Ibadah puasa atau as-siyam merupakan salah satu rukun Islam yang memiliki kedudukan spiritual dan hukum sangat vital dalam syariat. Para ulama dari empat madzhab fiqih utama—Al-Hanafiyyah, Al-Malikiyyah, Ash-Syafi'iyyah, dan Al-Hanabilah—telah melakukan kajian deduktif yang sangat mendalam terhadap teks Al-Qur'an dan As-Sunnah untuk merumuskan batasan legalitas puasa. Pemahaman yang jernih mengenai perbedaan antara syarat wujub, syarat sah, dan rukun puasa menjadi krusial agar ibadah yang dijalankan tidak hanya menggugurkan kewajiban secara administratif hukum, melainkan juga sah dan diterima di sisi Allah Subhanahu wa Ta'ala. Dalam tradisi fiqih muqaran (komparatif), perbedaan penafsiran ulama terhadap struktur hukum ini bukanlah sebuah pertentangan destruktif, melainkan wujud kekayaan metodologi istinbat hukum Islam.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ . وَالصَّوْمُ فِي الشَّرِيعَةِ هُوَ الإِمْسَاكُ عَنْ المَفْطِرَاتِ مِنْ طُلُوعِ الفَجْرِ الصَّادِقِ إِلَى غُرُوبِ الشَّمْسِ مَعَ النِّيَّةِ المَخْصُوصَةِ.

Dalam Artikel

Terjemahan dan Syarah Mendalam Blok 1