Peradaban modern yang ditandai oleh disrupsi teknologi, hiper-individualisme, dan dominasi materialisme telah membawa manusia pada puncak pencapaian sains sekaligus jurang krisis spiritual yang akut. Dalam lanskap kehidupan kontemporer ini, tantangan terhadap iman tidak lagi sekadar berupa penyembahan berhala fisik tradisional seperti batu atau kayu, melainkan bermutasi menjadi bentuk-bentuk berhala modern yang lebih samar, halus, dan destruktif. Berhala-berhala baru ini bermanifestasi dalam bentuk pemujaan terhadap ego, konsumerisme akut, sekularisme ekstrem, hingga ketergantungan mutlak pada sistem materialistik yang mengabaikan transendensi ketuhanan. Oleh karena itu, merekonstruksi pemahaman tauhid bukan lagi sekadar urusan teologis-teoretis di ruang kelas, melainkan sebuah kebutuhan eksistensial yang mendesak untuk menyelamatkan kem