Dalam diskursus teologi Islam atau Ilmu Kalam, mengenal Allah Swt bukanlah sekadar pengakuan lisan, melainkan sebuah pencapaian intelektual dan spiritual tertinggi yang disebut Ma'rifatullah. Para ulama mutakallimin, khususnya dari kalangan Asy'ariyah dan Maturidiyah, telah merumuskan sistematika pemahaman sifat-sifat Allah untuk menjaga kemurnian tauhid dari paham antropomorfisme (tasybih) maupun ateisme (ta'thil). Memahami sifat-sifat wajib bagi Allah merupakan kewajiban bagi setiap mukallaf agar pondasi keimanannya tegak di atas dalil yang kuat, baik dalil naqli yang bersumber dari wahyu maupun dalil aqli yang bersumber dari logika rasional yang jernih. Kajian ini akan membedah klasifikasi sifat-sifat tersebut mulai dari Sifat Nafsiyah, Salbiyah, Ma'ani, hingga Ma'nawiyah.
Sifat pertama yang menjadi pondasi utama adalah Al-Wujud. Secara ontologis, keberadaan Allah adalah Wajibul Wujud (Wajib adanya), di mana akal sehat tidak dapat menerima ketiadaan-Nya. Keberadaan alam semesta yang bersifat baru (hadits) secara logika memerlukan adanya Pencipta yang bersifat terdahulu (Qadim). Tanpa adanya sifat Wujud pada Tuhan, maka seluruh eksistensi ini hanyalah kemustahilan yang tidak mungkin terjadi.
هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ . هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلَامُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُ سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يُشْرِكُونَ . هُوَ اللَّهُ الْخَالِقُ الْبَارِئُ الْمُصَوِّرُ لَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى يُسَبِّحُ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
Terjemahan dan Tafsir Mendalam: Dialah Allah, tidak ada tuhan selain Dia. Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata, Dialah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dialah Allah, tidak ada tuhan selain Dia. Maharaja, Yang Mahakudus, Yang Mahasejahtera, Yang Menjaga Keamanan, Pemelihara Keselamatan, Yang Mahaperkasa, Yang Mahakuasa, Yang Memiliki Segala Keagungan. Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan. Dialah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Dia memiliki nama-nama yang paling baik. Apa yang ada di langit dan di bumi bertasbih kepada-Nya. Dan Dialah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana (QS. Al-Hasyr: 22-24). Syarah: Rangkaian ayat ini menegaskan eksistensi Allah (Wujud) melalui asma dan sifat-Nya yang agung. Sifat Wujud ini disebut Sifat Nafsiyah, yakni sifat yang berhubungan dengan Dzat Allah itu sendiri tanpa adanya tambahan makna di luar Dzat tersebut. Keberadaan-Nya adalah mutlak, tidak bergantung pada ruang dan waktu, serta menjadi sumber dari segala yang ada.
Setelah memahami Wujud, para ulama menjelaskan Sifat Salbiyah. Sifat ini berfungsi untuk meniadakan atau menafikan hal-hal yang tidak layak bagi keagungan Allah Swt. Sifat Salbiyah mencakup Qidam (Dahulu tanpa awal), Baqa (Kekal tanpa akhir), Mukhalafatu lil Hawaditsi (Berbeda dengan makhluk), Qiyamuhu Binafsihi (Berdiri sendiri), dan Wahdaniyah (Esa). Fokus utama dalam Sifat Salbiyah adalah memurnikan konsep ketuhanan dari segala bentuk penyerupaan dengan makhluk yang bersifat lemah dan terbatas.
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ . فَاطِرُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ جَعَلَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا وَمِنَ الْأَنْعَامِ أَزْوَاجًا يَذْرَؤُكُمْ فِيهِ لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ . قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ . اللَّهُ الصَّمَدُ . لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ . وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ
Terjemahan dan Tafsir Mendalam: Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat (QS. Asy-Syura: 11). Katakanlah (Muhammad), Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada sesuatu yang setara dengan Dia (QS. Al-Ikhlas: 1-4). Syarah: Ayat-ayat ini merupakan landasan utama Sifat Salbiyah. Ungkapan Laisa Kamitslihi Syaiun memutus segala bentuk imajinasi manusia tentang bentuk atau rupa Tuhan. Allah tidak bertempat karena tempat adalah makhluk, dan Allah ada sebelum tempat diciptakan. Sifat Wahdaniyah menegaskan bahwa Allah Maha Esa dalam Dzat-Nya, Esa dalam Sifat-Nya, dan Esa dalam Af'al (perbuatan-Nya), sehingga tidak ada sekutu bagi-Nya dalam mengatur alam semesta.
Selanjutnya adalah Sifat Ma'ani, yaitu sifat-sifat yang ada pada Dzat Allah yang memberikan konsekuensi makna tertentu. Sifat ini terdiri dari Qudrah (Kuasa), Iradah (Kehendak), Ilmu (Mengetahui), Hayat (Hidup), Sama' (Mendengar), Bashar (Melihat), dan Kalam (Berfirman). Berbeda dengan Sifat Salbiyah yang bersifat meniadakan kekurangan, Sifat Ma'ani adalah sifat kesempurnaan yang secara positif menetap pada Dzat Allah secara azali.
أَمَّا الصِّفَاتُ الْمَعَانِي فَهِيَ كُلُّ صِفَةٍ مَوْجُودَةٍ قَائِمَةٍ بِمَوْصُوفٍ أَوْجَبَتْ لَهُ حُكْمًا . فَالْقُدْرَةُ صِفَةٌ أَزَلِيَّةٌ تُؤَثِّرُ فِي الْمَقْدُورَاتِ وِفْقَ الْإِرَادَةِ . وَالْإِرَادَةُ صِفَةٌ أَزَلِيَّةٌ تُخَصِّصُ الْمُمْكِنَ بِبَعْضِ مَا يَجُوزُ عَلَيْهِ . وَالْعِلْمُ صِفَةٌ أَزَلِيَّةٌ تَنْكَشِفُ بِهَا الْمَعْلُومَاتُ عَلَى مَا هِيَ عَلَيْهِ انْكِشَافًا لَا يَحْتَمِلُ النَّقِيضَ

