Mengenal Allah Swt (Ma’rifatullah) merupakan fondasi utama dalam bangunan keislaman setiap mukmin. Tanpa pemahaman yang benar mengenai hakikat ketuhanan, ibadah seseorang berisiko terjebak dalam ruang hampa tanpa arah. Para ulama mutakallimin, khususnya dari madrasah Asy’ariyah dan Maturidiyah, telah merumuskan metodologi sistematis untuk memahami sifat-sifat Allah melalui pendekatan dalil naqli (teks wahyu) dan dalil aqli (logika rasional). Sifat wajib bagi Allah bukan sekadar hafalan, melainkan sebuah perangkat epistemologis untuk membedakan antara Sang Pencipta yang bersifat Qadim (terdahulu) dengan makhluk yang bersifat Hadits (baru). Kajian ini akan membedah secara mendalam beberapa sifat dasar yang menjadi poros utama dalam memahami keagungan Zat Yang Maha Suci.

Landasan pertama dalam akidah adalah menetapkan keberadaan (Wujud) Allah Swt sebagai satu-satunya realitas yang bersifat Wajib al-Wujud. Keberadaan Allah tidak membutuhkan sebab lain, karena Dialah penyebab dari segala sebab. Secara logika, keberadaan alam semesta yang bersifat mungkin (mungkin al-wujud) meniscayakan adanya pencipta yang keberadaannya bersifat mutlak dan niscaya.

Dalam Artikel

إِنَّ اللهَ تَعَالَى مَوْجُوْدٌ وَوُجُوْدُهُ ذَاتِيٌّ لَا يَقْبَلُ الْعَدَمَ لَا أَزَلًا وَلَا أَبَدًا وَهُوَ الْوَاجِبُ الْوُجُوْدِ الَّذِيْ لَا يَفْتَقِرُ إِلَى مُوْجِدٍ يُوْجِدُهُ بَلْ كُلُّ مَا سِوَاهُ مُفْتَقِرٌ إِلَيْهِ فِيْ وُجُوْدِهِ وَبَقَائِهِ

Terjemahan dan Syarah: Sesungguhnya Allah Ta’ala itu Ada, dan keberadaan-Nya adalah bersifat zat (esensial), tidak menerima ketiadaan baik dalam dimensi azali (masa lampau tanpa batas) maupun abadi (masa depan tanpa batas). Dialah Wajib al-Wujud (Zat yang niscaya keberadaan-Nya) yang tidak membutuhkan pencipta yang mewujudkan-Nya, melainkan segala sesuatu selain-Nya justru sangat membutuhkan-Nya dalam hal eksistensi dan keberlangsungannya. Penjelasan ini menegaskan bahwa sifat Wujud bagi Allah adalah Sifat Nafsiyah, yaitu sifat yang berhubungan dengan Zat Allah itu sendiri tanpa tambahan makna lain, yang membedakan-Nya dari ketiadaan.

Setelah menetapkan keberadaan-Nya, diskursus teologi berlanjut pada sifat Qidam (Terdahulu) dan Baqa (Kekal). Allah Swt tidak dibatasi oleh dimensi waktu karena Dialah yang menciptakan waktu itu sendiri. Jika Allah memiliki permulaan, maka Dia akan bersifat baru, dan setiap yang baru membutuhkan pencipta, yang akan berujung pada mata rantai tanpa akhir (tasalsul) atau lingkaran logika (daur), yang keduanya mustahil secara akal.

هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ . قَالُ الْعُلَمَاءُ مَعْنَى الْأَوَّلِ هُوَ الَّذِيْ لَا ابْتِدَاءَ لِوُجُوْدِهِ وَمَعْنَى الْآخِرِ هُوَ الَّذِيْ لَا انْتِهَاءَ لِوُجُوْدِهِ فَهُوَ الْقَدِيْمُ الْبَاقِي سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى

Terjemahan dan Syarah: Dialah Yang Awal, Yang Akhir, Yang Zahir, dan Yang Batin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. Para ulama menjelaskan bahwa makna Al-Awwal adalah Zat yang tidak ada permulaan bagi keberadaan-Nya, dan makna Al-Akhir adalah Zat yang tidak ada kesudahan bagi keberadaan-Nya. Maka Dia adalah Zat yang Maha Qadim (dahulu tanpa awal) dan Maha Baqa (kekal tanpa akhir). Sifat Qidam dan Baqa disebut sebagai Sifat Salbiyah, yaitu sifat yang berfungsi untuk meniadakan hal-hal yang tidak layak bagi Allah, dalam hal ini meniadakan sifat kefanaan dan keterikatan pada waktu yang merupakan ciri khas makhluk.

Pilar ketiga yang sangat krusial dalam menjaga kemurnian tauhid adalah sifat Mukhalafah lil Hawadithi (Berbeda dengan makhluk). Sifat ini memutus segala bentuk antropomorfisme (penyerupaan Tuhan dengan manusia) yang sering kali muncul dalam imajinasi manusia yang terbatas. Allah tidak menyerupai makhluk-Nya dalam zat, sifat, maupun perbuatan.

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ . فَاللَّهُ تَعَالَى لَا يُشْبِهُ الْأَجْسَامَ وَلَا الْأَعْرَاضَ وَلَا يَتَحَيَّزُ فِيْ جِهَةٍ وَلَا مَكَانٍ لِأَنَّ الْمُشَابَهَةَ لِلْحَوَادِثِ تَقْتَضِي الْحُدُوْثَ وَهُوَ مُحَالٌ عَلَى اللهِ