Mengenal Allah Swt (Ma'rifatullah) merupakan fondasi utama dalam bangunan iman setiap Muslim. Tanpa pemahaman yang benar mengenai sifat-sifat-Nya, seorang hamba akan terjebak dalam ruang gelap ketidaktahuan atau bahkan terjerumus ke dalam tasybih (menyerupakan Allah dengan makhluk) atau ta'thil (meniadakan sifat Allah). Para ulama mutakallimin, khususnya dari madzhab Asy'ariyah dan Maturidiyah, telah merumuskan sistematika pemahaman akidah melalui dua puluh sifat wajib yang harus diyakini ada pada Zat Yang Maha Kuasa. Sifat-sifat ini bukanlah tambahan atas Zat-Nya secara terpisah dalam realitas eksternal yang plural, melainkan merupakan hakikat kesempurnaan yang mutlak milik-Nya. Pemahaman ini dibangun di atas dalil naqli yang qath'i serta dalil aqli yang rasional-logis guna membungkam keraguan kaum skeptis dan memperkuat keyakinan kaum beriman.
PENJELASAN BLOK 1: SIFAT NAFSIYAH DAN HAKIKAT WUJUD ALLAH
Sifat Nafsiyah adalah sifat yang berhubungan dengan Zat Allah itu sendiri. Dalam hal ini, Wujud (Ada) adalah sifat nafsiyah yang tunggal. Para ulama menjelaskan bahwa wujud Allah adalah Wajib al-Wujud, artinya keberadaan-Nya bersifat mutlak dan tidak didahului oleh tiada. Berbeda dengan makhluk yang bersifat Mumkin al-Wujud (mungkin ada dan mungkin tidak ada), Allah adalah penyebab pertama (Al-Illah al-Ula) yang tidak membutuhkan penyebab lain untuk keberadaan-Nya.
تَوْحِيدُ اللَّهِ تَعَالَى هُوَ الْأَصْلُ الْأَصِيلُ فِي الدِّينِ، وَأَوَّلُ مَا يَجِبُ عَلَى الْمُكَلَّفِ مَعْرِفَتُهُ هُوَ وُجُودُ اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى. وَالْوُجُودُ صِفَةٌ نَفْسِيَّةٌ لَا يَتَصَوَّرُ الْعَقْلُ الذَّاتَ بِدُونِهَا. قَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْعَزِيزِ: أَفِي اللَّهِ شَكٌّ فَاطِرِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ. فَهَذَا الِاسْتِفْهَامُ لِلتَّقْرِيرِ، أَيْ لَا شَكَّ فِي وُجُودِهِ لِأَنَّ كُلَّ مَصْنُوعٍ لَا بُدَّ لَهُ مِنْ صَانِعٍ، وَكُلَّ حَادِثٍ لَا بُدَّ لَهُ مِنْ مُحْدِثٍ قَدِيمٍ وَاجِبِ الْوُجُودِ لِذَاتِهِ.
Terjemahan dan Syarah Mendalam: Tauhid kepada Allah Ta'ala adalah pokok paling mendasar dalam agama, dan perkara pertama yang wajib bagi mukallaf adalah mengetahui wujud Allah Subhanahu wa Ta'ala. Wujud adalah sifat nafsiyah di mana akal tidak dapat membayangkan adanya Zat tanpa sifat ini. Allah Ta'ala berfirman dalam kitab-Nya yang mulia: Apakah ada keraguan terhadap Allah, Pencipta langit dan bumi? (QS. Ibrahim: 10). Pertanyaan ini berfungsi sebagai penetapan (taqrir), yakni tidak ada keraguan sedikit pun atas keberadaan-Nya karena setiap ciptaan pasti memiliki pencipta, dan setiap kejadian pasti memiliki pencipta yang bersifat Qadim (dahulu) dan Wajib al-Wujud secara Zat-Nya.
PENJELASAN BLOK 2: SIFAT SALBIYAH SEBAGAI PENAFIAN KEKURANGAN
Setelah menetapkan wujud-Nya, kita harus memahami Sifat Salbiyah. Sifat ini berfungsi untuk menafikan atau meniadakan hal-hal yang tidak layak bagi keagungan Allah. Sifat-sifat tersebut meliputi Qidam (Dahulu tanpa awal), Baqa (Kekal tanpa akhir), Mukhalafatu lil Hawaditsi (Berbeda dengan makhluk), Qiyamuhu Binafsihi (Berdiri sendiri), dan Wahdaniyah (Esa). Melalui sifat-sifat ini, kita mensucikan Allah dari segala bentuk keterbatasan ruang, waktu, dan komposisi materi.
يَجِبُ تَنْزِيهُ الذَّاتِ الْعَلِيَّةِ عَنْ مَشَابَهَةِ الْمَخْلُوقَاتِ وَعَنْ كُلِّ مَا يُوجِبُ النَّقْصَ وَالْحُدُوثَ. قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ. فَقَوْلُهُ لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ رَدٌّ عَلَى الْمُجَسِّمَةِ وَالْمُشَبِّهَةِ، وَقَوْلُهُ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ رَدٌّ عَلَى الْمُعَطِّلَةِ. فَاللَّهُ تَعَالَى قَدِيمٌ بِلَا ابْتِدَاءٍ، بَاقٍ بِلَا انْتِهَاءٍ، لَا يَفْنَى وَلَا يَبِيدُ، وَلَا يَكُونُ إِلَّا مَا يُرِيدُ، لَا تَبْلُغُهُ الْأَوْهَامُ وَلَا تُدْرِكُهُ الْأَفْهَامُ وَلَا يُشْبِهُ الْأَنَامَ.
Terjemahan dan Syarah Mendalam: Wajib mensucikan Zat yang Maha Tinggi dari menyerupai makhluk dan dari segala sesuatu yang menyebabkan kekurangan serta kebaruan. Allah Ta'ala berfirman: Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat (QS. Asy-Syura: 11). Firman-Nya Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia adalah bantahan bagi kaum Mujassimah (yang menjasmanikan Allah) dan Musyabbihah (yang menyerupakan Allah), sedangkan firman-Nya dan Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat adalah bantahan bagi kaum Mu'atthilah (yang meniadakan sifat Allah). Maka Allah Ta'ala adalah Maha Dahulu tanpa permulaan, Maha Kekal tanpa akhir, tidak akan punah dan tidak akan binasa, tidak terjadi kecuali apa yang Dia kehendaki, tidak dapat dicapai oleh khayalan dan tidak dapat dijangkau oleh pemahaman, serta tidak menyerupai manusia/makhluk.

