Tauhid merupakan poros utama yang menggerakkan seluruh sendi kehidupan seorang Muslim. Ia bukan sekadar konsep teologis yang statis, melainkan sebuah kekuatan dinamis yang menentukan orientasi eksistensial manusia di alam semesta. Di tengah gempuran ideologi sekularisme, materialisme, dan hedonisme yang menjadi ciri khas kehidupan modern, pemurnian tauhid menjadi benteng terakhir yang menjaga identitas spiritual. Kehidupan modern sering kali menawarkan tuhan-tuhan baru dalam bentuk materi, jabatan, dan popularitas yang tanpa disadari dapat mengikis esensi penghambaan manusia kepada Sang Khaliq. Oleh karena itu, memahami kembali fundamen tauhid melalui penggalian teks-teks otoritatif menjadi sebuah keniscayaan ilmiah dan spiritual.
Landasan utama dalam menjaga tauhid dimulai dari kesadaran akan penyerahan diri secara totalitas dalam setiap dimensi kehidupan, baik yang bersifat ritualistik maupun sosial-profesional. Allah SWT menegaskan prinsip integrasi tauhid ini dalam firman-Nya yang menjadi pedoman hidup setiap mukmin:
قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ لَا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ
Terjemahan dan Syarah: Katakanlah (Muhammad), Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam. Tidak ada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah). Dalam perspektif tafsir, ayat ini mengandung pesan teosentrisme yang absolut. Penggunaan kata nusuqi yang berarti sembelihan atau ibadah secara umum, disandingkan dengan mahyaya (hidupku) dan mamati (matiku), menunjukkan bahwa tauhid tidak boleh dipisahkan dari realitas keseharian. Di era modern, ayat ini menuntut setiap Muslim untuk menjadikan Allah sebagai tujuan akhir dari setiap aktivitas ekonomi, politik, dan sosialnya, sehingga tidak terjebak dalam dualisme kehidupan yang memisahkan antara agama dan dunia.
Lebih lanjut, esensi tauhid berkaitan erat dengan hak-hak Allah yang wajib ditunaikan oleh hamba-Nya. Hubungan kontraktual spiritual ini dijelaskan secara mendalam dalam tradisi hadits nabawi yang menekankan pada kemurnian peribadatan dan penafian segala bentuk kemusyrikan, baik yang nampak maupun yang tersembunyi dalam relung hati manusia modern.
يَا مُعَاذُ أَتَدْرِي مَا حَقُّ اللَّهِ عَلَى الْعِبَادِ وَمَا حَقُّ الْعِبَادِ عَلَى اللَّهِ قُلْتُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ فَإِنَّ حَقَّ اللَّهِ عَلَى الْعِبَادِ أَنْ يَعْبُدُوهُ وَلَا يُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَحَقَّ الْعِبَادِ عَلَى اللَّهِ أَنْ لَا يُعَذِّبَ مَنْ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا
Terjemahan dan Syarah: Wahai Muadz, tahukah engkau apa hak Allah atas hamba-Nya dan apa hak hamba atas Allah? Aku menjawab: Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui. Beliau bersabda: Sesungguhnya hak Allah atas hamba-Nya adalah hendaknya mereka menyembah-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan hak hamba atas Allah adalah Dia tidak akan mengazab orang yang tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Muslim ini memberikan penekanan pada frasa wa la yushriku bihi shay-an. Kata shay-an dalam kaidah bahasa Arab merupakan bentuk nakirah dalam konteks nafyu (penafian), yang memberikan makna keumuman (al-umum). Artinya, seorang Muslim dilarang menyekutukan Allah dengan apa pun, termasuk dengan ideologi modern, hawa nafsu, atau ketergantungan yang berlebihan pada sebab-sebab material yang sering kali melalaikan peran Musabbibul Asbab (Pemberi Sebab).
Dalam konteks operasionalnya, tauhid harus dimanifestasikan melalui pemahaman ibadah yang komprehensif. Ibadah bukan hanya sekadar rutinitas di tempat ibadah, melainkan mencakup seluruh spektrum aktivitas manusia yang didasari oleh kecintaan dan ketundukan kepada Allah. Para ulama akidah telah merumuskan definisi ibadah yang sangat relevan untuk membimbing manusia modern agar tetap berada dalam koridor tauhid.
الْعِبَادَةُ هِيَ اسْمٌ جَامِعٌ لِكُلِّ مَا يُحِبُّهُ اللَّهُ وَيَرْضَاهُ مِنَ الْأَقْوَالِ وَالْأَعْمَالِ الظَّاهِرَةِ وَالْبَاطِنَةِ وَهِيَ الْغَايَةُ الْمَحْبُوبَةُ لَهُ وَالْمَرْضِيَّةُ لَهُ الَّتِي خَلَقَ الْخَلْقَ لِأَجْلِهَا

