih klasik, para fuqaha telah merumuskan batasan-batasan legalistik yang memisahkan antara sekadar menahan lapar dengan ibadah yang sah secara syariat. Pemahaman mengenai syarat dan rukun puasa bukan sekadar teknis formalitas, melainkan fondasi utama agar ibadah tersebut diterima di sisi Allah Subhanahu wa Ta'ala. Empat madzhab besar—Hanafi, Maliki, Syafi'i, dan Hanbali—memiliki titik temu yang fundamental namun juga menyimpan ruang ijtihad yang kaya dalam rincian hukumnya.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ. أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ.

Dalam Artikel

Terjemahan & Tafsir Mendalam: Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. (Yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu) memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. (QS. Al-Baqarah: 183-184). Tafsir ayat ini menegaskan bahwa puasa adalah kewajiban historis dan teologis. Para ulama mufassir menekankan kata Kutiba yang bermakna Furdha (diwajibkan), yang menjadi landasan hukum utama bahwa puasa Ramadhan adalah rukun Islam yang tidak bisa ditawar.

بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَحَجِّ الْبَيْتِ وَصَوْمِ رَمَضَانَ. رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ. وَالصَّوْمُ فِي الشَّرْعِ هُوَ الْإِمْسَاكُ عَنِ الْمُفْطِرَاتِ جَمِيعِ الشَّرْقِ إِلَى الْغَرْبِ مِنْ طُلُوعِ الْفَجْرِ الصَّادِقِ إِلَى غُرُوبِ الشَّمْسِ مَعَ النِّيَّةِ الْمَحْصُوصَةِ.

Terjemahan & Tafsir Mendalam: Islam dibangun di atas lima perkara: bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, haji ke Baitullah, dan puasa Ramadhan. (HR. Bukhari & Muslim). Secara terminologi syariat, puasa didefinisikan sebagai Al-Imsak (menahan diri) dari segala hal yang membatalkan, dimulai dari terbit fajar shadiq hingga terbenamnya matahari, yang disertai dengan niat khusus. Definisi ini disepakati oleh mayoritas ulama (Jumhur) sebagai batasan rukun puasa yang paling mendasar. Tanpa adanya elemen Imsak dan Niat, maka perbuatan menahan lapar tersebut tidak bernilai ibadah secara hukum fiqih.

مَنْ لَمْ يُبَيِّتِ الصِّيَامَ قَبْلَ الْفَجْرِ فَلَا صِيَامَ لَهُ. وَفِي لَفْظٍ آخَرَ مَنْ لَمْ يُجْمِعِ الصِّيَامَ قَبْلَ الْفَجْرِ فَلَا صِيَامَ لَهُ. وَالنِّيَّةُ مَحَلُّهَا الْقَلْبُ وَلَا يُشْتَرَطُ التَّلَفُّظُ بِهَا عِنْدَ الْأَئِمَّةِ الْأَرْبَعَةِ إِلَّا أَنَّ الشَّافِعِيَّةَ اسْتَحَبُّوا التَّلَفُّظَ بِهَا لِيُوَافِقَ اللِّسَانُ الْقَلْبَ.

Terjemahan & Tafsir Mendalam: Barangsiapa yang tidak memalamkan niat puasa sebelum fajar, maka tidak ada puasa baginya. (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, dan An-Nasa'i). Niat merupakan rukun pertama dalam madzhab Syafi'i, Maliki, dan Hanbali. Sedangkan dalam madzhab Hanafi, niat diposisikan sebagai syarat sah. Perbedaan mendasar muncul pada waktu niat: Madzhab Syafi'i mewajibkan Tabyit (niat di malam hari) untuk setiap hari puasa Ramadhan. Madzhab Maliki memperbolehkan satu niat di awal bulan untuk seluruh bulan Ramadhan selama puasanya berurutan. Sementara Madzhab Hanafi memberikan kelonggaran niat puasa Ramadhan hingga sebelum waktu Dzuhur (Dhahwah al-Kubra) jika seseorang lupa berniat di malam hari.

شُرُوطُ وُجُوبِ الصَّوْمِ أَرْبَعَةُ أَشْيَاءَ الْإِسْلَامُ وَالْبُلُوغُ وَالْعَقْلُ وَالْقُدْرَةُ عَلَى الصَّوْمِ. أَمَّا شُرُوطُ صِحَّتِهِ فَهِيَ النِّيَّةُ وَالنَّقَاءُ عَنِ الْحَيْضِ وَالنِّفَاسِ وَالْعَقْلُ وَالتَّمْيِيزُ وَكَوْنُ الْوَقْتِ قَابِلًا لِلصَّوْمِ بِحَيْثُ لَا يَكُونُ يَوْمَ عِيدٍ.

Terjemahan & Tafsir Mendalam: Syarat wajib puasa ada empat perkara: Islam, Baligh (dewasa), Berakal, dan Mampu melaksanakan puasa. Adapun syarat sahnya puasa adalah Niat, Suci dari haid dan nifas bagi wanita, Berakal (Tamyiz), serta waktu yang diperbolehkan untuk berpuasa (bukan pada hari raya). Penjelasan ini membedakan antara siapa yang terkena khitab (seruan) kewajiban dan kapan ibadah tersebut dianggap valid secara legalitas langit. Madzhab Hanbali menekankan bahwa kemampuan (al-qudrah) mencakup kesehatan fisik dan status mukim (tidak sedang safar), sementara madzhab lainnya memasukkan faktor tersebut dalam kategori udzur syar'i yang membolehkan rukhshah (keringanan).