Disiplin ilmu kalam atau teologi Islam merupakan salah satu fondasi utama dalam memahami pilar keimanan. Di antara pembahasan yang paling fundamental dalam kajian akidah Islam, khususnya madzhab Ahlus Sunnah wal Jamaah al-Asy'ariyah dan al-Maturidiyah, adalah pemetaan sifat-sifat wajib bagi Allah Swt. Sifat wajib ini bukanlah pembatasan terhadap kesempurnaan Allah yang tanpa batas, melainkan sebuah formulasi metodologis (manhaj) yang disusun oleh para ulama terdahulu untuk memudahkan umat Islam dalam memahami hakikat ketuhanan secara rasional (aqli) dan tekstual (naqli). Formulasi dua puluh sifat wajib ini dikelompokkan menjadi empat kategori utama, yaitu sifat Nafsiyah, Salbiyah, Ma'ani, dan Ma'nawiyah. Melalui pendekatan epistemologi yang kokoh, artikel ini akan membedah secara mendalam beberapa sifat wajib yang menjadi pilar utama teologi Islam, lengkap dengan analisis teks keagamaan yang otoritatif.

Paragraf Penjelasan Indonesia 1:

Dalam Artikel

Memulai kajian akidah tauhid, sifat pertama yang wajib bagi Allah adalah Wujud (Ada). Sifat ini dikategorikan sebagai sifat Nafsiyah, yaitu sifat yang berhubungan dengan dzat Allah itu sendiri tanpa adanya tambahan pada dzat tersebut. Secara rasional, keberadaan alam semesta yang bersifat baru dan berubah-ubah (hudutsul 'alam) menjadi bukti mutlak bahwa ada Pencipta yang bersifat Wajib al-Wujud (wajib adanya). Keberadaan alam semesta yang teratur ini tidak mungkin terjadi karena kebetulan atau menciptakan dirinya sendiri, karena secara logika, ketiadaan tidak dapat melahirkan keberadaan. Oleh karena itu, akal sehat manusia dipaksa untuk mengakui eksistensi Sang Pencipta yang Maha Esa.

اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ مَا لَكُمْ مِنْ دُونِهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا شَفِيعٍ أَفَلَا تَتَذَكَّرُونَ

Terjemahan & Tafsir Mendalam Blok 1:

Terjemahan: Allah-lah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas Arsy. Tidak ada bagi kamu selain daripada-Nya seorang penolong pun dan tidak pula seorang pemberi syafaat. Maka apakah kamu tidak memperhatikan? (QS. As-Sajdah: 4).

Syarah: Dalam kacamata tafsir teologis, ayat ini merupakan deklarasi ontologis mengenai sifat Wujud Allah Swt. Kata "Khalaqa" (menciptakan) menunjukkan transisi dari tiada menjadi ada bagi alam semesta. Aktivitas penciptaan ini secara inheren meniscayakan adanya Sang Pencipta (Al-Khaliq) yang memiliki wujud yang hakiki dan mandiri. Istilah "Istiwa" di atas Arsy dipahami oleh mayoritas ulama tafsir Ahlus Sunnah melalui metode tafwidl (menyerahkan maknanya kepada Allah dengan menyucikan-Nya dari keserupaan dengan makhluk) atau takwil yang layak bagi keagungan-Nya, guna menghindari pemahaman antropomorfisme (tajsim) yang merusak kesucian sifat Wujud-Nya.

Paragraf Penjelasan Indonesia 2:

Sifat kedua yang sangat esensial dalam menjaga kemurnian tauhid adalah Qidam (Terdahulu). Sifat ini digolongkan ke dalam sifat Salbiyah, yaitu sifat yang berfungsi meniadakan sifat-sifat yang tidak layak bagi keagungan Allah Swt. Qidam berarti bahwa keberadaan Allah tidak didahului oleh ketiadaan. Secara logika, jika Allah memiliki permulaan, maka Dia membutuhkan pencipta lain yang mendahului-Nya. Jika pencipta tersebut juga membutuhkan pencipta lain, maka akan terjadi rantai sebab-akibat tanpa akhir (tasalsul) atau lingkaran penciptaan yang saling membutuhkan (daur). Kedua konsep tersebut secara rasional adalah batil dan mustahil. Maka, Allah wajib bersifat Qadim, sebagai Penyebab Pertama (Al-Illah al-Ula) yang tidak bermula.