Ilmu akidah merupakan fondasi utama dalam bangunan Islam yang menentukan keabsahan seluruh amal ibadah seorang hamba. Tanpa pemahaman yang lurus mengenai siapa Tuhan yang disembah, seorang manusia akan terjebak dalam ruang gelap keraguan atau penyerupaan (tasybih). Para ulama mutakallimin, khususnya dari kalangan Asy-ariyyah dan Maturidiyyah, telah merumuskan sistematika pengenalan terhadap Allah melalui sifat-sifat wajib yang berjumlah dua puluh. Sifat-sifat ini bukanlah sekadar hafalan dogmatis, melainkan sebuah perangkat logis dan wahyu yang membawa akal manusia untuk tunduk pada keagungan Sang Pencipta. Mempelajari sifat-sifat ini berarti menyelami hakikat eksistensi dan memahami batasan antara yang Khaliq dan yang mahluk.

PONDASI EKSISTENSI: SIFAT NAFSIYYAH DAN WUJUD ALLAH

Dalam Artikel

Pengenalan pertama dimulai dengan sifat Nafsiyyah, yaitu sifat yang berhubungan dengan zat Allah itu sendiri. Sifat ini hanya satu, yakni Wujud (Ada). Secara logika, adanya alam semesta yang teratur ini mustahil terjadi tanpa adanya penggerak pertama yang keberadaannya bersifat niscaya. Allah adalah Wajib al-Wujud, zat yang keberadaannya tidak bergantung pada apa pun dan tidak didahului oleh ketiadaan.

قَالَ اللّٰهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: اَفِي اللّٰهِ شَكٌّ فَاطِرِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ. وَقَالَ الْاِمَامُ السَّنُوْسِيُّ فِي اُمِّ الْبَرَاهِيْنِ: فَمِمَّا يَجِبُ لِمَوْلَانَا جَلَّ وَعَزَّ عِشْرُوْنَ صِفَةً، فَاَوْلُهَا الْوُجُوْدُ. وَهُوَ صِفَةٌ نَفْسِيَّةٌ لَا يَتَصَوَّرُ الْعَقْلُ الذَّاتَ بِدُوْنِهَا، وَدَلِيْلُهُ حُدُوْثُ الْعَالَمِ، فَلَوْ لَمْ يَكُنْ لَهُ صَانِعٌ لَزِمَ التَّرَجُّحُ بِلَا مُرَجِّحٍ وَهُوَ مُحَالٌ.

Terjemahan dan Syarah Mendalam:

Allah Swt berfirman dalam kitab-Nya yang mulia: Apakah ada keraguan terhadap Allah, Pencipta langit dan bumi? (QS. Ibrahim: 10). Imam As-Sanusi dalam kitab Umm al-Barahin menjelaskan: Di antara sifat yang wajib bagi Tuhan kita yang Maha Agung dan Mulia adalah dua puluh sifat. Yang pertama adalah Al-Wujud (Ada). Ini adalah sifat nafsiyyah di mana akal tidak dapat membayangkan adanya Zat tanpa adanya sifat ini. Dalilnya adalah kebaruan alam semesta (huduts al-alam). Jika alam ini tidak memiliki pencipta, maka akan terjadi adanya sesuatu tanpa penyebab (tarajjuuh bila murajjih), dan hal itu secara logika adalah mustahil. Penjelasan ini menekankan bahwa keberadaan Allah adalah kebenaran aksiomatik yang didukung oleh struktur logika penciptaan.

PENYUCIAN ZAT: SIFAT SALBIYYAH DAN KESUCIAN DARI KEKURANGAN

Setelah menetapkan keberadaan-Nya, kita harus meniadakan segala sifat kekurangan yang tidak layak bagi Allah melalui Sifat Salbiyyah. Sifat ini meliputi Qidam (Dahulu tanpa awal), Baqa (Kekal tanpa akhir), Mukhalafatu lil Hawaditsi (Berbeda dengan mahluk), Qiyamuhu Binafsihi (Berdiri sendiri), dan Wahdaniyyah (Esa). Sifat-sifat ini berfungsi sebagai pagar pembatas agar manusia tidak terjatuh dalam lubang antromorfisme atau penyamaan Tuhan dengan materi.

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ. وَفِي الْعَقِيْدَةِ الطَّحَاوِيَّةِ: تَعَالَى عَنِ الْحُدُوْدِ وَالْغَايَاتِ وَالْاَرْكَانِ وَالْاَعْضَاءِ وَالْاَدَوَاتِ، لَا تَحْوِيْهِ الْجِهَاتُ السِّتُّ كَسَائِرِ الْمُبْتَدَعَاتِ. قَدِيْمٌ بِلَا ابْتِدَاءٍ، دَائِمٌ بِلَا انْتِهَاءٍ، لَا يَفْنَى وَلَا يَبِيْدُ، وَلَا يَكُوْنُ اِلَّا مَا يُرِيْدُ.