Dalam diskursus keislaman kontemporer, tantangan terbesar yang dihadapi oleh seorang mukmin bukan sekadar serangan pemikiran eksternal, melainkan pengikisan esensi ketauhidan dalam relung jiwa akibat dominasi materialisme. Modernitas dengan segala perangkat teknologinya seringkali menggiring manusia pada bentuk-bentuk syirik kontemporer yang halus, di mana ketergantungan pada sebab-sebab materi mengalahkan keyakinan pada Sang Musabbibul Asbab. Tauhid bukan sekadar pengakuan lisan akan keesaan Tuhan, melainkan sebuah komitmen ontologis yang mendasari seluruh gerak eksistensi manusia. Tanpa tauhid yang kokoh, manusia modern akan terjebak dalam krisis makna dan alienasi spiritual yang akut. Oleh karena itu, membedah kembali pilar-pilar tauhid melalui kacamata wahyu menjadi sebuah keniscayaan ilmiah dan amaliyah.

Tauhid dimulai dengan pemurnian orientasi ibadah yang hanya ditujukan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Dalam kehidupan modern yang penuh dengan distraksi, menjaga fokus hati agar tetap tertuju pada Sang Khalik adalah perjuangan yang paling mendasar. Hal ini ditegaskan dalam firman Allah yang menjadi inti dari setiap shalat kita:

Dalam Artikel

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ . اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ . صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ

Terjemahan & Tafsir Mendalam:

Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan. Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya; bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. (QS. Al-Fatihah: 5-7). Secara analitis, pendahuluan objek (Iyyaka) sebelum kata kerja (Na'budu) dalam kaidah balaghah memberikan makna al-hashr atau pembatasan. Artinya, pengabdian dan permohonan tolong secara mutlak hanya boleh diberikan kepada Allah. Dalam konteks modern, Iyyaka Na'budu menuntut kita untuk melepaskan diri dari perbudakan terhadap tren, opini publik, dan hawa nafsu yang seringkali menjadi tuhan-tuhan kecil dalam kehidupan sehari-hari. Istianah (memohon pertolongan) kepada Allah menjadi antitesis dari sifat sombong manusia modern yang merasa mampu menguasai alam semesta hanya dengan sains dan teknologi tanpa keterlibatan ilahiyah.

Selanjutnya, menjaga tauhid berarti memastikan bahwa keimanan kita tidak tercampur dengan kegelapan syirik, baik yang nyata maupun yang tersembunyi. Syirik dalam era globalisasi seringkali muncul dalam bentuk ketergantungan hati yang berlebihan pada sistem ekonomi, jabatan, atau kekuatan politik tertentu sehingga mengabaikan syariat Allah. Allah memperingatkan tentang pentingnya kebersihan iman ini:

الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ

Terjemahan & Tafsir Mendalam:

Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. Al-An'am: 82). Para mufassir, merujuk pada hadits Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam, menjelaskan bahwa kata az-zulm dalam ayat ini bermakna asy-syirk. Keamanan (al-amnu) yang dijanjikan Allah bukan sekadar keamanan fisik, melainkan keamanan psikologis dan spiritual di tengah gejolak dunia. Di era di mana gangguan kecemasan dan depresi menjadi epidemi global, tauhid menawarkan stabilitas emosional karena seorang muwahhid (orang yang bertauhid) percaya bahwa segala urusan berada di tangan Allah yang Maha Adil. Tanpa pemurnian tauhid dari noda syirik, manusia akan selalu merasa terancam oleh hilangnya fasilitas duniawi.