Dalam konstelasi kehidupan modern yang ditandai dengan percepatan teknologi dan pergeseran paradigma nilai, eksistensi Tauhid bukan sekadar doktrin teologis statis, melainkan sebuah kekuatan dinamis yang menentukan arah peradaban manusia. Tauhid merupakan fondasi epistemologis yang memberikan makna pada setiap gerak kehidupan. Tanpa landasan Tauhid yang kokoh, manusia modern cenderung terjebak dalam labirin materialisme dan krisis identitas spiritual. Menjaga Tauhid di era ini menuntut pemahaman yang mendalam terhadap teks-teks wahyu agar esensi penghambaan hanya kepada Allah tetap terjaga dari kontaminasi syirik kontemporer yang seringkali muncul dalam bentuk pemujaan terhadap materi, jabatan, maupun ego pribadi.
Tauhid bermula dari pengakuan mutlak akan keesaan Allah dalam segala dimensi-Nya. Hal ini tercermin secara paripurna dalam firman Allah yang menjadi rujukan utama dalam memurnikan konsep ketuhanan.
قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ اَللّٰهُ الصَّمَدُۚ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْۚ وَلَمْ يَكُنْ لَّهٗ كُفُوًا اَحَدٌ
Terjemahan dan Tafsir Mendalam: Katakanlah Muhammad, Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia. Dalam kacamata mufassir, kata Al Ahad menunjukkan keesaan yang tidak terbagi, menolak segala bentuk pluralitas dalam zat-zat Tuhan. Sementara istilah Ash Shamad mengisyaratkan bahwa Allah adalah satu-satunya tumpuan akhir dari segala hajat makhluk. Di era modern, konsep Ash Shamad ini sangat krusial karena manusia seringkali menggantungkan harapan dan rasa aman mereka pada sistem ekonomi, teknologi, atau kekuatan politik, yang pada hakikatnya bersifat fana. Mengakui Allah sebagai Ash Shamad berarti memutus rantai ketergantungan semu kepada selain-Nya dan mengembalikan otoritas absolut hanya kepada Sang Pencipta.
Tantangan terbesar dalam menjaga Tauhid saat ini bukanlah penyembahan berhala dalam bentuk fisik tradisional, melainkan munculnya syirik khafi atau kesyirikan yang tersembunyi di dalam hati, terutama dalam bentuk riya dan ketergantungan batin pada sebab-sebab lahiriah secara berlebihan. Rasulullah SAW telah memberikan peringatan keras mengenai hal ini dalam sebuah hadits yang sangat fundamental bagi para penuntut ilmu akidah.
إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمْ الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ قَالُوا وَمَا الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ الرِّيَاءُ يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِذَا جُزِيَ النَّاسُ بِأَعْمَالِهِمْ اذْهَبُوا إِلَى الَّذِينَ كُنْتُمْ تُرَاءُونَ فِي الدُّنْيَا فَانْظُرُوا هَلْ تَجِدُونَ عِنْدَهُمْ جَزَاءً
Terjemahan dan Syarah Mendalam: Sesungguhnya yang paling aku takutkan menimpa kalian adalah syirik kecil. Para sahabat bertanya, Apa itu syirik kecil wahai Rasulullah? Beliau menjawab, Riya. Allah Azza wa Jalla akan berfirman kepada mereka pada hari kiamat saat manusia diberi balasan atas amal-amal mereka: Pergilah kalian kepada orang-orang yang dahulu kalian pameri di dunia, maka lihatlah apakah kalian mendapatkan balasan dari mereka? Syarah hadits ini menekankan bahwa riya adalah bentuk pengkhianatan terhadap ketulusan Tauhid. Dalam konteks modern, media sosial seringkali menjadi panggung bagi tumbuhnya riya, di mana validasi manusia menjadi tujuan utama dalam beramal. Menjaga Tauhid berarti melakukan purifikasi niat (tashfiyatun niyah) agar setiap aktivitas, baik yang bersifat ukhrawi maupun duniawi, hanya diproyeksikan untuk mencari keridhaan Allah semata, bukan untuk apresiasi makhluk yang tidak memiliki kuasa atas manfaat dan mudharat.
Keamanan batin dan hidayah yang lurus hanya dapat dicapai apabila iman seseorang bersih dari noda-noda kezaliman, yang dalam konteks ini diartikan oleh para ulama sebagai kesyirikan. Tanpa kemurnian akidah, jiwa manusia akan terus mengalami kegoncangan di tengah badai fitnah akhir zaman yang semakin kompleks.
الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ

