Kajian mengenai ketuhanan merupakan fondasi paling fundamental dalam bangunan keislaman. Seorang hamba tidak mungkin mencapai derajat ihsan tanpa terlebih dahulu memantapkan makrifatnya kepada Sang Pencipta. Dalam tradisi keilmuan Islam, khususnya yang dirumuskan oleh Imam Abu al-Hasan al-Asy’ari dan Imam Abu Manshur al-Maturidi, pengenalan terhadap Allah Swt dirangkum secara sistematis melalui sifat-sifat wajib yang berjumlah dua puluh. Sifat-sifat ini bukanlah batasan terhadap keagungan Allah yang tidak terbatas, melainkan sebuah kerangka epistemologis bagi akal manusia yang terbatas untuk memahami kemutlakan Zat Yang Maha Kuasa. Pengetahuan ini bukan sekadar hafalan teoretis, melainkan sebuah kewajiban syar'i bagi setiap mukallaf guna menghindarkan diri dari syirik, tasybih (menyerupakan Allah dengan makhluk), dan ta'thil (meniadakan sifat Allah).
TEKS ARAB BLOK 1
يَجِبُ عَلَى كُلِّ مُكَلَّفٍ شَرْعًا أَنْ يَعْرِفَ مَا يَجِبُ فِي حَقِّ اللهِ تَعَالَى وَمَا يَسْتَحِيلُ وَمَا يَجُوزُ، وَالْمَعْرِفَةُ هِيَ الْجَزْمُ الْمُطَابِقُ لِلْوَاقِعِ عَنْ دَلِيلٍ. فَأَوَّلُ مَا يَجِبُ عَلَى الْإِنْسَانِ هُوَ مَعْرِفَةُ اللهِ بِصِفَاتِ كَمَالِهِ الَّتِي لَا تَتَنَاهَى، لَكِنَّ الْعُلَمَاءَ قَدْ حَصَرُوا الصِّفَاتِ الْوَاجِبَةَ الَّتِي يَجِبُ عِلْمُهَا عَيْنًا فِي عِشْرِينَ صِفَةً.
Terjemahan & Tafsir Mendalam Blok 1:
Wajib bagi setiap mukallaf (orang yang telah dibebani syariat) secara hukum agama untuk mengetahui apa yang wajib bagi Allah Ta'ala, apa yang mustahil bagi-Nya, dan apa yang jaiz (mungkin) bagi-Nya. Makrifat atau pengetahuan yang dimaksud di sini adalah keyakinan yang mantap, yang sesuai dengan realitas, dan didasarkan pada dalil (argumen), baik dalil aqli (logika) maupun naqli (teks wahyu). Para ulama tauhid menegaskan bahwa meskipun sifat kesempurnaan Allah itu tidak terbatas, namun terdapat dua puluh sifat yang wajib diketahui secara fardu ain oleh setiap Muslim. Hal ini dikarenakan sifat-sifat tersebut merupakan pilar utama dalam membedakan antara Sang Khaliq dan makhluk. Tanpa pemahaman yang benar mengenai prinsip ini, seseorang rentan terjatuh ke dalam pemahaman yang menyimpang mengenai hakikat ketuhanan.
TEKS ARAB BLOK 2
فَأَمَّا الصِّفَةُ النَّفْسِيَّةُ فَهِيَ الْوُجُودُ، وَمَعْنَاهُ أَنَّ اللهَ تَعَالَى مَوْجُودٌ لَا بِعِلَّةٍ وَلَا بِمُوجِدٍ. ثُمَّ تَلِيهَا الصِّفَاتُ السَّلْبِيَّةُ وَهِيَ خَمْسَةٌ: الْقِدَمُ وَالْبَقَاءُ وَالْمُخَالَفَةُ لِلْحَوَادِثِ وَالْقِيَامُ بِالنَّفْسِ وَالْوَحْدَانِيَّةُ. وَهِيَ الصِّفَاتُ الَّتِي تَنْفِي عَنِ اللهِ تَعَالَى مَا لَا يَلِيقُ بِجَلَالِهِ وَقُدْسِهِ.
Terjemahan & Tafsir Mendalam Blok 2:
Adapun yang termasuk dalam Sifat Nafsiyah adalah Al-Wujud (Ada), yang maknanya adalah bahwa Allah Ta'ala itu ada tanpa sebab dan tanpa ada yang mengadakan. Keberadaan-Nya adalah mutlak dan menjadi sumber bagi segala keberadaan lainnya. Kemudian diikuti oleh Sifat Salbiyah yang berjumlah lima, yaitu: Al-Qidam (Dahulu tanpa awal), Al-Baqa (Kekal tanpa akhir), Mukhalafatu lil Hawaditsi (Berbeda dengan makhluk), Qiyamuhu Binafsihi (Berdiri sendiri), dan Al-Wahdaniyyah (Esa). Sifat-sifat salbiyah ini berfungsi untuk menafikan atau meniadakan segala sifat kekurangan yang tidak layak bagi keagungan dan kesucian Allah. Misalnya, Al-Qidam menafikan adanya permulaan bagi Allah, dan Mukhalafatu lil Hawaditsi menafikan adanya kemiripan antara Allah dengan segala sesuatu yang baru (makhluk), baik dalam zat, sifat, maupun perbuatan-Nya.

