Dewasa ini, ruang publik kita sering kali berubah menjadi medan pertempuran kata-kata yang gersang akan etika. Perbedaan pendapat, yang sejatinya merupakan keniscayaan dalam kehidupan manusia, justru sering kali menjadi pemantik api perpecahan dan kebencian. Fenomena ini mencerminkan adanya krisis spiritualitas di mana ego lebih dikedepankan daripada pencarian kebenaran. Sebagai umat yang dibekali dengan tuntunan wahyu, kita seharusnya memandang keragaman pemikiran bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai rahmat yang menuntut kedewasaan bersikap.

Islam telah meletakkan fondasi yang sangat kokoh dalam mengelola perbedaan melalui prinsip dakwah dan diskusi yang santun. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam Al-Qur'an:

Dalam Artikel

ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ

Seruan ini menegaskan bahwa kebenaran tidak boleh disampaikan dengan cara yang kasar atau merendahkan martabat orang lain. Hikmah dan nasihat yang baik adalah instrumen utama, sementara perdebatan pun harus dilakukan dengan cara yang paling baik. Ketika cara yang digunakan sudah melampaui batas adab, maka nilai kebenaran yang diperjuangkan akan sirna tertutup oleh buruknya perilaku sang pembawa pesan.

Masalah utama dalam isu sosial kita saat ini adalah hilangnya pemisahan antara kritik terhadap gagasan dan serangan terhadap pribadi. Banyak orang merasa memiliki lisensi untuk menghujat hanya karena merasa berada di pihak yang benar. Padahal, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam telah memberikan peringatan keras bagi mereka yang gemar bertikai demi memuaskan nafsu kemenangannya. Beliau bersabda:

أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا

Hadis ini mengajarkan sebuah tingkat kemuliaan akhlak yang sangat tinggi, yakni menjamin rumah di pinggir surga bagi mereka yang meninggalkan perdebatan yang tidak bermanfaat meskipun ia berada di pihak yang benar. Mengalah dalam debat untuk menjaga keharmonisan bukanlah tanda kelemahan, melainkan bukti kekuatan iman dan pengendalian diri yang luar biasa.

Sejarah para imam mazhab memberikan keteladanan yang nyata tentang bagaimana menyikapi perbedaan pendapat. Imam Syafi'i pernah berujar bahwa pendapatnya benar namun mengandung kemungkinan salah, sementara pendapat orang lain salah namun mengandung kemungkinan benar. Sikap rendah hati ini lahir dari kesadaran bahwa kebenaran mutlak hanya milik Allah, sementara pemahaman manusia bersifat nisbi. Jika para ulama besar saja bisa saling menghormati di tengah perbedaan ijtihad yang tajam, lantas apa alasan bagi kita untuk saling mencaci hanya karena perbedaan preferensi atau pandangan sosial?

Kekerasan verbal yang marak di media sosial adalah cerminan dari hati yang keras. Akhlakul Karimah menuntut kita untuk selalu menyaring setiap kata yang keluar dari lisan maupun jemari kita. Al-Qur'an kembali mengingatkan dalam Surah Al-Isra ayat 53: