Ilmu Tauhid merupakan fondasi utama dalam bangunan syariat Islam yang menuntut setiap mukallaf untuk mengenal Tuhannya dengan pengenalan yang pasti melalui dalil-dalil yang kuat. Para ulama Ahlussunnah wal Jama'ah, khususnya dalam madzhab Asy'ariyyah dan Maturidiyyah, telah merumuskan sifat-sifat wajib bagi Allah Swt sebagai sarana untuk mensucikan-Nya dari segala kekurangan. Sifat wajib di sini bermakna sifat yang secara akal tidak mungkin tidak ada pada zat Allah Swt. Mempelajari sifat-sifat ini bukan sekadar rutinitas lisan, melainkan sebuah upaya intelektual dan spiritual untuk memahami hakikat ketuhanan yang melampaui batas ruang dan waktu. Kita akan membedah secara mendalam bagaimana teks suci Al-Quran dan argumentasi rasional bersinergi dalam menetapkan sifat-sifat kesempurnaan tersebut.
إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ يُغْشِي اللَّيْلَ النَّهَارَ يَطْلُبُهُ حَثِيثًا وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ وَالنُّجُومَ مُسَخَّرَاتٍ بِأَمْرِهِ أَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْأَمْرُ تَبَارَكَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ
Terjemahan & Tafsir Mendalam Blok 1:
Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas 'Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam. (QS. Al-A'raf: 54). Ayat ini merupakan dalil naqli yang sangat kuat bagi sifat Wujud (Keberadaan) Allah. Secara epistemologis, keberadaan alam semesta yang teratur ini merupakan bukti nyata (Burhan al-Huduth) bahwa ada Sang Pencipta yang Maha Ada. Sifat Wujud adalah sifat Nafsiyyah, yaitu sifat yang berhubungan dengan zat Allah itu sendiri tanpa tambahan makna lain. Para mufassir menekankan bahwa keteraturan kosmik menunjukkan bahwa Wujud Allah adalah Wujud Hakiki yang bersifat Wajib al-Wujud (Wajib adanya), berbeda dengan makhluk yang bersifat Mumkin al-Wujud (Mungkin adanya).
هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ . هُوَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ يَعْلَمُ مَا يَلِجُ فِي الْأَرْضِ وَمَا يَخْرُجُ مِنْهَا وَمَا يَنْزِلُ مِنَ السَّمَاءِ وَمَا يَعْرُجُ فِيهَا وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ
Terjemahan & Tafsir Mendalam Blok 2:
Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Zhahir dan Yang Bathin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa; Kemudian Dia bersemayam di atas 'Arsy. Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepadanya. Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Hadid: 3-4). Dalam blok teks ini, Allah menetapkan sifat Qidam (Terdahulu tanpa permulaan) dan Baqa (Kekal tanpa akhir). Sifat Qidam menegaskan bahwa tidak ada ketiadaan yang mendahului keberadaan Allah, sementara Baqa menjamin bahwa tidak akan ada kepunahan bagi-Nya. Istilah Al-Awwal dalam ayat ini mengandung makna filosofis yang dalam bahwa Allah adalah sebab pertama (Al-Illah al-Ula) yang tidak membutuhkan penyebab lain. Sifat ini disebut sebagai Sifat Salbiyyah, yaitu sifat yang meniadakan hal-hal yang tidak layak bagi Allah, dalam hal ini meniadakan permulaan dan pengakhiran bagi zat-Nya.
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ . فَاطِرُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ جَعَلَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا وَمِنَ الْأَنْعَامِ أَزْواجًا يَذْرَؤُكُمْ فِيهِ لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
Terjemahan & Tafsir Mendalam Blok 3:

