Tauhid merupakan poros utama dalam seluruh konstelasi ajaran Islam yang menjadi fondasi bagi setiap amal perbuatan manusia. Di tengah arus modernitas yang sering kali mengedepankan rasionalisme sekuler dan materialisme, tantangan terhadap kemurnian akidah menjadi semakin kompleks. Tauhid bukan sekadar pengakuan lisan akan keesaan Allah, melainkan sebuah komitmen eksistensial yang menuntut integrasi antara keyakinan hati, ucapan lisan, dan implementasi dalam tindakan nyata. Menjaga Tauhid di zaman modern berarti membebaskan diri dari segala bentuk penghambaan kepada selain Allah, baik itu berupa pemujaan terhadap teknologi, kekuasaan, harta, maupun ego pribadi yang sering kali menjadi tuhan-tuhan baru dalam kehidupan kontemporer.
Keamanan hakiki bagi seorang mukmin dalam menjalani kehidupan di dunia yang penuh dengan ketidakpastian ini hanya dapat dicapai melalui pemurnian iman dari segala noda kesyirikan. Tanpa Tauhid yang bersih, manusia akan terjebak dalam kecemasan eksistensial dan kehilangan arah tujuan hidup yang sejati.
الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ
Terjemahan: Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. Al-An'am: 82).
Tafsir Mendalam: Dalam ayat ini, para sahabat Nabi Muhammad SAW sempat merasa khawatir dengan kata kezaliman, namun Rasulullah menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan kezaliman di sini adalah syirik, sebagaimana wasiat Luqman kepada anaknya. Dalam konteks kehidupan modern, pencampuran iman dengan kezaliman sering terjadi secara halus (syirik khafi). Misalnya, ketika seseorang lebih menggantungkan rasa amannya kepada saldo perbankan atau asuransi daripada perlindungan Allah, atau ketika ia lebih takut kepada opini publik daripada murka Allah. Keamanan (al-amnu) yang dijanjikan Allah dalam ayat ini mencakup ketenangan batin di dunia dan keselamatan mutlak di akhirat. Hidayah atau petunjuk yang disebut di akhir ayat menunjukkan bahwa Tauhid adalah navigasi utama agar manusia tidak tersesat di tengah rimba ideologi modern yang destruktif.
Prinsip dasar hubungan antara Pencipta dan ciptaan-Nya berpijak pada hak mutlak Allah untuk disembah secara murni. Hal ini merupakan perjanjian primordial yang harus dijaga oleh setiap individu muslim agar tetap berada dalam koridor fitrahnya.
حَقُّ اللَّهِ عَلَى الْعِبَادِ أَنْ يَعْبُدُوهُ وَلَا يُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَحَقُّ الْعِبَادِ عَلَى اللَّهِ أَنْ لَا يُعَذِّبَ مَنْ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا
Terjemahan: Hak Allah atas para hamba-Nya adalah agar mereka menyembah-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan hak para hamba atas Allah adalah bahwa Allah tidak akan mengazab orang yang tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun. (Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim).
Syarah Hadits: Hadits ini merupakan landasan teologis yang sangat kuat mengenai tujuan keberadaan manusia. Kata syai-an (sesuatu pun) dalam teks Arab tersebut berbentuk nakirah dalam konteks peniadaan (siyaq al-nafi), yang memberikan makna keumuman (al-umum). Artinya, seorang muslim dilarang menyekutukan Allah dengan apa pun, baik itu malaikat, nabi, orang saleh, apalagi benda mati atau ideologi buatan manusia. Di era digital, syirik sering kali termanifestasi dalam bentuk riya di media sosial, di mana seseorang melakukan ibadah atau kebaikan demi mendapatkan validasi dari sesama makhluk. Menjaga Tauhid berarti mengembalikan orientasi setiap gerak-gerik kehidupan hanya untuk mencari ridha Allah semata, sehingga manusia merdeka dari perbudakan ekspektasi sosial.

