Pernah nggak sih kamu ngerasa kayak lagi lari di treadmill tapi nggak sampai-sampai? Lihat teman posting liburan ke luar negeri, ganti gadget paling baru, atau pamer pencapaian di LinkedIn, rasanya hati langsung mencelos dan cemas. Fenomena FOMO atau Fear of Missing Out ini emang jadi musuh utama kesehatan mental generasi kita sekarang. Kita seolah dipaksa buat ikutin standar pop culture yang nggak ada habisnya. Padahal, mengejar validasi manusia itu ibarat minum air garam, makin diminum makin haus dan malah bikin mental kita burnout.
Langkah pertama buat sembuh dari rasa cemas ini adalah dengan sadar kalau setiap orang punya timeline masing-masing yang sudah diatur dengan sangat presisi oleh Allah. Nggak perlu buru-buru pengen sama kayak orang lain cuma karena tekanan sosial. Kalau hati lagi ngerasa sesak banget karena ekspektasi duniawi, coba deh baca doa yang pernah dipanjatkan Nabi Musa ini:
رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي
Artinya: Ya Tuhanku, lapangkanlah dadaku, dan mudahkanlah urusanku.
Dengan berserah diri, beban di pundak rasanya jadi jauh lebih ringan karena kita tahu ada kekuatan besar yang mem-back up setiap langkah kita. Inner peace itu nggak datang dari berapa banyak likes yang kita dapat, tapi dari seberapa yakin kita sama takdir-Nya.
Selain itu, kuncinya adalah melatih rasa cukup atau qana'ah. Di dunia yang serba pamer ini, punya hati yang tenang itu adalah flex yang sesungguhnya. Jangan sampai kita kehilangan jati diri cuma demi pengakuan circle atau tren yang sifatnya sementara. Ingatlah janji Allah dalam Al-Qur'an yang sangat menyejukkan ini:
اَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَىِٕنُّ الْقُلُوْبُ
Artinya: Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.
Jadi, kalau kamu mulai merasa overthinking atau insecure, coba deh taruh HP-mu sebentar, ambil wudhu, dan rasakan ketenangan yang nggak bakal kamu dapetin dari scrolling konten mana pun. Fokuslah pada progres dirimu sendiri, bukan pada kompetisi yang diciptakan oleh layar smartphone.

