Mengenal Allah Swt (Ma’rifatullah) merupakan kewajiban pertama bagi setiap mukallaf sebelum menjalankan syariat lainnya. Dalam diskursus teologi Islam (Ilmu Kalam), para ulama telah merumuskan sistematika pemahaman terhadap khalik melalui klasifikasi sifat-sifat wajib yang berjumlah dua puluh. Sifat-sifat ini bukanlah sekadar hafalan dogmatis, melainkan sebuah perangkat epistemologis untuk membentengi akidah dari paham tasybih (menyerupakan Allah dengan makhluk) dan ta’thil (meniadakan sifat Allah). Pendekatan yang digunakan oleh para imam madzhab Asy’ariyah dan Maturidiyah mengintegrasikan antara wahyu yang absolut dengan nalar logika yang sehat, sehingga menghasilkan pemahaman tauhid yang kokoh dan tak tergoyahkan oleh syubhat zaman.

أَوَّلُ وَاجِبٍ عَلَى الْإِنْسَانِ مَعْرِفَةُ الْإِلَهِ بِاسْتِيْقَانِ. فَإِنَّ اللهَ تَعَالَى وَاجِبُ الْوُجُودِ، لَا يَفْتَقِرُ إِلَى مُوجِدٍ يُوجِدُهُ، بَلْ هُوَ الْخَالِقُ لِكُلِّ مَوْجُودٍ. وَمَعْنَى الْوُجُودِ فِي حَقِّهِ تَعَالَى أَنَّهُ ثَابِتٌ لَا مَحَالَةَ، وَلَيْسَ وُجُودُهُ كَوُجُودِ الْحَوَادِثِ الَّتِي تَقْبَلُ الْعَدَمَ، بَلْ وُجُودُهُ ذَاتِيٌّ أزَلِيٌّ أَبَدِيٌّ، كَمَا قَالَ تَعَالَى: شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ وَالْمَلَائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ.

Dalam Artikel

Kewajiban pertama bagi manusia adalah mengenal Tuhan dengan keyakinan yang pasti. Sesungguhnya Allah Ta’ala adalah Wajib al-Wujud (Zat yang wajib adanya), Dia tidak membutuhkan pencipta yang mewujudkan-Nya, melainkan Dialah Pencipta bagi segala yang ada. Makna Wujud pada hak Allah Ta’ala adalah bahwa keberadaan-Nya bersifat pasti dan tetap. Keberadaan-Nya tidaklah sama dengan keberadaan makhluk (hawadits) yang menerima ketiadaan, melainkan keberadaan-Nya bersifat dzati, azali (tanpa awal), dan abadi (tanpa akhir). Hal ini selaras dengan firman-Nya dalam Surah Ali Imran ayat 18 yang menegaskan kesaksian Allah atas keesaan-Nya sendiri yang tegak dengan keadilan. Sifat Wujud ini disebut sebagai sifat Nafsiyah, yaitu sifat yang berhubungan dengan Zat Allah itu sendiri tanpa tambahan makna lain.

وَمِنْ صِفَاتِهِ السَّلْبِيَّةِ الْمُخَالَفَةُ لِلْحَوَادِثِ، وَهِيَ تَنْزِيْهُهُ تَعَالَى عَنْ مُشَابَهَةِ الْمَخْلُوقَاتِ فِي الذَّاتِ وَالصِّفَاتِ وَالْأَفْعَالِ. فَلَا جِرْمَ لَهُ وَلَا عَرَضَ، وَلَا يَحْوِيْهِ مَكَانٌ وَلَا يَجْرِي عَلَيْهِ زَمَانٌ. قَالَ اللهُ تَعَالَى: لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ. فَهَذِهِ الْآيَةُ أَصْلٌ فِي التَّنْزِيْهِ، تَقْطَعُ كُلَّ تَوَهُّمٍ بِالتَّجْسِيْمِ أَوْ التَّشْبِيْهِ، فَكُلُّ مَا خَطَرَ بِبَالِكَ فَاللهُ بِخِلَافِ ذَلِكَ.

Di antara sifat-sifat Salbiyah adalah Mukhalafatu lil Hawaditsi, yaitu pensucian Allah Ta’ala dari menyerupai makhluk-makhluk-Nya, baik dalam Zat, Sifat, maupun Perbuatan. Maka Allah bukanlah jirim (materi/tubuh) dan bukan pula ‘aradh (sifat yang menempel pada materi). Dia tidak diliputi oleh ruang (tempat) dan tidak pula berlaku bagi-Nya dimensi waktu. Allah Ta’ala berfirman: Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya, dan Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat (QS. Asy-Syura: 11). Ayat ini merupakan fondasi utama dalam tanzih (mensucikan Allah), yang memutus segala waham atau imajinasi tentang tajsim (pembendaan) atau tasybih. Prinsip kaidahnya adalah: apa pun yang terlintas dalam gambaran pikiranmu tentang Allah, maka Allah tidaklah seperti itu.

ثُمَّ نَنْتَقِلُ إِلَى صِفَاتِ الْمَعَانِي، وَمِنْهَا الْقُدْرَةُ وَالْإِرَادَةُ. فَالْقُدْرَةُ صِفَةٌ أَزَلِيَّةٌ يُوجِدُ بِهَا وَيُعْدِمُ عَلَى وَفْقِ الْإِرَادَةِ. وَالْإِرَادَةُ هِيَ التَّخْصِيْصُ، أَيْ تَخْصِيْصُ الْمُمْكِنِ بِبَعْضِ مَا يَجُوْزُ عَلَيْهِ. قَالَ اللهُ تَعَالَى: إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ. فَلَا يَقَعُ فِي مُلْكِهِ إِلَّا مَا أَرَادَ، وَلَا يَعْجِزُهُ شَيْءٌ فِي السَّمَاوَاتِ وَلَا فِي الْأَرْضِ، بَلْ هُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ.

Kemudian kita berpindah pada Sifat Ma’ani, yang di antaranya adalah Qudrah (Kuasa) dan Iradah (Kehendak). Qudrah adalah sifat azali yang dengannya Allah mewujudkan atau meniadakan segala sesuatu sesuai dengan ketentuan Iradah. Sedangkan Iradah adalah sifat takhshish, yaitu menentukan nasib makhluk atas sebagian perkara yang mungkin terjadi padanya. Allah Ta’ala berfirman: Sesungguhnya urusan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: Jadilah! Maka terjadilah ia (QS. Yasin: 82). Maka, tidak akan terjadi di alam semesta ini melainkan apa yang telah Dia kehendaki, dan tidak ada sesuatu pun yang mampu melemahkan-Nya baik di langit maupun di bumi, karena sesungguhnya Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.

وَأَمَّا صِفَةُ الْعِلْمِ فَهِيَ صِفَةٌ انْكِشَافِيَّةٌ، يَعْلَمُ بِهَا جَمِيعَ الْوَاجِبَاتِ وَالْمُسْتَحِيْلَاتِ وَالْجَائِزَاتِ، لَا يَعْزُبُ عَنْهُ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ. وَكَذَلِكَ الْكَلَامُ، فَهُوَ صِفَةٌ قَدِيْمَةٌ قَائِمَةٌ بِذَاتِهِ تَعَالَى، لَيْسَ بِحَرْفٍ وَلَا صَوْتٍ، مُنَزَّهٌ عَنْ التَّقَدُّمِ وَالتَّأَخُّرِ وَالتَّرْتِيْبِ. قَالَ اللهُ تَعَالَى: وَكَلَّمَ اللَّهُ مُوسَى تَكْلِيمًا. فَالْقُرْآنُ الْكَرِيمُ دَالٌّ عَلَى كَلَامِهِ الْقَدِيمِ، وَهُوَ مَعْجِزَةٌ خَالِدَةٌ تَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ.

Adapun sifat Ilmu adalah sifat inkisyaf (menyingkap), yang dengannya Allah mengetahui segala hal yang wajib, yang mustahil, dan yang jaiz (mungkin), tidak ada sekecil biji sawi pun yang luput dari pengetahuan-Nya. Demikian pula dengan sifat Kalam (Berfirman), ia adalah sifat yang qadim yang berdiri pada Zat Allah Ta’ala, tidak terdiri dari huruf maupun suara, serta suci dari sifat terdahulu, terkemudian, atau berurutan (seperti bahasa manusia). Allah Ta’ala berfirman: Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung (QS. An-Nisa: 164). Maka Al-Quran al-Karim yang kita baca adalah petunjuk yang menunjukkan atas Kalam-Nya yang Qadim, sebuah mukjizat abadi yang memberi petunjuk kepada jalan yang paling lurus.