Dalam diskursus keilmuan Islam, memahami hakikat ketuhanan bukan sekadar aktivitas kognitif, melainkan sebuah perjalanan ruhani yang berpijak pada fondasi wahyu yang rigid. Surah Al-Ikhlas, yang oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam disebut sebagai sepertiga Al-Quran, menyimpan kedalaman makna yang melampaui batas logika manusia biasa. Para mufassir dan ulama akidah menekankan bahwa setiap kata dalam surah ini merupakan bantahan telak terhadap berbagai penyimpangan teologis, baik itu ateisme, politeisme, maupun panteisme. Memahami konsep Ash-Shomad secara khusus, menuntut kita untuk menyelami samudera bahasa Arab klasik guna menangkap esensi ketergantungan mutlak seluruh makhluk kepada Sang Khalik, sementara Dia berdiri sendiri dalam kesempurnaan-Nya yang absolut.

PENJELASAN BLOK 1:

Dalam Artikel

Langkah awal dalam membedah tauhid adalah menetapkan kemutlakan zat Allah yang Esa. Kata Ahad bukan sekadar angka satu dalam hitungan matematis, melainkan sebuah pernyataan tentang ketunggalan yang tidak terbagi dan tidak memiliki sekutu dalam bentuk apa pun. Berikut adalah teks suci yang menjadi poros utama dalam kajian akidah ini:

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ . اللَّهُ الصَّمَدُ . لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ . وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُوًا أَحَدٌ . سُورَةُ الْإِخْلَاصِ كَامِلَةً بِتَمَامِهَا وَكَمَالِهَا الَّتِي تَعْدِلُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ كَمَا صَحَّ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي أَحَادِيثَ كَثِيرَةٍ لِأَنَّهَا تَضَمَّنَتْ صِفَاتِ الرَّحْمَنِ جَلَّ جَلَالُهُ وَتَوْحِيدَهُ الْخَالِصَ مِنَ الشَّرِكِ وَالنَّقْصِ

TERJEMAHAN DAN TAFSIR MENDALAM BLOK 1:

Katakanlah: Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia. Dalam Tafsir Ibnu Katsir, dijelaskan bahwa ayat ini turun sebagai jawaban atas pertanyaan kaum musyrikin mengenai nasab atau silsilah Tuhan. Allah menegaskan bahwa Dia adalah Al-Ahad, yang tunggal dalam keagungan-Nya, dan Ash-Shomad. Secara etimologis, Ash-Shomad berarti pemimpin yang telah mencapai puncak kepemimpinan, atau tempat tumpuan segala hajat. Secara teologis, ini bermakna Allah tidak membutuhkan makan, minum, atau bantuan dari siapa pun, sementara seluruh alam semesta bergetar dan bergerak hanya karena izin dan kehendak-Nya.

PENJELASAN BLOK 2:

Lebih dalam lagi, para sahabat Nabi seperti Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma memberikan perincian yang sangat filosofis namun tetap berpegang pada teks mengenai makna Ash-Shomad. Hal ini penting untuk membentengi umat dari pemahaman yang menganggap Tuhan memiliki sifat-sifat kemanusiaan (antropomorfisme) atau sebaliknya, meniadakan sifat-sifat Tuhan (ta'thil). Berikut adalah riwayat yang menjelaskan kemuliaan sifat tersebut:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا فِي قَوْلِهِ تَعَالَى الصَّمَدُ قَالَ هُوَ السَّيِّدُ الَّذِي قَدْ كَمُلَ فِي سُؤْدُدِهِ وَالشَّرِيفُ الَّذِي قَدْ كَمُلَ فِي شَرَفِهِ وَالْعَظِيمُ الَّذِي قَدْ كَمُلَ فِي عَظَمَتِهِ وَالْحَلِيمُ الَّذِي قَدْ كَمُلَ فِي حِلْمِهِ وَالْعَلِيمُ الَّذِي قَدْ كَمُلَ فِي عِلْمِهِ وَالْحَكِيمُ الَّذِي قَدْ كَمُلَ فِي حِكْمَتِهِ وَهُوَ الَّذِي قَدْ كَمُلَ فِي أَنْوَاعِ الشَّرَفِ وَالسُّؤْدُدِ وَهُوَ اللَّهُ سُبْحَانَهُ هَذِهِ صِفَتُهُ لَا تَنْبَغِي إِلَّا لَهُ