Dalam diskursus keislaman kontemporer, tauhid bukan sekadar pengakuan lisan atas keesaan Allah, melainkan sebuah paradigma eksistensial yang mengintegrasikan seluruh dimensi kehidupan manusia. Di tengah arus modernitas yang sering kali mengagungkan materialisme dan sekularisme, menjaga kemurnian tauhid menjadi tantangan intelektual sekaligus spiritual yang sangat berat. Tauhid berfungsi sebagai kompas moral yang menjaga integritas jiwa dari fragmentasi nilai yang terjadi akibat peradaban yang menjauh dari wahyu. Tanpa landasan tauhid yang kokoh, manusia modern rentan terjebak dalam penghambaan kepada entitas-entitas baru, baik itu berupa ideologi, teknologi, maupun pemuasan hawa nafsu yang tak terbatas. Oleh karena itu, mari kita bedah dasar-dasar tauhid melalui kacamata teks suci yang otoritatif.
Pondasi utama dalam memahami tauhid adalah penyerahan totalitas hidup dan mati hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Hal ini mencakup seluruh aspek ibadah, baik yang bersifat ritual (mahdhah) maupun sosial (ghairu mahdhah). Dalam konteks modern, hal ini berarti setiap tindakan profesional, sosial, dan pribadi harus memiliki orientasi ketuhanan agar tidak kehilangan makna eksistensialnya. Perhatikan firman Allah dalam Surah Al-An'am ayat 162 berikut ini:
قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
Terjemahan: Katakanlah (Muhammad): Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.
Syarah dan Tafsir: Ayat ini merupakan deklarasi tauhid uluhiyah yang paling komprehensif. Kata Nusuk dalam ayat ini, menurut para mufassir, mencakup seluruh bentuk pengurbanan dan ritual ibadah. Namun, yang paling krusial bagi manusia modern adalah frasa Mahyaya wa Mamati (hidupku dan matiku). Ini menunjukkan bahwa tauhid tidak boleh disekat hanya dalam ruang masjid atau waktu-waktu salat saja. Tauhid harus merembes ke dalam setiap hembusan napas, keputusan bisnis, interaksi sosial, hingga pandangan politik seorang mukmin. Allah adalah Rabbil 'Alamin, Penguasa semesta alam, yang berarti tidak ada satu jengkal pun dalam ruang waktu modernitas yang berada di luar otoritas-Nya. Menjaga tauhid berarti mengakui otoritas tunggal ini di tengah klaim-klaim otoritas manusiawi yang menyesatkan.
Selanjutnya, kita harus memahami bahwa esensi penciptaan manusia di muka bumi ini adalah untuk merealisasikan penghambaan yang murni. Di era di mana identitas manusia sering kali didefinisikan oleh apa yang mereka konsumsi atau posisi sosial mereka, Al-Quran mengembalikan manusia kepada fitrah aslinya sebagai hamba (abd). Kesadaran sebagai hamba inilah yang akan membebaskan manusia dari tekanan ekspektasi duniawi yang sering kali menyebabkan depresi dan kecemasan sistemik. Allah menegaskan tujuan penciptaan ini dalam Surah Adh-Dhariyat ayat 56:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
Terjemahan: Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.
Syarah dan Tafsir: Huruf Lam dalam kata Liya'budun adalah Lam al-Ghayah (tujuan). Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa makna ibadah di sini adalah ketaatan yang dibarengi dengan ketundukan dan rasa cinta yang mendalam. Dalam perspektif sosiologi agama, ayat ini memberikan kerangka kerja bagi manusia modern agar tidak terjebak dalam alienasi diri. Ketika seseorang menjadikan Allah sebagai pusat orbit kehidupannya, maka segala aktivitas duniawi bertransformasi menjadi nilai ibadah. Pekerjaan di kantor, riset ilmiah, dan pengabdian masyarakat bukan lagi sekadar mencari materi, melainkan sarana untuk mendekatkan diri (taqarrub) kepada Sang Khaliq. Inilah esensi tauhid yang memberikan ketenangan di tengah badai ketidakpastian zaman.

