Ilmu tauhid merupakan fondasi utama dalam bangunan keislaman seorang hamba, di mana pengenalan terhadap Sang Khaliq (Ma’rifatullah) menjadi titik tolak segala bentuk peribadatan. Dalam tradisi intelektual Islam, khususnya mazhab Al-Asy’ariyah dan Al-Maturidiyah, para ulama telah merumuskan sistematika pengenalan sifat-sifat Allah yang terbagi menjadi sifat Nafsiyah, Salbiyah, Ma’ani, dan Ma’nawiyah. Pendekatan ini bukan sekadar hafalan dogmatis, melainkan sebuah konstruksi epistemologis yang menggabungkan ketajaman wahyu dan kejernihan akal sehat untuk menolak segala bentuk tasybih (penyerupaan) dan ta’thil (peniadaan) terhadap hakikat ketuhanan. Memahami dua puluh sifat wajib ini berarti menyelami kedalaman makna eksistensi yang absolut dan menata hati agar senantiasa merasa dalam pengawasan-Nya yang Mahasempurna.
هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ . هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلَامُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُ سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يُشْرِكُونَ . هُوَ اللَّهُ الْخَالِقُ الْبَارِئُ الْمُصَوِّرُ لَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى يُسَبِّحُ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ . وَاعْلَمْ أَنَّ الْوُجُودَ لَهُ تَعَالَى صِفَةٌ نَفْسِيَّةٌ وَهِيَ حَالٌ وَاجِبَةٌ لِلذَّاتِ مَا دَامَتِ الذَّاتُ غَيْرَ مُعَلَّلَةٍ بِعِلَّةٍ
Terjemahan & Tafsir Mendalam Blok 1:
Dialah Allah yang tidak ada Tuhan selain Dia, Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata, Dialah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dialah Allah yang tidak ada Tuhan selain Dia, Raja, Yang Mahasuci, Yang Mahasejahtera, Yang Mengaruniakan Keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Mahaperkasa, Yang Mahakuasa, Yang Memiliki segala Keagungan, Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan. Dialah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Dia memiliki nama-nama yang paling baik. Bertasbih kepada-Nya apa yang ada di langit dan di bumi. Dan Dialah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana (QS. Al-Hasyr: 22-24). Dalam analisis teologis, sifat pertama yang wajib bagi Allah adalah Wujud (Ada). Sifat ini dikategorikan sebagai Sifat Nafsiyah, yaitu sifat yang secara substansial menunjukkan keberadaan Zat Allah itu sendiri tanpa adanya faktor eksternal atau sebab yang mengadakan-Nya. Berbeda dengan makhluk yang keberadaannya bersifat mungkin (mumkinul wujud) dan membutuhkan pencipta, keberadaan Allah adalah Wajib al-Wujud (Wajib adanya). Tanpa adanya Wujud, maka seluruh alam semesta ini tidak akan pernah melintas dari ketiadaan menuju keberadaan.
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ . قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ . اللَّهُ الصَّمَدُ . لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ . وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ . وَأَمَّا الصِّفَاتُ السَّلْبِيَّةُ فَهِيَ خَمْسَةٌ : الْقِدَمُ وَالْبَقَاءُ وَمُخَالَفَتُهُ لِلْحَوَادِثِ وَقِيَامُهُ بِنَفْسِهِ وَالْوَحْدَانِيَّةُ . وَمَعْنَى السَّلْبِيَّةِ أَنَّهَا تَسْلُبُ عَنِ اللَّهِ تَعَالَى مَا لَا يَلِيقُ بِجَلَالِهِ وَكَمَالِهِ مِنْ صِفَاتِ النَّقْصِ وَالْحُدُوثِ
Terjemahan & Tafsir Mendalam Blok 2:
Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat (QS. Asy-Syura: 11). Katakanlah: Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia (QS. Al-Ikhlas: 1-4). Bagian kedua adalah Sifat Salbiyah yang terdiri dari lima sifat: Qidam (Terdahulu tanpa permulaan), Baqa (Kekal tanpa akhir), Mukhalafatu lil Hawaditsi (Berbeda dengan makhluk), Qiyamuhu Binafsihi (Berdiri sendiri), dan Wahdaniyah (Esa). Sifat Salbiyah berfungsi untuk meniadakan (salb) segala atribut kekurangan yang tidak layak bagi keagungan Allah. Misalnya, Qidam meniadakan sifat baru (huduth), dan Wahdaniyah meniadakan konsep berbilang (ta'addud) baik pada Zat, Sifat, maupun Perbuatan-Nya. Penegasan ini sangat krusial untuk menjaga kemurnian tauhid dari infiltrasi pemikiran antropomorfisme yang mencoba membayangkan Tuhan dalam bentuk fisik atau keterbatasan materi.
اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ . وَصِفَاتُ الْمَعَانِي هِيَ كُلُّ صِفَةٍ مَوْجُودَةٍ قَائِمَةٍ بِذَاتِ اللَّهِ تَعَالَى أَوْجَبَتْ لَهُ حُكْمًا وَهِيَ سَبْعَةٌ : الْقُدْرَةُ وَالْإِرَادَةُ وَالْعِلْمُ وَالْحَيَاةُ وَالسَّمْعُ وَالْبَصَرُ وَالْكَلَامُ
Terjemahan & Tafsir Mendalam Blok 3:

