Kehidupan modern dengan segala kompleksitasnya seringkali menyeret manusia ke dalam pusaran materialisme yang mengaburkan hakikat penciptaan. Tauhid, sebagai inti dari risalah samawi, bukan sekadar pengakuan lisan atas keesaan Tuhan, melainkan sebuah sistem nilai yang mengatur orientasi hidup, cara pandang terhadap alam semesta, dan landasan moralitas. Di tengah gempuran ideologi sekular yang mencoba memisahkan agama dari ruang publik, menjaga kemurnian tauhid menjadi urgensi yang tidak dapat ditawar. Ketauhidan yang kokoh akan melahirkan kemerdekaan jiwa, di mana seorang hamba tidak lagi diperbudak oleh materi, jabatan, maupun opini publik, melainkan hanya tunduk pada otoritas mutlak Allah Subhanahu wa Ta’ala.
قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ اَللّٰهُ الصَّمَدُۚ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْۚ وَلَمْ يَكُنْ لَّهٗ كُفُوًا اَحَدٌ
Terjemahan: Katakanlah (Muhammad), Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah tempat meminta segala sesuatu. (Allah) tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada sesuatu yang setara dengan Dia.
Syarah dan Tafsir Mendalam: Surah Al-Ikhlas ini merupakan pondasi utama dalam memahami konsep Tauhidullah. Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat ini merupakan bantahan telak terhadap segala bentuk kemusyrikan dan antropomorfisme. Dalam konteks modern, As-Samad mengisyaratkan bahwa hanya Allah-lah tempat bergantung yang hakiki (The Ultimate Dependency). Manusia modern seringkali terjebak dalam ilusi kemandirian (self-sufficiency) karena kemajuan teknologi, namun secara ontologis, setiap atom di alam semesta tetap membutuhkan inayah-Nya. Menjaga tauhid berarti mengakui bahwa di balik hukum sebab-akibat yang kita amati secara saintifik, ada Al-Musaibbil Asbab (Pencipta Sebab) yang memegang kendali penuh.
وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ ۚ قُلْ أَفَرَأَيْتُمْ مَا تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ أَرَادَنِيَ اللَّهُ بِضُرٍّ هَلْ هُنَّ كَاشِفَاتُ ضُرِّهِ أَوْ أَرَادَنِي بِرَحْمَةٍ هَلْ هُنَّ مُمْسِكَاتُ رَحْمَتِهِ ۚ قُلْ حَسْبِيَ اللَّهُ ۖ عَلَيْهِ يَتَوَكَّلُ الْمُتَوَكِّلُونَ
Terjemahan: Dan sungguh, jika engkau bertanya kepada mereka, Siapakah yang menciptakan langit dan bumi? Niscaya mereka menjawab, Allah. Katakanlah, Kalau begitu tahukah kamu tentang apa yang kamu sembah selain Allah, jika Allah hendak mendatangkan bencana kepadaku, apakah mereka mampu menghilangkan bencana itu? Atau jika Allah hendak memberi rahmat kepadaku, apakah mereka dapat menahan rahmat-Nya? Katakanlah, Cukuplah Allah bagiku. Kepada-Nyalah bertawakal orang-orang yang berserah diri.
Syarah dan Tafsir Mendalam: Ayat dalam Surah Az-Zumar ini membedah fenomena Tauhid Rububiyyah yang tidak dibarengi dengan Tauhid Uluhiyyah. Banyak manusia modern mengakui adanya Tuhan secara deistik (Tuhan sebagai pencipta yang kemudian membiarkan alam bekerja sendiri), namun mereka mencari perlindungan dan kebahagiaan pada berhala-berhala modern seperti sistem ekonomi ribawi, kekuatan politik zhalim, atau popularitas digital. Analisis mendalam terhadap frasa Hasbiyallah menunjukkan bahwa kecukupan hanya ada pada Allah. Dalam dunia yang penuh ketidakpastian (vulnerability), tauhid berfungsi sebagai jangkar psikologis yang mencegah depresi dan kecemasan berlebih, karena seorang mukmin yakin bahwa tidak ada bahaya maupun manfaat kecuali atas izin-Nya.
ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ
Terjemahan: Ada tiga perkara yang apabila seseorang memilikinya, maka ia akan merasakan manisnya iman: (1) Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada selain keduanya, (2) Ia mencintai seseorang hanya karena Allah, (3) Ia benci untuk kembali kepada kekufuran sebagaimana ia benci untuk dilemparkan ke dalam api neraka.

